jblrun

Jumat, 05 Agustus 2016

Shahibussyaif sheykh Abdul Karim Haqqani.

Ketika kita senang dengan Tuhan kita , Allah senang dengan kita. Dan kebahagiaan membuat kita lari untuk membuat orang lain lebih senang. ketika kalian mencintai seseorang, kalian begitu menghormati nya, kalian mengejar nya untuk membuat dia bahagia, untuk membuat dia senang dengan / kepada kalian. itu tidak bisa hanya mengatakan, "aku suka padamu. aku mencintaimu. itu saja." Tidak.. tidak dengan kata saja.
Dia yang kalian sukai setidaknya, kalian akan menawarkan segelas air. memberikan padanya sesuatu.
Kita(yang mengaku) mencintai Allah. apa yang bisa kita berikan kepadanya? Tidak ada. Cukup ikuti perintahnya. itu saja. mudah. Insyaallah, jika kita memegang erat Dia, Nabi-Nya, lalu Dia mengirim awliyaullah, teman-temanNya untuk kita, untuk memudahkan urusan kita. jika kita tidak tulus dengan itu, kesulitan tidak pernah meninggalkan kita.
Shahibussyaif sheykh Abdul Karim Haqqani.
Foto Naqshabandi Sufi Way.
Diposting oleh Unknown di 23.02 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

MENGENAL HIZB DIANTARA PARA PEMUKA TASAWWUF

Serial-2 : Tasawwuf
MENGENAL HIZB
DIANTARA PARA PEMUKA TASAWWUF
**********
“Seandainya hizib-ku ini dibaca di Baghdad, maka insya ALLAAH kota itu tak akan jatuh.” Demikian Imam Abul Hasan asy-Syadzili menegaskan hal itu mengenai keampuhan hizibnya yaitu Hizbul Bahr. Bagi kalangan tertentu, boleh jadi pernyataan beliau itu dianggap terlalu mengada-ada. Bagaimana mungkin sebuah bacaan doa dapat menghalau gelombang serangan tentara Tartar yang begitu tangguh..?
Kalau dilihat dengan kalkulasi lahiriah, sepertinya pernyataan Imam Asy-Syadzili memang terlalu mengada-ada. Namun perlu juga diketahui, bahwa urusan hizib bukanlah urusan lahiriah. Hizib adalah doa yang ketajamannya tak bisa dikalkulasi dengan akal, karena murni bersandar kepada kekuatan ALLAAH Jalla Jalaluh. Sebagai sebuah kumpulan doa yang didapatkan oleh seorang waliyuLLAAH dari ilham, maka sangat mungkin bila doa itu memiliki sisi-sisi keluarbiasaan sebagaimana yang biasa dilihat sebagai karamah dari para wali. Sebagaimana, kemenangan kaum Muslimin di Perang Badar, maka turunnya pasukan para malaikat adalah karamah yang ALLAAH berikan kepada para sahabat yang sudah berada di luar kalkulasi akal dan lahiriah.
Hizbul Bahr, konon dikarang oleh Imam asy-Syadzili di Laut Merah. Saat itu, beliau sedang berlayar menaiki sebuah kapal. Di tengah Laut Merah, angin tiba-tiba berhenti. Kapal tak bisa bergerak selama beberapa hari. Namun, tak berapa lama kemudian, Imam Asy-Syadzili bermimpi melihat Rasulullah SAW datang dengan membawa berita gembira. Rasulullah SAW menuntun Asy-Syadzili membacakan sebuah doa. Syahdan, dengan tiba-tiba angin datang dan kapal bisa bergerak kembali.
Hizib yang dikarang oleh para tokoh sufi, memang tidak seperti penulisan karya-karya ilmiah. Hizib ditulis dengan pengalaman spiritual yang mendalam. Hanya melibatkan kekuatan hati dan kejernihan kualitas serta kuantitas ibadah, hampir tak melibatkan ketajaman pikiran sama sekali.
Dalâ’ilul-Khairât yang luar biasa mengakar dalam tradisi wiridan umat Islam hingga saat ini, ditulis oleh Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli sama sekali bukan karena tantangan ilmiah yang bergejolak di pikiran beliau saat itu, tapi murni karena getaran spiritual yang menguasai hatinya saat malam-malam munajatnya yang bening dengan Sang Khaliq.
Konon riwayat penulisan untaian Shalawat dalam kita tersebut, adalah saat Syekh Al-Jazuli hendak melaksanakan shalat. Datang ke sumur, tak ada timba yang bisa dibuatnya untuk mengambil air wudhu. Maka Syekh al-Jazuli pun kebingungan. Tiba-tiba, seorang gadis kecil yang tidak ia kenal yang datang menghampirinya.
“Siapa kah engkau?” tanya gadis itu. Syekh Al-Jazuli memperkenalkan dirinya.
“Oh, ternyata Tuanlah yang dipuji oleh begitu banyak orang. Tapi, kenapa masih bingung untuk sekedar mendapatkan air sumur ini..?!”
Gadis kecil itupun meludah ke dalam sumur. Sungguh aneh, airnya lalu naik sampai ke permukaan. Syekh al-Jazuli dibuat terperangah. Beliau langsung berwudhu dari air itu, lalu bertanya, “Ananda, apa yang membuat engkau bisa mencapai derajat setinggi ini..?”
“Tidak ada, kecuali aku banyak bershalawat kepada Nabi SAW yang apabila beliau SAW sedang berjalan di darat, maka binatang-binatang liar pun menjadi begitu jinak, makanan pun menjadi bertambah banyak, dan air pun bisa mengalir dari sela-sela jari beliau SAW” Jawab gadis kecil yang lugu itu.
Berangkat dari pengalaman itu, Syekh al-Jazuli bersumpah untuk menulis sebuah kitab kumpulan shalawat. Dan, dari pengalaman spiritual itu pula muncul karya agungnya yaitu Dalâ’ilul-Khairât. Cukup banyak syekh-syekh sufi yang menyebarkan karya al-Jazuli ini kepada murid-murid mereka. Misalnya, Syekh Abdul Haqq di India, pada awal-awal abad 20, dikenal dengan julukan Syaikhud-Dalâ’il. Meski tidak sampai mendapat julukan semacam ini, sangat banyak syekh-syekh di seluruh penjuru dunia Islam yang menyebarkan ijazah Dalâ’il. Mulai dari Indonesia hingga Maroko.
Menurut Syekh Ismail Haqqi al-Barusawi, penulis tafsir Rûhul-Bayân dan tokoh tarekat Al-Khalwatiyah Turki, meyakini bahwa ada hizib yang memang bukan hasil karya dari penulisnya, tapi dituntun oleh Allah atau Rasulullah SAW. Dalam tafsirnya, Syekh Ismail Haqqi memberikan apresiasi yang tinggi terhadap hizib-hizib yang dibuat oleh Imam Abul Hasan asy-Syadzili. Beliau menyatakan, “Orang-orang sufi yang menetapkan wirid dari selain apa yang wârid dalam Sunah Rasulullah SAW, maka ia bersikap kurang sopan kepada Allah dan Rasul-Nya. Kecuali, jika wirid itu ia dapatkan dari pengajaran langsung Allah SWT, Allah memberitahukan kepada dia tentang keistimewaan kalimat-kalimat yang ia kumpulkan. Jika demikian, maka berarti ia mengikuti (Allah dan Rasul-Nya), bukan membuat sendiri. Misalnya, Hizbul-Bahr karya Imam asy-Syadzili. Imam asy-Syadzili telah menegaskan bahwa beliau tidak meletakkan satu huruf pun dalam hizib itu kecuali mendapatkan izin dari Allah dan Rasul-Nya.”
Tak jauh berbeda dengan Hizbul-Bahr, Hizbul-Faraj karya Syekh Ahmad Ar-Rifa’i, pendiri tarekat Rifa’iyah. Beliau menganjurkan untuk membacanya di waktu sahur atau akhir malam sebagai wirid untuk mencapai kemuliaan hidup, di dunia dan akhirat. “Akan turun dari Hadirat Tuhan jaminan terkabul untuk orang-orang yang ahli membacanya. Maka, dengan izin Allah, mereka tidak akan ditimpa kehinaan. Pada saat hizib ini dibaca, ruh Rasulullah SAW (bukan jasadnya) Insya ALLAAH akan hadir di sana,” tegas Syekh ar-Rifa’i.
Syekh ar-Rifa’i, sebagaimana diterangkan dalam Mi’râjul-Wushûl, konon sudah mendapatkan jaminan sampai sebelas kali dari Rasulullah SAW bahwa orang yang ahli membaca hizib tersebut tidak akan ditimpa kehinaan sampai kapanpun. Mengenai jaminan langsung dari Rasulullah SAW itu bukanlah sesuatu yang aneh. Sebab, Syekh ar-Rifa’i sendiri, dalam riwayat yang masyhur, memang pernah mencium tangan Rasulullah SAW secara langsung saat berziarah ke makam beliau. Kejadian itu disaksikan oleh banyak orang dan tidak diingkari oleh para ulama.
Di dunia tasawuf, memang sudah lumrah terjadi adanya pernyataan dari seorang syekh bahwa ia mendapatkan wirid itu dari ilham, dari malaikat, dari Rasulullah SAW, dari Nabi Khidir, dan semacamnya. Secara ilmiah, memang tidak bisa dibuktikan, apakah klaim itu benar atau tidak. Namun, hal itu bukanlah sesuatu yang mustahil, apalagi jika yang menyatakan semacam itu adalah orang-orang saleh yang derajat kedekatannya dengan Allah sudah tidak diragukan lagi baik oleh kalangan ulama apalagi di masyarakat.
Dalam beberapa referensi diterangkan bahwa di antara para Sahabat Rasulullah SAW, ada yang sering mendengar salam dari para Malaikat, seperti Sahabat Imran bin Hushain RA. Juga, ada Sahabat yang bertemu langsung dengan Rasulullah SAW pasca wafatnya beliau. Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Sayidina Utsman bin Affan RA, sebelum dibunuh oleh para pemberontak, beliau bertemu dengan Rasulullah SAW. Beliau membawakan air untuk Sayidina Utsman RA yang saat malam terakhirnya itu tidak menemukan air untuk sekadar bersahur. Jika hal itu bisa terjadi pada Sahabat, maka bukan tidak mungkin terjadi kepada orang-orang saleh setelah mereka.
Walhasil, garansi para wali terhadap hizib-hizib yang mereka buat, bukanlah garansi khurafat. Hal itu merupakan bagian dari karamah yang diberikan oleh Allah kepada mereka. Akidah Islam mempercayai adanya keajaiban-keajaiban yang terlepas dari hukum alam, baik dalam bentuk mukjizat, karamah, ataupun ma'unah berdasarkan berbagai hadits yang shahih dan berbagai atsar yang ma'tsur di kalangan para sahabat RA.
WaLLAAHu a'lamu bish shawaab..
Diposting oleh Unknown di 23.00 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Kamis, 04 Agustus 2016

Penyebab ketidakbahagiaan

Penyebab ketidakbahagiaan

"Dunia ini adalah tempat ujian. 
Orang-orang tidak memahami hal ini. 
Allah mengirim manusia ke dunia ini, 
sehingga mereka bekerja untuk akhirat mereka, 
membuat akhirat mereka sejahtera. 
Jika surga berada di bumi 
orang orang tidak akan diuji. 
Manusia tidak ingin mematuhi perintah Allah.

Orang mengeluh 
tentang 
ayah mereka, saudara-saudara mereka, suami mereka, tetangga mereka, 
sehingga selalu ada alasan untuk mengeluh. 
Ini adalah penyebab ketidakbahagiaan. 
Tapi 
Allah Azza wa Jalla menciptakan dunia ini seperti ini. 
Di dunia ini 
jika kalian bahagia dengan suami kalian, 
kalian mengeluh tentang tetangga kalian. 
Jika kalian senang dengan tetangga kalian , 
tapi kalian mengeluh tentang ayah atau saudara laki-laki. 
Maka jangan cari (tidak ada) kenyamanan di dunia ini.

Bagaimana kalian akan merasa damai? 
Kalian harus menerima. 
Mungkin ada hal-hal kecil - jangan mengeluh tentang mereka. 
Jika mereka pergi, hal-hal lain akan terjadi, 
akan ada jenis lain dari ketidakbahagiaan. 
Jadi, 
bahagialah dengan hal-hal kecil. 
Katakanlah: 
"Terima kasih kepada Allah saya memiliki masalah ini 
Jika tidak, 
mungkin ada hal-hal lain 
yang kita tidak bisa menanggungnya.."

Mawlana Syekh Muhammad Adil Q.S, 22 Juni 2015
Diposting oleh Unknown di 15.05 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Hati.



Manusia beragama yang bermartabat 
meletakkan seluruh persoalan hidupnya 
di wilayah yang tidak tampak dari realitas, 
di suatu wadah yang Allah bersemayam di dalamnya, 
yaitu Hati.

Agama, Hati dan Ilahi berpadu dalam jiwa 
melahirkan kekuatan yang tak terkalahkan oleh 
kepalsuan, 
ketidakjujuran, 
keangkuhan, 
kezaliman, 
kesemrawutan, 
kepentingan sesaat, 
kedengkian, 
kehinaan, 
ketidakhati-hatian, 
kesurupan, 
kegelapan, 
ketidakadilan, 
kemewahan dunia, 
kebanggaan diri, 
kemusyrikan, 
kemunafikan, 
kekufuran dan 
lain-lain amoralitas.

Kunci utama untuk meraih keadaan jiwa yang demikian 
terletak pada ketundukan dan kepatuhan 
kepada apa yang menjadi kehendak Allah Yang Maha Pencipta.
Diposting oleh Unknown di 14.47 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

MARI MELIHAT CERMIN DIRI

MARI MELIHAT CERMIN DIRI.

“Takwa adalah meninggalkan maksiat 
meskipun tidak ada yang melihat. 
Suatu ketika Rasulullah SAW ditanya oleh sahabat, 
‘Apa yang paling banyak menyebabkan manusia masuk ke surga?’ 
Lalu, Rasulullah SAW menjawab, 
‘Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.’
Beliau ditanya kembali, 
‘Lalu, apa yang paling banyak menyebabkan manusia masuk ke neraka?’ 
Rasulullah menjawab, 
“Dua rongga, yaitu rongga mulut dan kemaluan.’ 
(HR Ibn Majah dan At-Tirmidzi)

Karena itu, 
bersihkanlah hatimu 
dengan menyesali lemahnya ketakwaanmu kepada Allah. 
Sungguh keliru jika engkau banyak meratapi 
istri, suami, ayah atau anak, 
tetapi tak pernah meratapi 
ketidak-adaan sikap takwa kepada Allah di dirimu.”

--Syek Ibnu Atha’illah dalam Taj Al-‘Arus
Diposting oleh Unknown di 14.34 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

The Alchemist of Happiness



Suatu kali adiknya Abu hamid al-Ghazali as-Sufi 
mendatangi kakaknya Imam al-Ghazali lalu dia berkata :
Kau uluri mereka tangan padahal mereka enggan ,...
Dan kau sendiri tertinggal di belakang,

sementara mereka di depan
Engkau mengambil peranan penuntun, 

sementara engkau enggan dituntun
Kau berdakwah tapi tak mau didakwahi
Wahai batu asah, 

sampai kapan engkau menajamkan besi, 
tapi kau sendiri tak kunjung tajam?

lalu Imam Ghazali tersadar, dan berkata:
Kutahu bahwa 
jalan sufi menggabungkan keyakinan nalar dan amalan nyata
Amalan itu berbentuk menggilas aral dalam jiwa
dan memupus habis sifat rendah dan moral kejinya
agar hati bisa mencapai kebebasan dari apapun 

selain Tuhan
Keyakinan nalar itu lebih mudah ,....
tapi menjadi jelas bagiku bahwa 

hal paling mencolok dalam tasawuf
tak bisa dipahami hanya dengan membaca
tapi harus dari pengalaman langsung 

melalui ekstase dan hijrah moral

Para sufi 

bukanlah kaum kata-kata 
tapi berdasarkan pengalaman nyata.

Beliau melakukan hal yang menjadikan Ghazali itu ,
Ghazali seperti yg kita kenal setelah 900 tahun kemudian, 
yakni beliau meninggalkan jabatannya, kekayaanya, keluarganya, dunia 
lalu menghilang
beliau pergi dari semua kehidupan yang sangat sukses 

demi menemukan keyakinan,
demi jujur kepada dirinya sendiri 
dan memahami hakikat dan realitas Illahiah "al-Haqq"

Film tentang Imam Ghazali yang sangat layak tonton .
The Alchemist of Happiness - الغزالي كيميائي السعادة
يمكن إظهار أو إخفاء الترجمة العربية Arabic subtitles can be tu
Diposting oleh Unknown di 10.23 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

CINTA HANYA BISA TERLEPAS OLEH CINTA LAIN

CINTA HANYA BISA TERLEPAS OLEH CINTA LAIN
Sebelum Husamuddin Arzanjani mulai melayani kaum miskin dan menangani perkumpulan darwisy, dia merupakan seorang ahli debat yang hebat. Kemana pun dia pergi, dia akan berdebat dan selalu mempertimbangkannya dengan penuh perhitungan dan hati-hati. Di melakukan itu dengan baik, dia seorang pembicara yang baik. Tetapi ketika bergabung dengan para darwisy, kesenangan berdebatnya menjadi lemah. “Cinta hanya bisa terlepas oleh cinta lain.” “Siapa pun yang berharap duduk dengan Tuhan Yang Maha Kuasa, biarkan dia duduk dengan para sufi.” Pengejaran intelek yang berkenaan dengan pernyataan para fakir ini, hanyalah permainan dan menyia-nyiakan kehidupan seseorang.
Sesungguhnya kehidupan ini hanyalah permainan dan hiburan sia-sia (Qs. 47 : 36). Ketika manusia mencapai kedewasaan dan nalar yang sempurna, dia tidak akan bermain-main lagi. Apabila dia melakukannya, dia melakukan ini secara rahasia dan malu-malu agar tidak seorang pun melihatnya. Pengetahuan intelektual, pembicaraan sia-sia, dan tingkah laku duniawi semuanya adalah “angin”, sementara manusia adalah “debu”. Ketika angin dan debu bercampur, keduanya akan melukai mata ke mana pun pergi. Tidak ada yang muncul dari keduanya selain kekacauan dan keluhan. Sekarang, meskipun manusia hanyalah debu, dia meratap pada setiap kata yang didengarnya, dan air matanya mengalir bagaikan air. Engkau akan melihat mata mereka bercucuran dengan air mata (QS. 5 : 83). Ketika air, apalagi angin, mengalir di atas debu, peristiwa kebalikannya akan terjadi, karena tidak diragukan lagi ketika debu mengairi buah-buahan, tanaman hijau, tanaman obat, dan bebungaan, semuanya akan tumbuh.

Sebelum memperoleh kemasyhuran, Nabi Muhammad telah melihat keelokan dan keindahan ucapan orang Arab dan berhasrat agar bisa berucap seelok dan selembut mereka. Ketika dunia yang tidak terlihat diwahyukan kepadanya, dia menjadi mabuk di dalam Tuhan dan kehilangan kesenangan terhadap hasrat itu. Tuhan berfirman kepadanya, “Aku memberikan kepadamu ucapan paling elok dan paling lembut dari yang pernah engkau hasratkan.”
“Ya Tuhan,” Nabi menjawab, “apa gunanya itu untukku? Aku bebas dari hasrat itu. Aku tidak menginginkannya.”
“Jangan berduka lara,” jawab Tuhan, “karena kedua keelokan dan ketidak pedulianmu pada hal itu akan bertahan, dan engkau tidak akan menderita kehilangan apa pun darinya.” Dan Tuhan tentu saja memberi ucapan seperti itu sampai seluruh dunia, dari jamannya sendiri sampai saat kini, telah membuat begitu banyak jilid tafsir guna menjelaskannya. Masih saja mereka melakukan demikian, tetapi sampai sekarang mereka bahkan lebih jauh lagi terhadap pemahamannya. Kemudian Tuhan berfirman, “Sahabat-sahabatmu, telah keluar dari kelemahan dan ketakutan kepada mereka dan ketakutan serta iri hati, mereka telah membisikan namamu. Aku akan menerbitkan keagunganmu ke seantero dunia dan keagunganmu akan disebutkan lima kali sehari dengan nada keras dan nada penuh rahmat dari menara tinggi ke seluruh negeri di dunia dari timur hingga barat.”

Fihi ma Fihi (Didalamnya didalam) -Syekh Jalaluddin Rumi qs.
Diposting oleh Unknown di 07.34 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan (Atom)

Mengenai Saya

Unknown
Lihat profil lengkapku

Arsip Blog

  • ▼  2018 (2)
    • ▼  Maret (1)
      • Klambu Suluk: Thoreqot Naqsyabandiyah Al kalidiyah...
    • ►  Januari (1)
  • ►  2016 (2268)
    • ►  November (101)
    • ►  Oktober (70)
    • ►  September (16)
    • ►  Agustus (72)
    • ►  Juli (144)
    • ►  Juni (246)
    • ►  Mei (273)
    • ►  April (189)
    • ►  Maret (174)
    • ►  Februari (408)
    • ►  Januari (575)
  • ►  2015 (1672)
    • ►  Desember (524)
    • ►  November (652)
    • ►  Oktober (453)
    • ►  September (43)
  • ►  2014 (1)
    • ►  September (1)
Tema Perjalanan. Diberdayakan oleh Blogger.