Rabu, 06 Januari 2016

ANALISIS KEJIWAAN SYIAH DUA BELAS IMAM

ANALISIS KEJIWAAN SYIAH DUA BELAS IMAM

Agama Syi’ah adalah 
agama yang dibangun diatas asas emosionalisme, provokasi, dan histeria 
mengusung berbagai mitos sejarah 
yang dibumbui oleh ratapan 
untuk membangkitkan gejolak emosi jiwa-jiwa yang lemah, 
sehingga penganutnya tidak hanya menerima ajaran mereka, 
bahkan juga rela berbohong demi ajaran tersebut.

Tidak satu pun kelompok keyakinan dan pemahaman yang lebih buruk 
daripada Syi’ah dalam hal melegalkan dan melakukan kebohongan, 
bahkan menjadikannya sebagai bentuk ketaatan beragama. 

Kebohongan demi kebohongan yang dilakukan oleh para pemuka agama mereka 
terhadap para pengikutnya acap kali membuat kita prihatin 
dengan kepolosan para pengikut yang tertipu daya.

Ya, mereka memang lebih pantas untuk dikasihani, 
dan dipandang dengan tatapan prihatin. 
Tak heran bila sebagian pengikut Syi’ah yang berpikiran kritis 
mengeluhkan para sayid Syi’ah karena praktek-praktek melampaui batas 
dan penjarahan yang dilakukan terhadap harta 
maupun kehormatan mereka atas nama agama.

Kepribadian Syi’ah 
merupakan perpaduan antara pola pikir Yahudi dan tingkah laku Majusi.

Mereka menjadikan slogan mengikuti Ahlulbait sebagai keyakinan utama mereka 
dalam masalah akidah dan loyalitas. 
Ulama-ulama Syi’ah baik pada era klasik maupun kontemporer dengan licinnya memanfaatkan peristiwa-peristiwa sejarah, 
setelah menambah-nambahinya 
dengan berbagai rekayasa atas prahara 
dan kezaliman yang menimpa Ahlulbait.

Itu mereka lakukan untuk dapat menarik simpati para pengikutnya, 
sehingga sadar atau tidak mereka membiarkan hati mereka 
terperangkap dalam kesedihan, tangisan, ratapan, bahkan menyakiti diri sendiri. 
Jika kondisinya telah sampai pada taraf itu maka berikutnya 
merupakan hal yang mudah untuk menyetir para pengikut tersebut sesuka hati mereka.

Para pembesar mereka berupaya keras menjadikan kebohongan 
sebagai pondasi agama mereka, sehingga kebohongan mereka pun berkembang 
dari sekedar kebohongan biasa kepada kebohongan yang dipandang 
sebagai bagian dari inti agama. 
Selanjutnya kebohongan itu diterjemahkan dalam akidah taqiah 
yang membuat mereka tidak kesulitan menanamkan akidah-akidah 
yang menyimpang dan fakta-fakta palsu dalam hati para pengikut, 
sebagaimana taqiah ini juga memudahkan mereka 
untuk berada di tengah komunitas Umat Islam.

Permusuhan dan dendam yang terlihat pada kepribadian penganut Syi’ah ini 
merupakan hasil dari perpaduan jiwa dan pemikiran yang tidak stabil,
 sehingga melahirkan manusia yang tidak stabil.
 Itu tercermin pada kepribadian orang-orang Syiah yang memiliki sifat-sifat, 
antara lain:

1. Selalu merasa lemah, tertindas yang disertai dendam kesumat. 
Oleh karena itu mereka cendrung berbuat curang. 
Selanjutnya bila mendapatkan kesempatan mereka akan melakukan balas dendam 
secara melampaui batas dan menikmati penderitaan dan kesakitan orang lain 
tanpa kenal kasihan.

2. Melakukan taqiah, dan itu merupakan salah satu rukun mazhab Syi’ah 
yang berarti menampilkan hal yang berbeda dengan yang dipikirkan 
dan dirasakan di hadapan orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka 
jika dibutuhkan.

3. Memiliki pemikiran dan ledakan emosi yang tidak wajar, 
karena dibakar rasa benci terhadap orang-orang yang menentang mereka
 yaitu Ahlusunah atau orang-orang yang mereka cap sebagai musuh Ahlulbait. 
Mereka terbiasa memendam dendam dan mencari kesempatan untuk melampiaskannya.

4. Sangat merindukan Imam Mahdi al-Muntaẓar dari persembunyiannya 
di sebuah gua di Samara untuk memenuhi dunia ini dengan darah dan tengkorak 
para penentang mereka, terutama para Khalifah Rāsyidīn. 
Mereka –sebagaimana keyakinan Syi’ah dalam kitab-kitab mereka –akan dihidupkan kembali oleh Allah untuk disiksa oleh Imam Mahdi sebagai hukuman 
atas perlakuan mereka terhadap Fatimah.

5. Syi’ah didominasi oleh orang-orang yang berpikiran dangkal, polos dan tidak kritis, akibat keterikatan sangat besar dan pengkultusan terhadap imam-imam mereka. 
Oleh karena itu mereka dengan mudah dapat dicekoki khurafat-khurafat 
berisi sanjungan berlebih-lebih terhadap para Imam 
yang bahkan menempatkan mereka sebagai Tuhan, 
sebaliknya umat Islam yang berbeda pendapat 
mereka mereka tempatkan kedudukannya sebagai penghuni kerak neraka.

6. Kepribadian orang Syi’ah sesungguhnya tidak siap untuk menghormati nilai-nilai kemanusia yang berlaku, mereka tiba-tiba menjadi anarkis begitu mendengarkan fatwa emosional yang menghalalkan membunuh orang-orang yang menentang mereka.

7. Orang-orang Syi’ah akan lebih cendrung bekerja sama dengan orang kafir 
daripada orang islam yang tidak sejalan dengan aqidah mereka, 
padahal orang kafir adalah musuh yang nyata. 
Ini sebagaimana yang terdapat dalam kitab-kitab klasik Syi’ah Imamiah. 
Oleh karena itu jatuhnya Baghdad pertama kali, kepada Tatar (656H) 
salah satunya karena ulah pengkhianatan Wazir Khalifah al-Mu’taṣim, al-‘Alqami. 
Dia seorang penganut Syi’ah kebatinan.
 Demikian juga kekalahan Baghdad pada bulan April 2003 dari Amerika Serikat, 
juga karena ulah generasi penerus al-‘Alqami.

8. Orang Syi’ah tidak mampu bersikap objektif dan 
berlaku adil dengan orang-orang yang tidak sejalan dengan mereka. 
Jika menguasai pemerintahan, mereka memerintah tanpa rasa keadilan 
karena dendam kesumat yang mereka warisi turun temurun, 
sebagaimana yang terjadi terhadap Ahlusunah di Iran, Irak, Libanon, 
dan Yaman di wilayah al-Ḥuṡaiyin.

9. Simpati yang hanya berdasarkan emosi serta kemampuan berpikir yang sederhana, menjadi sasaran empuk sejumlah pemikiran ekstrim dan berlebih-lebihan.

10. Orang Syi’ah memandang ketulusan, emosi serta air mata mereka, dan harta khumus (seperlima dari kekayaan dan pendapat) yang mereka bayarkan merupakan pintu-pintu surga. Barangkali kita tidak menemukan ibadah murni yang semata-mata dipersembahkan kepada Allah tanpa bumbu-bumbu kepercayaan lainnya.

Akhirnya, saya (Syaikh Mamduh) sampaikan bahwa 
dengan menganalisis dan memahami kejiwaan dan daya berpikir Syi’ah Dua Belas Imam, maka para dai dapat dengan mudah meruntuhkan kepercayaan para pengikut Syi’ah 
yang telah dibangun oleh para sayid mereka dengan berbagai khurafat 
dan bisikan-bisikan setan.

Oleh sebab itu sudah seharusnya setiap dai memperhatikan aspek ini dengan seksama.

 Tidak semua dai dapat memberikan pencerahan kepada para pengikut Syi’ah 
meskipun da’i tersebut mengetahui dengan baik akidah dan ajaran dasar Syi’ah, 
jika mereka tidak memahami tipe dan karakter umum orang-orang Syi’ah.

Sekian. Semoga bermanfaat
Silahkan dishare.

(Diringkas dengan sedikit penyelarasan dari tulisan Syaikh Mamduh Farhan al-Buhairi yang diterjemahkan oleh Majalah Qiblati dengan judul: ANALISIS KEJIWAAN DAN KECERDASAN (Syi’ah Dua Belas Imam))

________________
Madinah Selasa 03-06-1435 H
ACT El-Gharantaly

Tidak ada komentar:

Posting Komentar