Sabtu, 12 Desember 2015

MEREGUK SARI TASAWUF

KEBAIKAN DAN TINDAKAN MANUSIA .

Untuk melakukan kehendak-Nya ,
Untuk mentaati aturan Ilahi.

Ada dua pintu gerbang utama menuju Taman Kebenaran;
pengetahuan dan cinta, walaupun tentunya Pengampunan Allah
tidak mengenal batas dan cara kerja persisnya di tengah manusia 
berada diluar jangkauan pemahaman kita.
Dengan mengenyampingkan kasus-kasus luar biasa dari orang-orang 
yang ditarik ke dalam Taman itu melalui Rahmat Allah secara khusus,
pintu-pintu itu tetaplah pengetahuan dan cinta.

Jalan menuju pintu-pintu itu dibentuk oleh tindakan manusia.
Mengada sebagai manusia berarti bertindak , 
dan bagaimana kita bertindak dalam hidup ini 
- apakah kita melakukan amal baik atau buruk -
mempengaruhi jiwa kita dan kemampuannya 
untuk mencintai dan mengenal Allah.

Oleh karena itu , 
tidak ada jalan ruhani yang dapat mengabaikan tataran perbuatan,
dan Tasawuf bukan pengecualian .
Orang-orang yang berdiam di dalam Taman Kebenaran 
mengetahui dan mencintai Allah , tetapi 
mereka juga hidup dengan kebajikan dan bertindak dalam kebaikan,
yang tentunya merupakan kualitas dasar yang efek-efeknya 
tidak terbatas pada tataran tindakan.
Jika tidak demikian, tindakan tidak akan relevan.

Kebaikan dalam tindakan karenanya merupakan komponen penting 
dalam kesempurnaan yang kita cari dan melengkapi atribut keindahan ,
cinta, dan pengetahuan tentang Kebenaran 
yang mencirikan orang-orang yang tinggal di dalam Taman Kebenaran ;
juga mencirikan Taman itu serta tentu saja akhirnya sang Tukang Kebun.

Orang Hindu berbicara tentang tiga yoga ,
tindakan, cinta, dan pengetahuan , atau yoga karma, bhakti, dan joana,
seperti dibahas dalam Bhagavad Gita, yang dari antaranya 
hanya dua yang dapat mengantarkan kepada keselamatan kekal 
dan kebebasan dari belenggu keterbatasan.

Demikian juga, kaum Sufi berbicara tentang 
takut akan Allah, al-makhafah,
cinta kepada Dia, al-mahabbah, dan 
pengetahuan mengenai-Nya, al-makrifah.

Akan tetapi ,ada perbedaan antara doktrin eskatologis Hidu dan Islam
tentang masalah ini.
Dalam Islam begitu seseorang mencapai Surga, meskipun itu 
didasarkan pada tindakan bajik yang berakar dalam iman ,
bukan pengetahuan dan cinta Allah, 
orang tidak jatuh dari keadaan surgawi, 
seperti yang terjadi dalam agama Hindu, dimana jika seseorang
hanya mengikuti jalan tindakan atau karma yoga , begitu karmanya habis
di alam berikutnya , dia kembali terjatuh ke dalam tingkatan maya 
yang lebih rendah yang terkait dengan siklus kelahiran dan kematian.
Singkatnya,
takut akan Allah , berbeda dengan takut akan makhluk-Nya ,
berarti mencintai-Nya dan bergerak ke arah-Nya , dan 
mencintai-Nya berarti mengenal-Nya 
sejauh menyangkut sudut pandang Sufi.

Itulah mengapa sebuah hadis menyatakan,
"Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan", 
menggunakan ucapan yang terkenal dari Paulus.
Takut akan Allah berkaitan dengan level tindakan dan 
mengerahkan kehendak sang murid 
untuk menjauhi perbuatan buruk ,
yang memiliki efek negatif pada jiwa, 
serta mengarah kepada kebaikan dan kebajikan.

#SHN.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar