Sabtu, 12 Desember 2015

MEREGUK SARI TASAWUF

AMAL BAIK DAN BURUK.

Pada bab kedua, tentang kebenaran, 
kita membicarakan doktrin metafisik tentang hakikat kejahatan,
yang menyatakan bahwa kejahatan adalah 
akibat keterpisahan dari Prinsip Ilahi. yang merupakan kebaikan mutlak,
dan bahwa keterpisahan adalah penyebab 
dari apa yang tampak pada tataran manusia sebagai kejahatan.

Sebagian Sufi, 
yang telah memantapkan pandangan mereka pada Allah
yang Mahabaik dan kebaikan absolut Allah, 
bahkan telah menyangkal realitas kejahatan .
Tetapi, seperti yang telah disebutkan , 
pada tataran relatif tempat kita hidup , kejahatan itu nyata;
sama nyatanya seperti kita dalam level eksistensi kita yang relatif.

Sesungguhnya menyangkal kekuatan jahat di dalam dan di luar diri
akan menjadi malapetaka bagi jiwa di jalan menuju Taman Kebenaran
sebelum ia melampaui sepenuhnya ranah dualitas dan oposisi,
sebelum ia mencapai Kebaikan absolut 
yang dari sana orang bisa menolak kenyataan kejahatan 
karena kini dia telah berada di luar  domain kenisbian , 
tempat kejahatan berada.

Seperti dikatakan oleh Rumi, 
yang menyusun banyak syair tentang kebaikan dan kejahatan,

"Tidak ada kejahatan absolut di dunia;
  kejahatan itu nisbi .
  Kenalilah kenyataan ini".

Kita dapat memiliki hidup yang kontemplatif dan aktif sekaligus .
Kita bisa merenungkan yang Mahabaik di luar jangkauan semua kejahatan,
tetapi ketika kita berbuat di dunia dan membatasi diri kita 
pada dunia perbuatan lahiriah , 
yang sebenarnya membentuk sebagian besar kehidupan sehari-hari kita,
kita menghadapi kenyataan adanya yang baik dan yang jahat,
yang muncul kepada kepada kita sebagai hal-hal mutlak  
dan hal-hal bertentangan yang tak dapat direduksi.
Misalnya, jika kita bertindak untuk menyelamatkan manusia , 
itu dianggap sebagai perbuatan baik , sedangkan jika kita bertindak
untuk membunuh atau menghilangkan nyawa manusia , 
itu dianggap sebagai kejahatan, dan 
kedua jenis tindakan itu saling berlawanan.
Oposisi antara yang baik dan jahat inilah yang menjadi dasar moralitas.

Jiwa memiliki beberapa fakultas dan dimensi .
Di ranah pengetahuan dan cinta , 
dikotomi baik dan buruk dapat ditransendensi .
Tetapi, 
dibagian dari jiwa kita yang terikat pada dan berkenaan dengan 
dunia tindakan , baik dan buruk tetap merupakan hal berlawanan 
yang tak dapat direduksi  dan mutlak pada tingkatannya sendiri.
Itulah mengapa para ulama dan  bahkan beberapa dari mereka 
yang menentang etika agama berbicara tentang  kemutlakan moral.

Sementara kaum Sufi ,
memahami klaim moralitas pada kemutlakan di tingkatan ini , 
mereka berusaha untuk keluar sama sekali dari ranah tindakan  lahiriah 
dan mencapai Kebaikan mutlak 
melalui cinta dan pengetahuan tentang Ilahi, 
yang melampaui oposisi yang baik dan buruk serta melihat kenisbian 
dari apa yang kita sebut keburukan dalam kaitannya dengan 
yang Baik secara mutlak dan yang Nyata secara mutlak.

Disanalah  letak etika Sufi, 
yang merupakan etika ruhaniah , berbeda dengan moralitas agama biasa,
sementara pada saat yang bersamaan kaum Sufi 
melekatkan arti sangat penting bagi moralitas pada tingkatannya sendiri.

Orang-orang yang kontemplatif pada umumnya, 
entah itu Sufi atau lainnya, menyadari kenisbian semua yang relatif ,
termasuk yang jahat , 
dan melihat kejahatan sebagai tidak adanya kebaikan.

Tanpa menyangkal kejahatan pada tingkatannya sendiri , 
mereka berusaha melampaui dualisme secara keseluruhan 
melalui pengetahuan dan cinta.
Namun, mereka ingat bahwa meskipun mereka melampaui dualisme 
baik dan buruk , mereka tidak akan menafikan arti penting moralitas 
pada tingkatannya sendiri saat mereka mencapai sebuah realitas 
bahkan ketika mereka ingat bahwa meskipun mereka mencapai 
sebuah realitas bahkan ketika mereka berada pada domain relatif 
yang dalam dirinya sendiri Serba Baik.

Tidak ada persamaan ontologis sama sekali 
antara yang baik dan yang buruk.
Yang disebut terakhir ini seperti bayangan bagi yang disebut pertama,
yang merupakan bentuk keberadaan yang memiliki kenyataan.

Masalahnya adalah bahwa bagi mereka ,
orang-orang yang terperangkap dalam bayangan eksistensi duniawi , 
bayangan itu sama nyatanya dengan diri mereka sendiri , 
dan karena itu  mereka sulit untuk memahami 
apa bayangan itu sebenarnya .

Satu-satunya harapan untuk orang seperti itu adalah 
bertindak sesuai dengan yang baik , artinya 
melakukan tindakan yang benar dan amal kebaikan 
agar dapat meninggalkan dunia kegelapan menuju dunia yang benderang
dan yang relatif menuju yang Mutlak.
Mereka tentunya juga dapat berbalik ke jalan pengetahuan dan cinta,
tetapi jalan ini juga memerlukan tindakan kebaikan bukannya kejahatan
dari pihak orang-orang yang bercita-cita untuk menempuhnya.

#HSN.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar