Sabtu, 12 Desember 2015

DI BALIK SENYUM AYAH

Aku mengenal lelaki dari ayahku, pria berhati mulia. Segala sesuatu ia katakan dengan pikiran, memutuskan persoalan juga dengan pertimbangan, sepertinya, pikiran seorang lelaki adalah duta dari segenap perasaan yang melandanya. Bahkan karena akalnya yang selalu bicara, aku jarang menemukan lelaki menangis, karena air mata terlalu mahal untuk diteteskan kecuali saat- saat mendesak saja.
"Ayah tak pernah menangis?" aku beranikan diri bertanya, mencoba menebak-nebak apa yang ada dipikirannya sekarang. Ia tersenyum padaku, seolah suatu isyarat tak ada jawaban yang bisa kudapatkan.
"Kenapa, yah? Ayah malu mengakui tentang kelemahan, menurut ayah laki-laki tak pantas menangis, hanya menunjukkan kerapuhan jiwa dan akan jadi bahan tertawaan. Cuma perempuan yang akrab dengan tangis. Kenapa begitu? Apakah ada perbedaan dan mungkinkah itu sebuah keharusan?" kembali aku mendesak, tapi aku kembali gagal, wajah kerasnya yang menyimpan mesteri hidup, semakin memacu daya ingin tahuku.
-----------
Lima tahun aku lewati waktu bersamanya, setelah berpisah dengan ibu. Wanita priyayi yang begitu anggun tapi tak cukup tabah dengan beban hidup yang diterima. Ibu pergi pada keluarga besarnya, setelah ayah tak mampu memenuhi kebutuhannya dengan limpahan materi dan kesenangan lainnya.
"Jika berpisah itu jauh memberikan kepuasan bagimu, pergilah! dan ingat, begitu kau sudah ke luar dari kehidupan kita, jangan pernah kau kembali lagi." Suara ayah terdengar gemetar waktu itu, aku hanya bisa melihat dari balik pintu, sebuah perdebatan yang tak jelas kebenarannya, juga tak pernah bisa kupahami.
---------------
"Karin, tak ada yang salah dengan akal dan pikiran, juga tangis dan kesedihan. Keduanya adalah mata rantai yang saling bertautan. Tuhan begitu arif menempatkan keduanya sebab segalanya akan kembali pada perasaan. Jika suatu ketika, kau dilanda kedukaan, Tuhan sudah memberikan akal agar kau bebas dari keputusasaan. Maka, kau akan bangkit dan tangisanmu kau anggap kesia-siaan. Begitu juga sebaliknya, bila kau larut dalam kebahagiaan, saat pikiranmu terkalahkan oleh keadaan, maka gunakan perasaan sebagai penunjuk arah yang menenangkan dan penentu keputusan." Begitu tenang ia berujar, menjawab teka-teka yang selam ini cukup membingungkan. Rupanya, dalam diamnya selama ini ayah begitu kuat menyembunyikan perasaannya.
"Satu lagi, Karin. Tangis itu tak harus diwujudkan dengan air mata, adakalanya merenung untuk sebuah sesal itu lebih mendewasakan dan lebih menjadikan kita sabar dan tawakkal." Imbuhnya semakin membuatku takjub.
"Adakah Ayah juga merasa kehilangan atas kepergian ibu?" aku mencoba mengingatkannya tentang ibu. Aku sangat rindu padanya, alangkah senangnya jika ayah menyambut baik keinginanku.
"Setiap orang pasti rasakan itu, cuma ayah tak boleh egois, sekuat apa pun ayah menahan kepergian ibumu, dia punya hak atas hidupnya. Saat ia memutuskan untuk meninggalkan kita, saat itu aku tahu, aku sudah tak berhak atas dirinya. Kendati jiwa kami terikat dengan pertalian, tapi batin ibumu akan tersiksa dengan ketidaksempurnaan yang tak mampu ayah wujudkan. Kau paham maksud ayah, Nak,?" suara ayah seperti berbisik, aku merasakan keheningan yang begitu dalam. Di balik senyum ramahnya ada falsafah hidup yang mengajarkan tentang keikhlasan. Trimakasih, ayah. 
Semoga aku mampu menjadi pribadi yang ayah harapkan.
Madura, 12122015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar