Rabu, 06 Januari 2016

RAHASIA MAKRIFAT

RAHASIA MAKRIFAT

Sangat sulit menjelaskan hakikat dan makrifat 
kepada orang-orang yang mempelajari agama hanya pada tataran Syariat saja, 
menghafal ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadist akan 
tetapi tidak memiliki ruh dari pada Al-Qur’an itu sendiri. 

Padahal hakikat dari Al-Qur’an itu adalah 
Nur Allah yang tidak berhuruf dan tidak bersuara, 
dengan Nur itulah Rasulullah SAW 
memperoleh pengetahuan yang luar biasa dari Allah SWT. 

Hapalan tetap lah hapalan dan itu tersimpan di otak 
yang Amalan nya rendah tidak adakan mampu menjangkau hakikat Allah, 
otak itu baharu sedangkan Allah itu adalah Qadim 
sudah pasti Baharu tidak akan sampai kepada Qadim. 

Kalau anda cuma belajar dari dalil dan mengharapkan boleh sampai kehadirat Allah dengan dalil yang anda miliki maka PASTI anda tidak akan sampai kehadirat-Nya.

Ketika anda tidak sampai kehadirat-Nya 
sudah pasti anda sangat heran dengan ucapan orang-orang yang sudah bermakrifat, 
boleh berjumpa dengan Malaikat, 
berjumpa dengan Rasulullah SAW dan melihat Allah SWT, 
dan anda menganggap itu sebuah kebohongan 
dan sudah pasti anda mengumpulkan lagi puluhan bahkan ratusan dalil 
untuk membantah ucapan para ahli makrifat tersebut 
dengan dalil yang menurut anda sudah benar, 
padahal kadangkala dalil yang anda berikan 
justru sangat mendukung ucapan para Ahli Makrifat 
cuma sayangnya matahati anda dibutakan oleh hawa nafsu, 
dalam Al-Qur’an disebuat Khatamallahu ‘ala Qulubihim 
(Tertutup mata hati mereka) 
itulah hijab yang menghalangi anda menuju Tuhan.

Rasulullah SAW menggambarkan Ilmu hakikat dan makrifat itu 
sebagai “Haiatul Maknun” artinya “Perhiasan yang sangat indah”. 

Sebagaimana hadist yang dibawakan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda : 
“Sesungguhnya sebagian ilmu itu 
ada yang diumpamakan seperti perhiasan yang indah dan 
selalu tersimpan yang tidak ada seorangpun mengetahui 
kecuali para Ulama Allah. 
Ketika mereka menerangkannya 
maka tidak ada yang mengingkari 
kecuali orang-orang yang biasa lupa (tidak berzikir kepada Allah)”

Di dalam hadist ini jelas ditegaskan menurut kata Nabi bahwa 
ada sebagian ilmu yang tidak diketahui oleh siapapun 
kecuali para Ulama Allah yakni
Ulama yang selalu Zikir kepada Allah dengan segala Amalannya. 
Ilmu tersebut sangat indah laksana perhiasan dan tersimpan rapi 
yakni ilmu Tharikat yang didalamnya 
terdapat amalan-amalan seperti Ilmu Latahif dan lain-lain.

Masih ingat kita cerita nabi Musa dengan nabi Khidir 
yang pada akhir perjumpaan mereka membangun sebuah rumah 
untuk anak yatim piatu untuk menjaga harta berupa emas yang tersimpan dalam rumah, kalau rumah tersebut dibiarkan hancur maka emasnya akan dicuri oleh perompak, 
harta tersebut tidak lain adalah ilmu hakikat dan makrifat yang sangat tinggi nilainya dan rumah yang dimaksud adalah ilmu syariat yang harus tetap dijaga 
untuk membentengi agar tidak jatuh ketangan yang tidak berhak.

Semakin tegas lagi pengertian di atas 
dengan adanya hadist nabi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah sebagai berikut : 

“Aku telah hafal dari Rasulillah dua macam ilmu, 
pertama ialah ilmu yang aku dianjurkan untuk menyebarluaskan 
kepada sekalian manusia yaitu Ilmu Syariat. 

Dan yang kedua ialah ilmu yang aku tidak diperintahkan untuk menyebarluaskan 
kepada manusia yaitu Ilmu yang seperti “Hai’atil Maknun”. 

Maka apabila ilmu ini aku sebarluaskan 
niscaya engkau sekalian memotong leherku (engkau menghalalkan darahku).

Hadist di atas sangat jelas jadi tidak perlu diuraikan lagi, 
dengan demikian barulah kita sadar 
kenapa banyak orang yang tidak senang dengan Ilmu Tharikat? 

Karena ilmu itu memang amat rahasia, 
sahabat nabi saja tidak diizinkan untuk disampaikan secara umum, 
kerana ilmu itu harus diturunkan dan mendapat izin dari Nabi, 
dari nabi izin itu diteruskan kepada Khalifah nya 
terus kepada para Aulia Allah sampai saat sekarang ini.

Jika ilmu Hai’atil Maknun itu disebarkan 
kepada orang yang belum berbait zikir atau “disucikan” 
sebagaimana telah firmankan dalam Al-Qur’an surat Al-‘Ala, 
orang-orang yang cuma Ahli Syariat semata-mata, 
maka sudah barang tentu akan timbul anggapan bahwa 
ilmu jenis kedua ini yakni Ilmu Thariqat, Hakikat dan Ma’rifat 
adalah Bid’ah dan sesat

Dan mereka ini mempunyai I’tikqat bahwa 
ilmu yang kedua tersebut jelas diingkari oleh syara’. 
Padahal tidak demikian, 
bahwa hakekat ilmu yang kedua itu tadi justru merupakan intisari 
daripada ilmu yang pertama artinya ilmu Tharikat itu intisari dari Ilmu Syari’at.

Oleh karena itu 
jika anda ingin mengerti Tharikat, Hakekat dan Ma’rifat secara mendalam 
maka sebaiknya anda berbai’at saja terlebih dahulu dengan Guru Mursyid (Khalifah) 
yang ahli dan diberi izin dengan taslim dan tafwidh dan ridho. 
Jadi tidak cukup hanya melihat tulisan buku-buku 
lalu mengingkari 
bahkan mungkin mudah timbul prasangka jelek terhadap ahli tharikat.

Dalam setiap peristiwa yang mewarnai kehidupan ini, 
seringkali kita tidak mampu atau tidak mau menangkap kehadiran Allah 
dengan segala sifat-sifatNya. 

Padahal sifat-sifat Allah sangat terkait erat dengan ayat-ayat kauniyahNya 
yang terhampar di atas muka bumiNya. 

Betapa Allah –melalui ayat-ayat kauniyahNya- 
memang ingin menunjukkan keMaha KuasaanNya dan keMaha BesaranNya 
agar hamba-hambaNya senantiasa mawas diri, 
waspada dan berhati-hati dalam bertindak dan berprilaku 
agar tidak mengundang turunnya sifat JalilahNya 
yang tidak akan mampu dibendung, apalagi dilawan oleh siapapun, 
dengan upaya dan sarana kekuatan apapun tanpa terkecuali, 
kerana memang Allahlah satu-satunya pemilik kekuatan dan kekuasaan 
terhadap seluruh makhlukNya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar