Sabtu, 12 Desember 2015

NOVEL SYEKH SITI JENAR.

Keterlepasan nafs-nafs yang dialami Abdul Jalil rupanya telah menjadikan 
citra keakuannya meluas ibarat Samudera Kehidupan (Bahr al-Hayy) 
yang membentang tanpa pantai, 
di mana Samudera Kehidupan itu memuat Samudera Keagungan (Bahr al-‘izzah) yang suci, yakni Samudera Keagungan yang memuat Ruh al-Haqq, Ruh Suci, 
yang ditiupkan (nafkh) Allah ke dalam diri Adam. 
Samudera Keagungan itulah lambang kesucian hati manusia sempurna (insan kamil) 
yang tanpa batas yang mampu memuat Ruh al-Haqq. 
Dan, di tengah keluasan Samudera Keagungan itu tersembunyi 
rahasia Keberadaan Rumah Suci (Baitul Haram) yang menjadi persemayaman al-Haqq, yaitu Rumah Suci yang menjadi kiblat Kesatuan dari kesatuan (jam’ al-jam’).
.
Pandangan mata lahirnya (bashar) 
yang selama ini sudah menjadi pandangan seorang ahli ma’rifat (bashar al-‘arif) 
yang bisa digunakannya memandang segala sesuatu yang terpampang di hadapannya, 
tiba-tiba berubah menjadi Pandangan Ilahi (Bashar al-Haqq) 
yang tidak memiliki batas-batas penyekat atau nisbi penglihatan. 
Ia merasakan penglihatan bashirah-nya berkembang meluas. 
Meluas. 
Meluas terus hingga mencapai setiap sudut dunia, terus ke bulan, planet-planet, 
matahari, gemintang, galaksi-galaksi, dan alam perwujudan semesta. 

Demikianlah, ketika ia ingin melihat sesuatu di salah satu sudut dunia maka ia seperti orang yang melihat sekuntum bunga dari satu sisi sesuai keinginannya, dan jika diinginkan, ia dapat melihat hingga ke bagian pedalaman bunga tersebut.
.
Bukan hanya penglihatan bashirah Abdul Jalil saja yang meluas, 
bahkan pendengaran batin (sam’) yang selama ini terbatas 
pada penembusan obyek-obyek yang tertangkap pendengaran indriawinya, 
tiba-tiba berkembang menjadi lebih luas seolah telinga batinnya 
menjadi telinga raksasa yang dapat mendengar suara semut 
sampai suara makhluk-makhluk angkasa yang berjarak sangat jauh dari bumi. 
Dengan penglihatan dan pendengaran batin yang tak terhalang 
sekat-sekat nafs itulah ia merasakan pandangan bashirah-nya sangat menakjubkan, 
laksana kesadaran rajawali putih, Sang Pinakatunggal, 
yang mengembara di angkasa mengitari jagad Kehidupan. 
Ia sadar bahwa sesuatu di dalam dirinya memang sudah sangat berubah, 
hingga ia sendiri nyaris tak mengenal dirinya sendiri.
.
‪#‎Kutipan‬ Novel Syaikh Siti Jenar, Karya: Agus Sunyoto (Buku 7, Episode 21).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar