Jumat, 08 Januari 2016

Dzikir

Assalamu'Alaikum wr.wb

Dzikir dalam menyebut asma Allah termasuk ibadah makhdhoh yaitu 
ibadah langsung kepada Allah SWT. 
Sebagai ibadah langsung, 
maka terikat dengan norma-norma ibadah langsung kepada Allah SWT, 
yaitu mesti ma’sur ada contoh atau ada perintah dari Rasulullah SWT. 
atau ada izin dari beliau. 
Artinya jenis dzikir ini tidak boleh dikarang oleh seseorang. 

Dzikir hanyalah mengingat atau menyebut asma Allah, 
atau nama-nama Allah atau kalamullah, Al-Qur’an.
Petunjuk Al-Qur’an dan Hadis perihal kegiatan dzikir cukup banyak, 
antara lain dapat disebutkan :

Firman Allah : Ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu.
(S. Al-Baqarah (2) : 152)

41. Hai orang-orang yang beriman, 
berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, 
zikir yang sebanyak-banyaknya.
(S. Al-Ahzab (33) : 41).

191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah 
sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring 
dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): 
“Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, 
Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.

(Q.S. Ali-Imran : 191).

205. dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu 
dengan merendahkan diri dan rasa takut, 
dan dengan tidak mengeraskan suara, 
di waktu pagi dan petang, 
dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang lalai.
(S. Al-A’rof (7) : 205).

28. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram 
dengan mengingat Allah. 
Ingatlah, 
hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
(S. Ar-Ra’du (13) : 28).

Hadis-hadis Nabi :
Telah berfirman Allah SWT. (dalam suatu hadis Qudsi) : 
Aku bersama-sama hamba-Ku 
selama ini mengingat Aku dan bibirnya bergerak menyebut nama-Ku. 
(HR. Al Baihaqy dan Ibnu Hiban).

Tak seorangpun manusia mengerjakan suatu perbuatan 
yang dapat menjauhkan dari azab Allah SWT. lebih baik dari pada dzikir. 

Para sahabat bertanya tidak pula jihad fi sabilillah, 
kecuali apabila engkau menghantam musuh dengan pedangmu itu 
sehingga ia patah, kemudian engkau menghantam lagi dengan pedangmu 
sehingga ia patah, kemudian menghantam lagi dengan pedangmu 
sehingga ia patah. (HR. Ibn Abi Syaibah dalam Al Musshanaf).

Rasulullah SAW. pernah ditanya : 
Amalan apa yang paling afdol ? 
Jawab beliau :
 Engkau mati dalam keadaan lidahmu basah 
karena berdzikir kepada Allah (HR. Ibnu Hiban & Athabrani).

Nabi SAW. telah bersabda : 
Allah SWT. berfirman dalam suatu hadis qudsy : 
Barang siapa disibukkan dzikir kepada-Ku, 
sedemikian sehingga tidak sempat memohon sesuatu dari-Ku, 
maka Aku akan memberinya yang terbaik 
dari apa saja yang Ku berikan kepada para pemohon (HR. Bukhori).

SEDIKIT ILMU ALA KADARNya

Perlu disampaikan secara garis besar bahwa 
praktek dzikir dalam dunia thoriqoh, 
pelaksanaannya bisa berbeda-beda dalam tehnisnya 
tergantung ciri dan kepribadian thoriqoh itu sendiri sesuai petunjuk Mursyid nya.

Ulama Thoriqoh membaca jenis dzikir menjadi tiga jenjang :

a. Dzikir lisan : Laa ilaaha Illalah. 
Mula-mula pelan kemudian bisa naik menjadi cepat 
setelah merasa meresap dalam diri.

b. Dzikir qalbu (hati) : Allah, Allah.
Mula-mula mulutnya berdzikir diikuti oleh hati, 
kemudian dari hati ke mulut, 
lalu lidah berdzikir sendiri, 
dengan dzikir tanpa sadar, 
akal pikiran tidak jalan lagi, 
melainkan terjadi sebagai Ilham 
yang menjelma Nur Ilahi dalam hati memberitahukan : 
Innany Anal Laahu, yang naik ke mulut mengucapkan Allah, Allah.

c. Dzikir Sir atau Rahasia : Hu Hu. 
Biasanya sebelum sampai ke tingkat dzikir orang itu sudah fana lebih dahulu. 
Dalam situasi yang demikian perasaan antara diri dengan Dia menjadi satu. 

Man lam jazuk Lam ya’rif : 
Barang siapa belum merasakan, maka is belum mengetahui.

Adapun juga ulama ahl-Thariqoh yang membagi jenis dzikir menjadi empat macam : 

Dzikir Qolbiyah, Dzikir Aqliyah, Dzikir Lisan dan Dzikir Amaliyah.

Semua tehnis berdzikir itu baik semua. 
Pada akhirnya terpulang kepada kemampuan kita masing-masing 
untuk melaksanakan dzikir itu sesuai dengan pilihan Thoriqoh 
dan petunjuk Mursyid yang bersangkutan 
selaku murid hanya bisa taat dengan petunjuk gurunya.

Demikian uraian singkat kami dalam menyajikan Thoriqoh 
sebagai jalan- menuju khusnul khatimah, 
yang semoga merupakan ikhtiar seorang hamba 
menjadi idaman bagi setiap muslim diakhir hayatnya. 

Mudah-mudahan ada manfaatnya. 
Dan Allah SWT, selalu membimbing dan memberi hidayah kepada kita semua. Amin.

Wa min Allah at taufiq hidayah wal inayah, wa bi hurmati Habib wa bi hurmati fatihah!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar