Kamis, 07 Januari 2016

Ajaran Tasawuf Syekh Muhammad Nafis Al Banjari

Ajaran Tasawuf Syekh Muhammad Nafis Al Banjari
salimberau / Oktober 29, 2008

Ajaran tasawuf Syekh Muhammad Nafis al-Banjari (selanjutnya disebut Muhammad Nafis), dalam karya tulisanya Ad-Durun nafis, 
menimbulkan pendapat yang pro dan kontra di kalangan masyarakat muslim. 
Sehingga ajaran tasawuf itu sangat menarik kita ketengahkan dalam tulisan ini.

Berdasarkan pengakuan Muhammad Nafis sendiri, 
sebagaimana tersurat dalam karya tulisnya Ad-Durrum Nafis, 
dia menyatakan bahwa dalam bidang tasawuf dia adalah pengikut Junaid al-Baghdadi. 

Diketahui bahwa Junaid al-Baghdadi adalah salah seorang tokoh sufi 
penganut aliran tasawuf Sunni, 
maka dengan demikian bisa diketahu bahwa Muhammad Nafis 
mengaku sebagai penganut aliran Tasawuf Sunni. 

Namun, jika diamati dari literatur (kitab) yang ia gunakan menulis karya tulisnya tersebut, dapat diketahui bahwa ajaran tasawufnya adalah memadukan antara lairan tasawuf Sunni dengan aliran tasawuf filosofis, 
karena dari literatur )kitab) yang ia gunakan tersebut ada yang beraliran tasawuf Sunni, seperti kitab-kitab yang ditulis oleh Imam al-Ghazali dan al-Qusyairi, 
dan ada pula yang beraliran tasawuf filosofis, 
seperti kitab-kitab yang ditulis oleh Ibn’Arabi dan al-Jili.

Ajaran tasawuf Muhammad Nafis tentang Tuhan, 
nampaknya sama dengan Junaid al-Baghdadi dan al-Ghazali, 
bahwa manusia tidak mungkin memperoleh ma’rifat penuh tentang Allah 
karena manusia bersifat finit (terbatas), sedangkan Allah bersifat infinit (tidak terbatas). 

Muhammad Nafis sama pendapatnya dengan Al-ghazali dan Ibn’arabi bahwa 
kunhi (hakikat) wujud Allah itu tidak bisa diketahui 
melalui akal dan panca indra dan dugaan. 

Kita hanya wajib mengetahui bahwa Allah itu ada, Esa dan Uluhiyah-Nya, 
tanpa pengetahuan tentang hakikatnya, 
karena hakikat dzat Tuhan itu mungkin dikenal oleh siapapun.


Muhammad Nafis dalam hubungan ini mengatakan, 
bahwa Allah untuk dapat dikenal oleh makhluk-Nya, 
maka Allah ber-tajalli (menampilkan) diri-Nya didalam Nur Muhammad 
yang merupakan asal kejadian. 

Proses penampilan Tuhan ini menghasilkan fenomena sebagai manifestasi 
dan dzat Allah itu sendiri, 
maka yang sebenar-benarnya ada hanyalah wujud itu Tuhan itu sendiri, 
sedangkan selain Dia (Allah) adalah ilusi atau hayal semata 
apabila dibandingkan dengan wujud Allah. 

Mengenai penampilan diri Tuhan ini, nampaknya Muhammad Nafis, 
sama dengan teori Wahdatul wujud Ibn’Arabi dan Al-Jili.


Konsep muhammad Nafis tentang Tuhan, yaitu “yang ada hanya Allah”, 
dia mengatakan bahwa dzat Tuhan meliputi sifat, asma’ (nama-nama), dan Afal-Nya, karenanya, hubungan masing-masing sangatlah erat. 

Walaupun dzat, sifat, nama-nama (asma’), dan perbuatan (Af’al) tadi 
bisa dibedakan satu sama lain menurut pengertiannya, 
namun, semuanya merupakan kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, 
masing-masing saling berhubungan. 

Adanya dzat 
sekaligus menunjukkan adanya sifat, nama-nama (asma), dan perbuatan (af’al). 

Masalah ini menjadi inti dari ajaran muhammad Nafis mengenai tauhid (pengesaan) 
dalam memandang sifat, nama-nama (asma), perbuatan (af’al), dan dzat Allah Ta’ala sebagai proses upaya mendekatkan diri kepada Allah.


Mengenai sifat Tuhan, 
Muhammad nafis mengatakan bahwa sifat itu adalah diri yang disifati, 
dan ia bukan merupakan tambahan pada dzat, 
dan bukan pula sesuatu yang melekat pada dzat. 

Dengan demikian, menurut dia, 
bahwa ALlah 
Mahakuasa dengan dzatNya, 
maha mendengar dengan dzatnya, 
Maha melihat dengan dzatnya, dan 
maha berkata-kata dengan dzatnya, 
bukan dengan selain dzatnya.


muhammad Nafis tidak mengakui adanya sifat ma’ani, 
seperti al-hayat, al-ilm, al-qudrat, al-iradat, al-asma, al-bashr, 
dan sebagainya itu sebagai sifat Allah. 

Menurut dia, yang demikian itu bukanlah sifat-sifat Allah 
tetapi hanya asma (nama-nama) Allah semata-mata 

Al-Quran menyebutkan sebagai asma (nama-nama) Allah. 
Lebih jauh ia menegaskan, 
bahwa jika Allah itu bersifat berarti Allah itu tidak dikenal, 
sebab sesuatu yang disifatkan itu adalah tidak dikenal, 
padahal Allah itu lebih dikenal dari segala yang dikenal. 

Allah tidak memerlukan sifat untuk dikenal diri-Nya. 
Allah tidak bersifat dalam pengertian seperti itu. 
Kalau Allah dikatakan bersifat (memerlukan sifat) 
untuk mengenalkan dirinya kepada makhluknya, 
maka itu berarti mereduksi (mengurangi) ke Mahakuasaan Allah. 
Dalam hal ini nampaknya Muhammad Nafis ingin memelihara transendensi Allah.


Ajaran tasawuf Muhammad Nafis tetang sifat Tuhan tadi, 
nampaknya sama dengan pandangan aliran Mu’tazilah yang menafik sifat Allah. 
Tetapi, 
justru dia melontakan kritiknya terhadap aliran Mu’tazilah. 

Menurut dia walaupun pandangan aliran Mu’tazilah mengatakan bahwa 
sifat tidak lain adalah dzat Allah sendiri, dan tidak menambah keberadaan dzat Allah, namun, menurutnya, 
pandangan aliran Mu’tazilah itu adalah bidah dan fasik, 
karena tidak wajar pandangan seperti itu diberikan kepada Allah Yang Mahatinggi.


Ajaran Muhammad Nafis tetang sifat dan asma’ (nama-nama), 
terlihat adanya kemiripan dengan pandapat Ibn’Arabi. 

Bagi Ibn’Arabi, asma’ (nama-nama) Tuhan itu adalah esensinya dalam suatu aspek 
atau aspek lain yang tidak terbatas ; 
ia adalah suatu “bentuk” terbatas dan pasti esensi Tuhan. 
Adapun sifat itu tidak lain adalah nama Tuhan 
yang dimanifestasikan di dalam dunia ekternal ini.


Sebagaimana Muhammad Nafis 
yang hanya mengakui keberadaan asma’ (nama-nama) Tuhan, 
tidak mengakui keberadaan sifat-sifatnya, 
Ibn’Arabi juga meyakini bahwa sifat-sifat tersebut 
tidak mempunyai eksestensi dan wujud entitas didalam esensi Tuhan, 
sifat-sifat tersebut haruslah dipahami bahwa itu 
hanya metafor (semu) saja, 
bukan dalam pengertian sebagai tambahan atas esensi.


Tentang penciptaan, aliran Ahlus Sunnah, termasuk al-Ghazali menyatakan bahwa 
Tuhan menciptakan alam langsung dari tidak ada, 
Al-Farabi dan Ibn Sina alam diciptakan dengan cara emansi (pelimpahan). 

Sedangkan menurut Ibn Arabi alam ini ada melalui proses tajalliyat. 
Teori Ibn arabi ini mempengaruhi Al-Jili. 
kemudian teori ini dikembangkan oleh seorang sufi dari gujarat, Muhammad Ibn Fadullah 

ia kembangkan tori tajalli itu menjadi tujuh tahapan 
yang dikenal dengan istilah martabat tujuh. 
Berikutnya teori ini mempengaruhi dua tokoh sufi di Aceh, 
Hamzah Fansyuri dan Syamsuddin Pasai. 
Ajaran ini nampak sekali menunjukkan ajaran tasawuf wahdatul wujud.


Muhammad Nafis tentang penciptaan ini nampak sekali dia terpengaruh 
oleh teori martabat tujuh tersebut. 
Hal ini tergambar pada pendapatnya yang menyatakan bahwa 
penampilan dzat itu melalui tujuh martabat dari hadrat al-Sarij, yaitu 
hadrat dzat semata-mata. 

Menurut dia, 
penampilan dzat ialah dzat-Nya menjelma turun berjenjang 
yang disebutnya dengan martabat tajalli dan tanzil. 

Dalam teori ini nampaknya dia memandang segala ciptaan itu adalah 
bayangan diri yang maha Mutlak (Allah), 
jadi benar-benar wujud hanya satu, yaitu Allah semata.


Menurut Muhammad nafis, 
Nur Muhammad itu adalah awal dari segala kejadian. 
Kalau dibandingkan dengan teori kejadian dikalangan filosof Islam, 
seperti Al-Farabi dan Ibn Sina yang menyatakan bahwa 
awal kejadian adalah akal pertama, 
maka jelas sekali persamaan kedua teori ini dalam prinsif.
 Namun, dari sisi fungsinya jauh berbeda.


Ajaran tasawuf Muhammad Nafis tentang manusia atau yang lebih dikenal dengan istilah al-Insanul Kamil, nampaknya dipengaruhi oleh pemikiran tasawuf ibn arabi dan Al-Jilli. Mereka mengaitkan ajarannya tentang manusia dengan ajaran tentang Tuhan dan penciptaan.


Manusia menurut dia adalah mikrokosmus 
karena padanya tercermin dengan sempurna segala nama-nama ketuhanan 
dan hakikat-hakikat yang lahir pada alam raya. 

Manusia disebut Al-Insanul Kamil, 
karena manusia yang hanya mampu mengaktualisasikan atribut-atribut Tuhan 
secara sempurna. 
Dan Al-Insanul Kamil menurut mereka adalah 
orang-orang yang mampu mencapai peringkat ma’rifat, 
sehingga terhimpun pada dirinya sifat jalal (kemuliaan) dan sifat jamal (keindahan).


Menurut Muhammad Nafis, 
bagi seseorang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah, 
dia harus berpandangan bahwa alam semesta ini fana’, 
dan hakikatnya tidak ada, yang ada hanya wujud Allah. 

Wujud Allah meliputi segala sesuatu. 
Allah tidak ada persamaannya dengan sesuatu. 
Tidak ada maujud pada hakikatnya hanya Allah. 
Fana’ segala perbuatan hamba pada perbuatan Allah, 
fana’ segala nama hamba pada nama Allah, 
fana’ pula segala sifat-sifat hamba pada sifat Allah, 
dan akhirnya 
fana’ segala dzat hamba pada dzat Allah. 

Segala apapun yang ada pada makhluk ini fana’ dan (dugaan) semata. 
Apabila dia melakukan pandangan seperti ini, 
pada saatnya dia akan merasa fana’ dalam lautan ahadiyah wujud Allah, 
yang tidak ada tandingannya. 

Pada saat itu tidak terlihat olehnya amal dirinya, 
tidak dirasakannya bahwa dirinya sendiri yang dapat mencapai peringkat ini, 
tidak pula diketahuinya wujud mutlak. 

Perasaannya berkelana tanpa disadarinya 
karena hanyut bersama Nur Ilahi yang dipandangnya.

Untuk mendekatkan diri kepada Allah, 
menurut Muhammad Nafis, 
seseorang harus melalui beberapa peringkat sebagai berikut :


Pada peringkat pertama dia harus berpandangan tawhidul afal, yaitu 
memandang bahwa perbuatan hakiki hanya perbuatan Allah, 
sedangkan perbuatan makhluk adalah 
semu yang sirna di dalam perbuatan Allah yang hakiki, 
bagaimana sirnanya cahaya lampu didalam sinar matahari yang terang benderang.

Pandangan Muhammad Nafis tentang perbuatan ini sama dengan pendapat Ibn’Arabi.


Pada peringkat ini, 
seseorang sufi sudah mampu memfanakan perbuatannya 
didalam perbuatan Allah yang maha hebat. 
Dengan dicapainya peringkat tawhidul af’al ini, 
sufi akan memperoleh hasil/buah dari perjuangannya 
dalam upaya mendekati tujuan yang didambakannya.


Peringkat kedua untuk mendekatkan diri kepada Allah 
menurut Muhammad nafis adalah 
orang mampu berpandangan bahwa wujud yang hakiki hanya wujud Allah, 
maka sebagai konsekuensi logisnya, 
maka hakikat namapun hanya nama Allah, 
karena semua nama di alam semesta ini adalah perwujudan dari nama Allah. 

Cara pandang pada peringkat tawhidul asma’ ini adalah 
memandang semua nama yang banyak ini 
pada hakikatnya hanya satu wujud dalam esensi Allah. 
dan diri Allah adalah manifestasi dari seluruh nama makhluk ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar