Sabtu, 12 Desember 2015

Wujud sempurna manusia yang menjadi rahasia Ilahi itu 
terdiri atas tiga bagian utama, yakni al-basyar, an-nafs, dan ar-ruh. 

Al-basyar adalah wujud manusia yang terdiri atas gumpalan daging. 
Allah mencipta al-basyar dari tanah lempung kering (shalshalin/adamah) 
yang adonannya “diolah dengan kedua Tangan-Nya” 
(QS al-Hijr: 28; QS Shad: 75). 


Al-basyar sendiri mengacu pada makna: 
“diolah oleh-Nya dengan kelembutan” (al-mubasyarah). 

Al-basyar yang terbentuk dari bahan tanah (ath-thin) inilah yang oleh iblis 
dianggap lebih rendah derajatnya daripada dirinya yang terbentuk dari bahan api 
(QS Shad: 76). 

Iblis tidak mengetahui rahasia di balik keberadaan al-basyar 
sebagai ciptaan baru yang diberi-Nya anugerah kemuliaan sebagai khalifah Allah.

An-nafs adalah daya kehidupan (al-hayy) yang bersifat netral. 
Ia mudah terpengaruh pada lingkungan di mana ia berada. 
An-nafs memaknai keberadaan al-basyar, 
sekaligus al-basyar mempengaruhi an-nafs. 
Tanpa an-nafs maka al-basyar hanyalah gumpalan lempung kering. 
Dengan an-nafs itulah al-basyar bagaikan tanah lempung kering
yang mendapat siraman air hujan, memiliki daya melahirkan benih-benih kehidupan. 

An-nafs membangkitkan dorongan-dorongan naluriah 
sehingga al-basyar menyadari keberadaannya 
sebagai bagian dari dunia materi yang membutuhkan materi-materi lain
 untuk memperkukuh keberadaannya. 

An-nafs yang kedudukannya dekat dengan al-basyar di alam indriawi 
disebut dengan an-nafs al-hayawaniyyah, 
yang menempati tataran paling rendah dari kemanusiaan (asfal as-safilin) 
(QS at-Tin: 5) karena cenderung mendorong naluri al-basyar 
untuk menuju ke alam materi.

Ar-ruh adalah Tiupan Suci Ilahi 
yang dihembuskan Allah ke dalam al-basyar. 
Nafakhtu fihi min ruhi 

(QS Shaad: 72; QS al-Hijr: 29), 
kepada al-basyar itulah seluruh malaikat diperintahkan untuk bersujud. 

Ar-ruh yang tidak dicipta adalah Hakikat Yang Terpuji 
(al-Haqiqat al-Muhammadiyyah). 
Pada tataran ini ruh bersifat murni. Suci. 
Bebas dari materialistis. 

Inilah yang disebut ar-Ruh al-Haqq. 
Ar-ruh tidak berada di dalam atau di luar tubuh al-basyar. 
Ia tidak terikat, tetapi juga tidak terlepas bebas. 
Ar-ruh ada di luar, namun juga ada di dalam. 
Lantaran ar-ruh berasal dari Tiupan Suci Ilahi dalam kata nafakhtu 
maka ar-ruh secara alami selalu cenderung menarik kesadaran manusia 
untuk kembali kepada Allah.
.
‪#‎Novel‬ Syaikh Siti Jenar ‪#‎Quotes‬

Tidak ada komentar:

Posting Komentar