Ibnu Mas’ud r.a. beserta beberapa orang jamaah
mengeluhkan tentang hak kepada Rasulullah saw, lalu jawab beliau saw :
“Bersabar dan bergembiralah kamu, karena saatnya sudah dekat, bahkan seakan-akan telah tiba.”
Dalam hadis yang lain Rasulullah saw. Bersabda :
Akan datang sesudahku suatu golongan
yang memakan makanan yang lezat-lezat dengan aneka warnanya;
menikahi wanita-wanita cantik dengan berbagai macam tipenya;
memakai pakaian bagus-bagus dengan berbagai macam modenya; dan
mengendarai kendaraan mewah dengan berbagai macam mereknya.
Mereka mempunyai perut yang tidak pernah merasa kenyang dengan yang sedikit dan memiliki nafsu bahkan terhadap yang banyak pun tidak pernah merasa puas.
Mereka menekuni dunia saat pagi dan sore hari,
mereka menjadikannya sebagai tuhan di samping Tuhan mereka,
menjadikannya rabb di samping rabb mereka,
hanya kepada urusan dunia itu target mereka dan
kepada hawa nafsu mereka mengikuti.
Maka suatu tekad .... dari Muhammad sw.
Bagi yang mengalami zaman itu yang bakal datang setelah pengganti kamu,
hendaklah tidak memberi salam kepada mereka,
tidak mengunjungi yang sakit di antara mereka,
tidak mengirngii jenazah mereka, dan
tidak perlu hormat kepada pemuka mereka.
Siapa yang tetap melakukan itu,
sesungguhnya ia ikut ambil bagian dalam menghancurkan Islam.
(Hadis ini dieluarkan oelh AL Bazzar,
namun salah seorang sanad-nya di dha’if-kan oleh Jumhur).
Ingatlah,
siapa yang tidak pernah merasa cukup dengan sekedar kebutuhannya,
bagaimana ia merasa aman dari orang-orang yang termasuk dalam firman Allah SWT, berikut :
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,
sampai kamu masuk ke dalam kubur.
Janganlah begitu! Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatan itu)
dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.” (QS. At-Takatsur 1-4).
Maka, bagaimana orang yang tidak pernah puas itu
merasa aman dari ancaman Allah SWT ini.
Ia pasti bakal binasa.
Semoga Allah SWT melindungi kita dari menyenangi kemegahan,
memberikan kepada kita semua sikap qana’ah dan tawadhu’.
Wahai kaumku, keuntungan itu, demi Allah,
terletak dalam keridhaan terhadap kesederhanaan, bukan terhadap kemegahan.
Keuntungan itu, demi Allah,
terletak pada kerendahan dalam berzikir, bukan dalam kedudukan dan jabatan.
Keuntungan itu, Demi Allah, pada kerendahan diri, bukan dalam keangkuhan.
Aku telah memberikan nasihat kepada kalian jika kalian mau menerima,
tetapi yang menerima itu sedikit.
Mudah-mudahan Allah memberi taufik kepada kita semua
untuk setiap kebaikan dengan Rahmat-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar