* UNTUK DIRENUNGKAN *
_```Setelah ayahnya meninggal dunia,
seorang anak telah mengantar ibunya ke panti jompo. Dia datang menengok
ibunya dari satu waktu ke waktu yang lain.```_
_```Pada satu hari
dia menerima panggilan dari panti jompo tersebut, yg mengabarkan kalau
ibunya dalam keadaan diujung nyawa & hampir meninggal. Dengan cepat
dia datang untuk berada di samping ibunya pada saat saat terakhir.```_
_```Dia bertanya kepada ibunya : Apakah yang ibu ingin saya lakukan untuk ibu.```_
_```Ibunya menjawab: Aku mau kamu sumbangkan kipas angin untuk panti
jompo ini, kerana disini tidak ada kipas angin.```_ _```Letakkan juga
kulkas, tukang masak dan makanan, kerana sering aku tertidur dalam
keadaan lapar tidak makan.```_
_```'Ibu kenapa pada saat seperti ini baru ibu menginginkan semua hal ini ?' Anak itu bertanya kembali.```_
_```Ibunya memberi alasan: Tidak apa apa anakku, ibu sudah bisa
menyesuaikan diri dengan kehidupan panas tanpa kipas dan lapar. CUMA IBU
BINGUNG & TAKUT NANTI SAAT ANAK-ANAK KAMU MENGANTAR KAMU KE SINI
KAMU TIDAK BISA MENYESUAIKAN DIRI'..```_
Renungkan lah
*Apa rasanya kalau ibu/ayah kita sendiri yg mengirim pesan berikut?*
*Anakku...*
_Bila aku tua,_
_Andai aku jatuhkan gelas atau terlepas piring dari genggamanku,_
_Aku berharap kamu tidak menjerit marah kepadaku,_
_Kerana tenaga orang tua sepertiku semakin tidak kuat dan kerana aku sakit._
_Pandangan mataku semakin kabur. Kamu harus mengerti dan bersabar denganku._
😔 *Anakku...*
_Bila aku tua,_
_Andai tutur kata ku lambat/perlahan dan aku tidak mampu mendengar apa yang kamu katakan,_
_Aku berharap kamu tidak menjerit padaku,_
*"Ibu tuli kah ?",*
*"Ibu bisu kah ? "*
_Aku minta maaf anakku._
_Aku semakin_ *MENUA...*
😟 *Anakku...*
_Bila aku tua,_
_Andai aku selalu saja bertanya tentang hal yang sama berulang-ulang,_
_Aku berharap kamu tetap sabar mendengar dan melayaniku, seperti aku sabar menjawab semua pertanyaanmu saat kamu kecil dulu,_
_Semua itu adalah sebagian dari proses_ *MENUA.*
_Kamu akan mengerti nanti bila kamu semakin tua._
😣 *Anakku...*
_Bila aku tua,_
_Andai aku berbau busuk, amis dan kotor,_
_Aku berharap kamu tidak tutup hidung atau muntah didepan aku._
_Dan tidak menjerit menyuruh aku mandi._
_Badan aku lemah._
_Aku tidak ada tenaga untuk melakukan semua itu sendiri._
_Mandikanlah aku seperti aku memandikanmu semasa kamu kecil dulu._
😷 *Anakku...*
_Bila aku tua,_
_seandainya aku sakit, temankan lah aku, aku ingin anakku berada bersamaku._
😭 *Anakku....*
_Bila aku tua dan waktu kematianku sudah tiba,_ _Aku berharap kamu akan
memegang tanganku dan memberi kekuatan untuk aku menghadapi
kematianku._
_Jangan cemas._
_Jangan menangis._
_Hadapi dengan keridhoan._
_Aku berjanji padamu._
_Bila aku bertemu_ *Allah.*
_Aku akan berbisik padaNya supaya senantiasa memberkati dan merahmati kamu kerana kamu sangat mencintai dan mentaatiku._
_Terima kasih banyak2 karena mencintaiku...._
_Terima kasih banyak2 kerana telah menjagaku..._
_Aku mencintai kamu lebih dari kamu mencintai dirimu sendiri.._
🔴 *Menjadi peringatan & pelajaran untuk kita kalau kita masih ada ibu & ayah.
Silakan share postingan diatas ke WA group keluarga atau WA pribadi keluarga sendiri.
Sebab kita tidak mau kita atau anak2 kita senantiasa berdosa dengan ibu & ayah kita atau ibu & ayah mereka...*
*RENUNGKAN LAH......*
*PADA SAAT INI KITALAH ANAK....DAN PADA SAATNYA NANTI KITALAH IBU/AYAH*
Ini ingatan untuk saya juga, & kalau saya ada kesalahan , silakan
tegur. Karena kita cuma manusia yg memiliki banyak kesalahan.
Minggu, 24 Juli 2016
Sabtu, 23 Juli 2016
15 PINTU SYAITAN YANG ADA DALAM DIRI KITA :
Bismillah... 15 PINTU SYAITAN YANG ADA DALAM DIRI KITA :
1. Pintu marah.
2. Cinta dunia.
3. Enggan menghadiri majlis ilmu.
4. Panjang angan-angan
5. Rakus.
6. Bakhil.
7. Suka pujian.
8. Riak.
9. Ujub (mengagumi diri sendiri).
10. Takut dan gelisah.
11. Buruk sangka.
12. Memandang rendah orang lain.
13. Suka pada dosa.
14. Merasa aman dari pembalasan Allah SWT.
15. Putus asa dari rahmat Allah SWT.
Semoga kita dijauhkanlah kami dari sifat-sifat diatas.
1. Pintu marah.
2. Cinta dunia.
3. Enggan menghadiri majlis ilmu.
4. Panjang angan-angan
5. Rakus.
6. Bakhil.
7. Suka pujian.
8. Riak.
9. Ujub (mengagumi diri sendiri).
10. Takut dan gelisah.
11. Buruk sangka.
12. Memandang rendah orang lain.
13. Suka pada dosa.
14. Merasa aman dari pembalasan Allah SWT.
15. Putus asa dari rahmat Allah SWT.
Semoga kita dijauhkanlah kami dari sifat-sifat diatas.
Para awliyaaullah adalah seperti gunung.
Para
awliyaaullah adalah seperti gunung.
Ada banyak gunung di bumi.
Ketika Allah menciptakan bumi, bumi terguncang.
Ia tidak seimbang,
jadi Allah meletakkan gunung-gunung di atasnya,
di mana-mana , untuk menahan bumi bersama-sama.
Awliyaaullah adalah gunung-gunung ini,
mereka mewakili pegunungan ini dalam dimensi spiritual.
Seorang wali bagaikan gunung
yang di dalamnya hidup binatang liar dan binatang jinak.
Apa yang hidup di gunung?
Segala jenis binatang, baik yang liar maupun yang jinak.
Burung-burung, ada yang buas dan ada yang tidak.
Ular, yang buas dan ada pula yang jinak;
misalnya ular-ular hitam ini yang biasanya baik untuk pertanian.
Kalajengking, ada kalajengking yang menyengat dan ada pula yang tidak.
Cacing, ada yang menggigit dan ada pula yang tidak.
Jadi
di pegunungan ini hidup segala jenis binatang.
Dan wali itu seperti gunung yang menanggung
semua perilaku baik dan buruk, karakter baik dan buruk dari para pengikutnya.
Dan itulah sebabnya mengapa
Mawlana membiarkan mereka dengan karakater liarnya,
untuk menyemir mereka, dan
beliau menjaga karakter jinaknya untuk membangun mereka!
Tetapi
beliau tidak pernah keberatan.
Gunung tidak pernah mengatakan,
“Mengapa binatang buas ini hidup dalam diriku?” atau
“Mengapa binatang jinak ini hidup dalam diriku?”
sama halnya dengan awliyaullah,
mereka tidak akan mengatakan hal itu.
Mereka akan mengatakan,
“Mengapa aku harus mengusir orang dengan sifat yang buruk ini?
Biarkan mereka tinggal dengan perilaku liarnya,
aku akan menyemirnya.
Dan orang yang jinak ini, biarkan ia tinggal,
aku akan meningkatkan levelnya.”
Saya tidak akan menentukan siapa yang liar atau siapa yang jinak;
orang dapat membedakannya sendiri.
Bisa saja kita semua liar atau semua jinak; atau kita bisa bercampur.
Grandsyekh (q) berkata,
“Kalian tidak akan pernah mendengar gunung itu menjawab balik.”
Lalu beliau berkata,
"Awliyaaullah bagaikan samudra."
Di samudra,
kalian mempunyai ikan liar dan ikan jinak.
Samudra itu tidak pernah berkata,
“Mengapa aku mempunyai ikan-ikan liar?”
Keduanya hidup di sana, yang liar dan yang jinak,
tetapi samudra itu menanggung lebih banyak dari pada gunung,
karena sampah apa pun yang dilemparkan bumi ini ke dalam samudra,
airnya tetap murni.
Kalian boleh berwudu dengan air itu,
tetapi kalian tidak bisa berwudu dengan air kolam.
Di dalam kolam,
dengan airnya yang sedikit, bila ada sampah masuk,
kalian tidak boleh berwudu atau mandi di dalamnya.
Tetapi di samudra, setiap saat,
jika kalian melompat ke dalam air dan keluar,
sudah termasuk wudu di dalamnya.
Bahkan jika seluruh selokan di dunia masuk ke dalamnya, tidak ada masalah.
Seluruh selokan di dunia,
jika semua air kotor yang berasal dari setiap manusia dan hewan
dimasukkan ke dalam samudra, ia tetap murni!
Dan tetap saja ia tidak mengatakan,
“Mengapa?” atau “Mengapa tidak?”, ia tetap diam.
“Tidak perlu merespon apa-apa tentang suatu isu.”
Kita bicara.
Mereka yang mau mengambil, dapat mengambilnya.
Mereka yang tidak mau, itu terserah mereka,
kita tidak campur tangan.
Iblis mempunyai setan bersamanya dan mereka senang bersamanya.
Awliyaaullah mempunyai muriid dengan mereka
dan mereka senang dengannya.
Pilihlah apa pun yang kalian sukai, mereka tidak peduli.
Tetapi ingatlah:
وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ
Fawqa kulli dzil `ilmin aliim.
Di atas setiap alim terdapat alim yang lebih tinggi.
Jangan coba-coba untuk menjadikan diri kalian sebagai seorang alim,
karena di atas kalian ada orang lain dan di atas orang itu,
ada orang lain lagi.
Itu tidak pernah berakhir!
Jadi apa tugas kita?
Mempersembahkan bunga dan berhati-hati,
karena fitnah muncul ketika kalian menolong orang
tetapi ia mengkhianati kalian,
lalu mereka memutarbalikkan segalanya
dan kalian menjadi orang yang dituduh menusuk mereka.
Ada banyak gunung di bumi.
Ketika Allah menciptakan bumi, bumi terguncang.
Ia tidak seimbang,
jadi Allah meletakkan gunung-gunung di atasnya,
di mana-mana , untuk menahan bumi bersama-sama.
Awliyaaullah adalah gunung-gunung ini,
mereka mewakili pegunungan ini dalam dimensi spiritual.
Seorang wali bagaikan gunung
yang di dalamnya hidup binatang liar dan binatang jinak.
Apa yang hidup di gunung?
Segala jenis binatang, baik yang liar maupun yang jinak.
Burung-burung, ada yang buas dan ada yang tidak.
Ular, yang buas dan ada pula yang jinak;
misalnya ular-ular hitam ini yang biasanya baik untuk pertanian.
Kalajengking, ada kalajengking yang menyengat dan ada pula yang tidak.
Cacing, ada yang menggigit dan ada pula yang tidak.
Jadi
di pegunungan ini hidup segala jenis binatang.
Dan wali itu seperti gunung yang menanggung
semua perilaku baik dan buruk, karakter baik dan buruk dari para pengikutnya.
Dan itulah sebabnya mengapa
Mawlana membiarkan mereka dengan karakater liarnya,
untuk menyemir mereka, dan
beliau menjaga karakter jinaknya untuk membangun mereka!
Tetapi
beliau tidak pernah keberatan.
Gunung tidak pernah mengatakan,
“Mengapa binatang buas ini hidup dalam diriku?” atau
“Mengapa binatang jinak ini hidup dalam diriku?”
sama halnya dengan awliyaullah,
mereka tidak akan mengatakan hal itu.
Mereka akan mengatakan,
“Mengapa aku harus mengusir orang dengan sifat yang buruk ini?
Biarkan mereka tinggal dengan perilaku liarnya,
aku akan menyemirnya.
Dan orang yang jinak ini, biarkan ia tinggal,
aku akan meningkatkan levelnya.”
Saya tidak akan menentukan siapa yang liar atau siapa yang jinak;
orang dapat membedakannya sendiri.
Bisa saja kita semua liar atau semua jinak; atau kita bisa bercampur.
Grandsyekh (q) berkata,
“Kalian tidak akan pernah mendengar gunung itu menjawab balik.”
Lalu beliau berkata,
"Awliyaaullah bagaikan samudra."
Di samudra,
kalian mempunyai ikan liar dan ikan jinak.
Samudra itu tidak pernah berkata,
“Mengapa aku mempunyai ikan-ikan liar?”
Keduanya hidup di sana, yang liar dan yang jinak,
tetapi samudra itu menanggung lebih banyak dari pada gunung,
karena sampah apa pun yang dilemparkan bumi ini ke dalam samudra,
airnya tetap murni.
Kalian boleh berwudu dengan air itu,
tetapi kalian tidak bisa berwudu dengan air kolam.
Di dalam kolam,
dengan airnya yang sedikit, bila ada sampah masuk,
kalian tidak boleh berwudu atau mandi di dalamnya.
Tetapi di samudra, setiap saat,
jika kalian melompat ke dalam air dan keluar,
sudah termasuk wudu di dalamnya.
Bahkan jika seluruh selokan di dunia masuk ke dalamnya, tidak ada masalah.
Seluruh selokan di dunia,
jika semua air kotor yang berasal dari setiap manusia dan hewan
dimasukkan ke dalam samudra, ia tetap murni!
Dan tetap saja ia tidak mengatakan,
“Mengapa?” atau “Mengapa tidak?”, ia tetap diam.
“Tidak perlu merespon apa-apa tentang suatu isu.”
Kita bicara.
Mereka yang mau mengambil, dapat mengambilnya.
Mereka yang tidak mau, itu terserah mereka,
kita tidak campur tangan.
Iblis mempunyai setan bersamanya dan mereka senang bersamanya.
Awliyaaullah mempunyai muriid dengan mereka
dan mereka senang dengannya.
Pilihlah apa pun yang kalian sukai, mereka tidak peduli.
Tetapi ingatlah:
وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ
Fawqa kulli dzil `ilmin aliim.
Di atas setiap alim terdapat alim yang lebih tinggi.
Jangan coba-coba untuk menjadikan diri kalian sebagai seorang alim,
karena di atas kalian ada orang lain dan di atas orang itu,
ada orang lain lagi.
Itu tidak pernah berakhir!
Jadi apa tugas kita?
Mempersembahkan bunga dan berhati-hati,
karena fitnah muncul ketika kalian menolong orang
tetapi ia mengkhianati kalian,
lalu mereka memutarbalikkan segalanya
dan kalian menjadi orang yang dituduh menusuk mereka.
BERSELAWAT
101 ALASAN AKU BERSELAWAT
LALU, APA ALASANMU SAHABAT?
1. Aku rindu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Tanpanya, aku tak mengenal Allah dan ajaran suci-Nya.
2. Aku ingin agar kelak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberiku syafaat di akhirat nanti. Aku ingin beliau menolongku pada saat Pengadilan Tuhan datang.
3. Aku ingin selalu dibimbing oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, sebab aku yakin, dia tetap hidup dan selalu ada di hatiku, duduk bersamaku, saat kuucapkan tahiyita pada shalat dan dzikirku.
4. Aku ingin selalu mendapat cinta Rasulullah, yang dapat mengantarkan cintaku kepada Allah.
5. Aku ingin merasakan kedamaian hati dan kebahagiaan batin, seperti yang dirasakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
6. Aku ingin mendapat pahala dari Allah dan mendapat kucuran berkah dan rezeki Ilahi, sebab aku berusaha meneladani Nabiku.
7. Aku ingin menanamkan semangat hidup seperti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam jiwaku.
8. Aku ingin menjadi kekasih Allah dengan cara mencintai kekasih-Nya.
9. Aku ingin mati dan dikenang sebagai umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.
10. Aku ingin meneladani ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan membaca selawat Nabi diharapkan agar Allah membukakan mati hatiku, memudahkan kesadaranku untuk tetap istiqamah di jalan yang diajarkan baginda Rasul.
11. Aku ingin agar Allah memberiku kemudahan, keluasan pikiran, kerendahan hati, keteguhan iman, kesabaran dan kedahsyatan keyakinan seperti yang diberikan Allah kepada kekasih-Nya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.
12. Aku ingin agar aku, saudaraku, suamiku/istriku, orangtuaku, kawanku, tetanggaku, mau meneladani ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan selawat Nabi yang aku panjatkan setiap saat, kelak menjadi doa untuk kami semua.
13. Aku tahu setiap aku shalat, tak ada rakaat yang sah, tanpa selawat Nabi, karenanya, tak ada satu shalat pun yang aku dirikan tanpa kehadiran Rasulullah, kekasih hatiku...Kekasih yang kelak mengantarkan aku, kepada Sang Kekasih Sejati, Allah SWT.
14. Aku berselawat untuk menurunkan demam panas anakku. Karena, aku tahu, Rasulullah adalah air kesejukan batin yang menyembuhkan dan menyegarkan jiwa setiap hamba Allah yang meniti jalan Rasul-Nya.
15. Aku berselawat atas Nabi, karena aku ingin selalu dibimbing, diajar, dikasihi dan disayang seperti baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
16. Aku berselawat atas Nabi karena aku membutuhkan pertolongan batin, saat aku berusaha meniti jalan Ilahi, belajar tentang makrifatullah. Tanpa bantuan Rasulullah, mustahil aku dapat menghadap-Nya.
17. Aku berselawat atas Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, khatamu-nabiyyin (penutup para Nabi), sebab tak ada Nabi setelahnya.
18. Aku berselawat atas Nabi Muhammad, sebab atas alasan inilah Allah menciptakan dunia.
19. Aku berselawat Nabi, karena aku merasakan sendiri kehadiran Nabi dalam setiap ibadah yang kujalankan. Praktis, semua ibadahku dimulai dan diakhiri dengan selawat.
20. Aku tak ingin menjadi umat yang sombong, kikir, bodoh dan tak tahu diri, yang tak pernah mau memahami makna selawat Nabi dalam kehidupan batinnya.
21. Aku tak ingin menjadi hamba Allah yang kufur dan sombong, sebab Allah dan Malaikat-Nya pun berselawat atas Nabi.
22. Aku ingin agar cinta Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi ruh yang menggairahkan jiwa setiap Mukmin hingga akhir zaman, sehingga ajaran Ilahi bisa diamalkan, dihayati dan dijalankan sesuai sunah Rasul-Nya.
23. Aku berselawat atas Nabi, sebab hanya beliaulah figur manusia satu-satunya yang perlu dipuja dari generasi ke generasi. Aku tak ingin anak-anakku lebih mengenal Katty Perry, Justin Beiber, Rihanna, dan arti lainnya, meski kini mereka masuk ke dinding-dinding rumah lewat radio, internet, televisi atau film.
24. Aku berselawat atas Nabi karena aku lebih mementingkan akhiratku daripada dunia yang fana. Karena itu, aku tak akan peduli dengan cemooh, hasutan, dan tuduhan bid’ah atas amalan ini. Sebab, aku yakin mereka yang tak paham, telah terkotori oleh cara berpikir rasional-empirik yang salah kaprah, cara berpikir golongan yang bersumber dari nafsu, dan cara pandang pada ajaran yang sangat kering dari spiritulitas dan menyepelekan sejarah, tidak menghargai Rasulullah, sahabat, ulama, wali, guru, nenek moyang dan para orangtua.
25. Aku berselawat Nabi agar Allah mau mengajarkan ilmu batin langsung kepadaku, melalui pancaran cahaya –Nya yang diberikan ke arah batinku, melalui hembusan nafasku saat mengucapkan selawat atas Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.
26. Aku berselawat Nabi agar karena, aku merasa Rasulullah adalah satu-satunya manusia yang diutus Allah kepadaku, kaumku, bangsaku dan duniaku. Aku tak pernah merasa dikecewakan oleh beliau, meski beliau telah meninggal, tapi aku masih bisa merasakan kehadirannya di setiap shalat dan dzkirku.
27. Aku berselawat Nabi, karena kalimat inilah yang pertama kali diajarkan oleh orangtuaku, saat aku dinina-bobokan, ditamang-timang, dibelai dan dimanja.
28. Aku berselawat Nabi, karena kalimat inilah yang dijarkan guruku saat menyelamatkan aku dari sakit selama berbulan-bulan. Selawat inilah yang menyadarkan aku tentang makna doa dan munajat kepada Allah, sebagai satu-satu Dzat yang disembah dan dimintai pertolongan.
29. Aku berselawat Nabi, karena kalimat ini yang dibisikan nenekku, ketika aku jatuh dari pohon belimbing di belakang rumah.
30. Aku berselawat Nabi, karena ini urusan pribadiku, antara aku, nabiku dan Tuhanku. Aku tak membutuhkan pemaksaan logikamu, sebab ini sangat pribadi buatku.
31. ..........................
32. .........................
33. ..............................
Saya meminta kawan-kawan yang memiliki pengalaman-pengalaman batin, termasuk mati suri (death experiences) atau sejenisnya untuk rela berbagi cerita. Silakan kirimkan pengalaman Anda ke Email: ambiya.halim@gmail.com or mobile: 082113300426.
PENGALAMAN ANDA AKAN DIBUKUKAN.
Salam,
Halim Ambiya
Founder & CEO Tasawuf Underground
LALU, APA ALASANMU SAHABAT?
1. Aku rindu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Tanpanya, aku tak mengenal Allah dan ajaran suci-Nya.
2. Aku ingin agar kelak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberiku syafaat di akhirat nanti. Aku ingin beliau menolongku pada saat Pengadilan Tuhan datang.
3. Aku ingin selalu dibimbing oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, sebab aku yakin, dia tetap hidup dan selalu ada di hatiku, duduk bersamaku, saat kuucapkan tahiyita pada shalat dan dzikirku.
4. Aku ingin selalu mendapat cinta Rasulullah, yang dapat mengantarkan cintaku kepada Allah.
5. Aku ingin merasakan kedamaian hati dan kebahagiaan batin, seperti yang dirasakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
6. Aku ingin mendapat pahala dari Allah dan mendapat kucuran berkah dan rezeki Ilahi, sebab aku berusaha meneladani Nabiku.
7. Aku ingin menanamkan semangat hidup seperti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam jiwaku.
8. Aku ingin menjadi kekasih Allah dengan cara mencintai kekasih-Nya.
9. Aku ingin mati dan dikenang sebagai umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.
10. Aku ingin meneladani ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan membaca selawat Nabi diharapkan agar Allah membukakan mati hatiku, memudahkan kesadaranku untuk tetap istiqamah di jalan yang diajarkan baginda Rasul.
11. Aku ingin agar Allah memberiku kemudahan, keluasan pikiran, kerendahan hati, keteguhan iman, kesabaran dan kedahsyatan keyakinan seperti yang diberikan Allah kepada kekasih-Nya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.
12. Aku ingin agar aku, saudaraku, suamiku/istriku, orangtuaku, kawanku, tetanggaku, mau meneladani ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan selawat Nabi yang aku panjatkan setiap saat, kelak menjadi doa untuk kami semua.
13. Aku tahu setiap aku shalat, tak ada rakaat yang sah, tanpa selawat Nabi, karenanya, tak ada satu shalat pun yang aku dirikan tanpa kehadiran Rasulullah, kekasih hatiku...Kekasih yang kelak mengantarkan aku, kepada Sang Kekasih Sejati, Allah SWT.
14. Aku berselawat untuk menurunkan demam panas anakku. Karena, aku tahu, Rasulullah adalah air kesejukan batin yang menyembuhkan dan menyegarkan jiwa setiap hamba Allah yang meniti jalan Rasul-Nya.
15. Aku berselawat atas Nabi, karena aku ingin selalu dibimbing, diajar, dikasihi dan disayang seperti baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
16. Aku berselawat atas Nabi karena aku membutuhkan pertolongan batin, saat aku berusaha meniti jalan Ilahi, belajar tentang makrifatullah. Tanpa bantuan Rasulullah, mustahil aku dapat menghadap-Nya.
17. Aku berselawat atas Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, khatamu-nabiyyin (penutup para Nabi), sebab tak ada Nabi setelahnya.
18. Aku berselawat atas Nabi Muhammad, sebab atas alasan inilah Allah menciptakan dunia.
19. Aku berselawat Nabi, karena aku merasakan sendiri kehadiran Nabi dalam setiap ibadah yang kujalankan. Praktis, semua ibadahku dimulai dan diakhiri dengan selawat.
20. Aku tak ingin menjadi umat yang sombong, kikir, bodoh dan tak tahu diri, yang tak pernah mau memahami makna selawat Nabi dalam kehidupan batinnya.
21. Aku tak ingin menjadi hamba Allah yang kufur dan sombong, sebab Allah dan Malaikat-Nya pun berselawat atas Nabi.
22. Aku ingin agar cinta Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi ruh yang menggairahkan jiwa setiap Mukmin hingga akhir zaman, sehingga ajaran Ilahi bisa diamalkan, dihayati dan dijalankan sesuai sunah Rasul-Nya.
23. Aku berselawat atas Nabi, sebab hanya beliaulah figur manusia satu-satunya yang perlu dipuja dari generasi ke generasi. Aku tak ingin anak-anakku lebih mengenal Katty Perry, Justin Beiber, Rihanna, dan arti lainnya, meski kini mereka masuk ke dinding-dinding rumah lewat radio, internet, televisi atau film.
24. Aku berselawat atas Nabi karena aku lebih mementingkan akhiratku daripada dunia yang fana. Karena itu, aku tak akan peduli dengan cemooh, hasutan, dan tuduhan bid’ah atas amalan ini. Sebab, aku yakin mereka yang tak paham, telah terkotori oleh cara berpikir rasional-empirik yang salah kaprah, cara berpikir golongan yang bersumber dari nafsu, dan cara pandang pada ajaran yang sangat kering dari spiritulitas dan menyepelekan sejarah, tidak menghargai Rasulullah, sahabat, ulama, wali, guru, nenek moyang dan para orangtua.
25. Aku berselawat Nabi agar Allah mau mengajarkan ilmu batin langsung kepadaku, melalui pancaran cahaya –Nya yang diberikan ke arah batinku, melalui hembusan nafasku saat mengucapkan selawat atas Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.
26. Aku berselawat Nabi agar karena, aku merasa Rasulullah adalah satu-satunya manusia yang diutus Allah kepadaku, kaumku, bangsaku dan duniaku. Aku tak pernah merasa dikecewakan oleh beliau, meski beliau telah meninggal, tapi aku masih bisa merasakan kehadirannya di setiap shalat dan dzkirku.
27. Aku berselawat Nabi, karena kalimat inilah yang pertama kali diajarkan oleh orangtuaku, saat aku dinina-bobokan, ditamang-timang, dibelai dan dimanja.
28. Aku berselawat Nabi, karena kalimat inilah yang dijarkan guruku saat menyelamatkan aku dari sakit selama berbulan-bulan. Selawat inilah yang menyadarkan aku tentang makna doa dan munajat kepada Allah, sebagai satu-satu Dzat yang disembah dan dimintai pertolongan.
29. Aku berselawat Nabi, karena kalimat ini yang dibisikan nenekku, ketika aku jatuh dari pohon belimbing di belakang rumah.
30. Aku berselawat Nabi, karena ini urusan pribadiku, antara aku, nabiku dan Tuhanku. Aku tak membutuhkan pemaksaan logikamu, sebab ini sangat pribadi buatku.
31. ..........................
32. .........................
33. ..............................
Saya meminta kawan-kawan yang memiliki pengalaman-pengalaman batin, termasuk mati suri (death experiences) atau sejenisnya untuk rela berbagi cerita. Silakan kirimkan pengalaman Anda ke Email: ambiya.halim@gmail.com or mobile: 082113300426.
PENGALAMAN ANDA AKAN DIBUKUKAN.
Salam,
Halim Ambiya
Founder & CEO Tasawuf Underground
MEMAHAMI ISYARAT CINTA ILAHI
MEMAHAMI ISYARAT CINTA ILAHI.
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan,
“Wahai anak muda!
Waspadalah jika Allah melihat di dalam hatimu ada selain Diri-Nya.
Waspadalah bahwa Allah melihat di dalam hatimu
ada rasa takut kepada selain Diri-Nya,
ada harapan kepada selain-Nya, dan
ada kecintaan kepada selain kepada-Nya.
Maka,
Hendaklah engkau berusaha membersihkan kalbumu dari selain Diri-Nya.
Hendaklah engkau tidak memandang kemudaratan ataupun manfaat
kecuali bahwa itu datang dari Allah.
Engkau selalu dalam rumah-Nya dan menjadi tamu-Nya.
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan,
“Wahai anak muda!
Waspadalah jika Allah melihat di dalam hatimu ada selain Diri-Nya.
Waspadalah bahwa Allah melihat di dalam hatimu
ada rasa takut kepada selain Diri-Nya,
ada harapan kepada selain-Nya, dan
ada kecintaan kepada selain kepada-Nya.
Maka,
Hendaklah engkau berusaha membersihkan kalbumu dari selain Diri-Nya.
Hendaklah engkau tidak memandang kemudaratan ataupun manfaat
kecuali bahwa itu datang dari Allah.
Engkau selalu dalam rumah-Nya dan menjadi tamu-Nya.
Wahai anak muda!
Ingatlah bahwa
segala sesuatu yang kau lihat berupa wajah-wajah yang dipoles
dan kau cintai adalah cinta yang semu,
yang menyebabkanmu dikenai hukuman.
Sebab,
cinta yang benar dan tidak akan mengalami perubahan adalah
cinta kepada Allah Azza wa Jalla.
Dialah yang seharusnya kau lihat dengan kedua mataharimu.
Itulah cinta orang-orang Shiddiq
yang dipenuhi limpahan keruhaniaan.
Mereka tidak mencintai dengan keimanan,
tetapi dengan keyakinan dan kesaksian.
Hijab mereka tersingkap dari mataharimu
sehingga engkau melihat perkara-perkara yang gaib.
Engkau melihat apa yang tidak mungkin dapat mereka jelaskan!”
--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Fath Ar-Rabbani
Ingatlah bahwa
segala sesuatu yang kau lihat berupa wajah-wajah yang dipoles
dan kau cintai adalah cinta yang semu,
yang menyebabkanmu dikenai hukuman.
Sebab,
cinta yang benar dan tidak akan mengalami perubahan adalah
cinta kepada Allah Azza wa Jalla.
Dialah yang seharusnya kau lihat dengan kedua mataharimu.
Itulah cinta orang-orang Shiddiq
yang dipenuhi limpahan keruhaniaan.
Mereka tidak mencintai dengan keimanan,
tetapi dengan keyakinan dan kesaksian.
Hijab mereka tersingkap dari mataharimu
sehingga engkau melihat perkara-perkara yang gaib.
Engkau melihat apa yang tidak mungkin dapat mereka jelaskan!”
--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Fath Ar-Rabbani
Kisah Cinta Rabi'ah Al Adawiyah
Kisah Cinta Rabi'ah Al Adawiyah
Ia adl wanita sufi yg hidup pd masa prtengahn awal (95 H - 185 H), zaman salafussoleh. Trkenal dgn konsep ketuhanannya, yaitu :
Tuhan adl Cinta Agung
Konsep tsb telah mberikn inspirasi baru yg segar dlm dunia sufi maupun akademisi. Mncerahkn konsep sblmnya, yg sdh cukup lama dkenalkn kaum sufi kpd masyarakat pd masa itu (guna mbendung gaya hidup mewah), yaitu : rindu syurga & takut neraka.
Inilah bait syair munajatnya, yg cukup populer spanjang masa :
Ya Allah ...
Jk aku mnyembah-Mu
krn takut pd neraka, mk bakarlah aku di dlm neraka.
Dan jk aku mnyembah-Mu krn mngharapkn surga, mk keluarknlah aku dr dlm surga.
Namun ...
Jk aku mnyembah-Mu demi cintakn Engkau, mk janganlah Engkau enggan mperlihatkn keindahan wajah-Mu yg kekal abadi kpdku.
Namanya Rabi'ah binti Ismail Al Adawiyah Al Bashriyah.
Rabi'ah brarti puteri ke empat, krn ia anak keempat dr empat perempuan brsaudara. Sdgkn Al Adawiyah adl gelarn utk sukunya, Qais bin 'Adi.
Ia trlahir d prkampungn dekat kota Basrah (Irak), pd malam hari dlm keadaan rumah gelap tiada minyak lampu & tiada kain pmbungkus bayi. Kecilnya, hidup dlm ksusahn. Remajanya, dtinggal mati kdua ibu bpknya, yg soleh. Dewasanya, dpekerjakn sbg budak, bekerja keras spanjang hari. Pahit getirnya roda khidupn, djalani dgn tenang & tabah. Senantiasa mghadiri majelis dzikir & mnghindari makanan haram, skalipun dlm ksusahn.
Hingga masanya, dgn rahmat Tuhan yg Mh Baik, brmulalah khidupn era baru dlm dirinya. Ia dmerdekakn dr prbudakn oleh tuannya tanpa tebusn speser apa pun.
Trlepaslah ia dr prbudakn kpd Tuan, mnuju pnghambaan total kpd Tuhan, cinta agungnya.
Kpergiannya k tanah suci mnunaikn ibdh haji, mrpkn langkah awal era barunya. Spulang haji, ia mnetap diri d kota Basrah, utk mngisi hidupnya dgn byk bribadah & mbantu sesama. Tdk sedikit org yg brkunjung kpdnya, utk mnimba ilmu & hikmah.
Pinangn kawin dr brbagai kalangan pria pun brdatangn. Semuanya dtolak dgn baik. Skalipun yg mminang adl Muhammad bin Sulaiman al-Hasyimi, seorg pmimpin Basrah, dgn cadangan mas kawin sbesar 100 ribu dinar emas d zamannya.
”Aku takut mrk akan mnyeretku secara halus dr cinta agungku kpd Tuhan ", bisiknya.
Tuhan telah brkata dlm hatinya :
“Jk engkau mnginginkn dunia ini, mk akan Aku berikan semua & Aku berkahi, tetapi Aku akan menyingkir dr dlm hatimu, sbb Aku tak mungkin brada d dlm hati yg mmiliki dunia ini.
Wahai Rabi’ah ... Aku mpunyai Khendak & begitu jg dgnmu. Aku tdk mungkin mnggabungkn 2 khendak itu d dlm satu hati.”
Dlm suatu kisah, sahabatnya Malik bin Dinar brkata pd Rabi’ah, “Aku memiliki teman2 yg kaya & jk engkau mbutuhkn bantuan aku akan mminta kpd mrk.”
Rabi’ah brkata, “Wahai Malik, engkau ini salah besar. Bukankah yg mberi makan mrk & aku sama ?”
Malik mnjwb, “Ya, mmg sama. Dialah Allah.”
Rabi’ah mngatakn, “Apakah Allah akan lupa kpd hamba-Nya yg miskin dkarenakn kmiskinannya ?
& Dia ingat kpd hamba-Nya yg kaya dkarenakn kkayaannya ?”
Malik mnyahut, “Tidak mungkin Tuhan demikian.”
Rabi’ah kembali mngatakn, “Krn Dia mngetahui keadaanku, mgp pula aku harus mngingatkan-Nya? Apa yang d-inginkan-Nya, kita harus mnerimanya dgn baik ...
Sungguh, aku sgt malu mminta kbutuhn duniawi kpd Pmilik dunia ini (Tuhan), bgmnlah aku harus mminta kpd yg bukan mmiliki dunia ini ?”
Munajatnya d malam hari :
Tuhanku ...
malam telah berlalu & siang segera mnampakkn diri.
Aku gelisah apakah amalanku Engkau terima,
hingga aku mrasa bahagia.
Ataukah Engkau tolak hingga aku mrasa bersedih.
Demi keagungn-Mu ...
sekiranya aku trusir dr depan pintu-Mu, aku tidak akan pergi.
Krn cintaku pd-Mu, telah Engkau penuhkn dlm hatiku.
Rabi’ah pernah dtanya org, apakah hakikat cinta itu ? Ia mjawab," Andaikn cintamu benar, artinya engkau mntaati-Nya. Krn org yg cinta akan selalu patuh kpd yg dcintai."
Seorg lelaki sufi pernah mperlihatkn karomahnya (kemuliaan dr Tuhan), dpt jalan & duduk di atas air.
Rabi’ah pun berkata, “Ketahuilah bhw apa yg kamu bisa buat, ikan pun bisa buat & aku yg diizinkn Allah bisa terbang di atas tanah, lalat pun bisa terbang ... Buatlah suatu yg lbh agung dr perkara yg luar biasa itu, yakni ktaatan & adab santun thd Allah.”
Rabi’ah jg pernah dtanya org, apakah ia mbenci syetan ? Ia mjawab, “Hati yg sdh Tuhan penuhkn dgn cinta hanya kpd-Nya, mnyebabkn syetan benci tanpa ia harus mbencinya."
D hujung umurnya yg semakin tua, sakit yg dderita telah mnjadikan tubuhnya lemah tdk brdaya. Seorg yg brkunjung brkata, "Brsabarlah, atas sakit yg engkau derita."
Jwb Rabi'ah, " Masih ada yg lbh indah drpd itu."
Yg lain brkata, "Redhalah, atas sakit yg engkau derita."
Jwb Rabi'ah, "Masih ada yg lbh indah drpd itu."
Yg lain pun ikut brkata, "Brsyukurlah, atas sakit yg engkau derita."
Jwb Rabi'ah, "Masih ada yg lbh indah drpd itu."
Semua yg hadir slg brpandangan & khabisn makna hikmah. Lalu brtanya, "Sebenarnya apakh yg engkau rasa dlm derita sakitmu itu ?"
Jwb Rabi'ah, "Cinta telah mbuat seseorg lupa atas deritanya sakit. Jk seorg hamba sdh lupa dgn derita, bgmn pula caranya utk brsabar, redha, & brsyukur ?"
Semua yg hadir tertunduk haru, mndengar jwbn hikmah itu.
Akhirnya ... Pertemuan indah yg selama ini dnantikannya pun tiba. Ruhnya telah kembali khadapn Allah, Tuhan cinta agungnya. Kota Basrah pun brkabung duka atas kpergiannya.
Ssdh kmatian Rabi’ah, seseorg pernah mmimpiknnya. Dia mlihat Rabi’ah dlm keadaan selamat sejahtera d alam kubur.
“Ya Rabi'ah, ceritakanlah bgmn keadaanmu d sana & bgmn engkau dpt lolos dr prtanyaan malaikat Munkar & Nakir ?”
Rabi’ah mnjawab, “Mrk datang mnghampiriku & brtanya, “Man Robbuka ? Siapakah Tuhanmu ?"
Aku katakn, “Kembalilah kalian brdua kpd Tuhan ... Mgp kalian tega brtanya spt itu kpdku ? D dunia saja, Tuhan tdk pernah mlupaknku wlwpun sesaat. Mgp pula d akhirat, Tuhan mlupakn hamba-Nya, perempuan tua ini ? Tuhan tdk mungkin lupa ..."
Firman Allah: “Dia mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya” (QS. Al Maidah : 59)
Salam sejahtera utkmu ... Rabi'ah Al Adawiyah.
Ia adl wanita sufi yg hidup pd masa prtengahn awal (95 H - 185 H), zaman salafussoleh. Trkenal dgn konsep ketuhanannya, yaitu :
Tuhan adl Cinta Agung
Konsep tsb telah mberikn inspirasi baru yg segar dlm dunia sufi maupun akademisi. Mncerahkn konsep sblmnya, yg sdh cukup lama dkenalkn kaum sufi kpd masyarakat pd masa itu (guna mbendung gaya hidup mewah), yaitu : rindu syurga & takut neraka.
Inilah bait syair munajatnya, yg cukup populer spanjang masa :
Ya Allah ...
Jk aku mnyembah-Mu
krn takut pd neraka, mk bakarlah aku di dlm neraka.
Dan jk aku mnyembah-Mu krn mngharapkn surga, mk keluarknlah aku dr dlm surga.
Namun ...
Jk aku mnyembah-Mu demi cintakn Engkau, mk janganlah Engkau enggan mperlihatkn keindahan wajah-Mu yg kekal abadi kpdku.
Namanya Rabi'ah binti Ismail Al Adawiyah Al Bashriyah.
Rabi'ah brarti puteri ke empat, krn ia anak keempat dr empat perempuan brsaudara. Sdgkn Al Adawiyah adl gelarn utk sukunya, Qais bin 'Adi.
Ia trlahir d prkampungn dekat kota Basrah (Irak), pd malam hari dlm keadaan rumah gelap tiada minyak lampu & tiada kain pmbungkus bayi. Kecilnya, hidup dlm ksusahn. Remajanya, dtinggal mati kdua ibu bpknya, yg soleh. Dewasanya, dpekerjakn sbg budak, bekerja keras spanjang hari. Pahit getirnya roda khidupn, djalani dgn tenang & tabah. Senantiasa mghadiri majelis dzikir & mnghindari makanan haram, skalipun dlm ksusahn.
Hingga masanya, dgn rahmat Tuhan yg Mh Baik, brmulalah khidupn era baru dlm dirinya. Ia dmerdekakn dr prbudakn oleh tuannya tanpa tebusn speser apa pun.
Trlepaslah ia dr prbudakn kpd Tuan, mnuju pnghambaan total kpd Tuhan, cinta agungnya.
Kpergiannya k tanah suci mnunaikn ibdh haji, mrpkn langkah awal era barunya. Spulang haji, ia mnetap diri d kota Basrah, utk mngisi hidupnya dgn byk bribadah & mbantu sesama. Tdk sedikit org yg brkunjung kpdnya, utk mnimba ilmu & hikmah.
Pinangn kawin dr brbagai kalangan pria pun brdatangn. Semuanya dtolak dgn baik. Skalipun yg mminang adl Muhammad bin Sulaiman al-Hasyimi, seorg pmimpin Basrah, dgn cadangan mas kawin sbesar 100 ribu dinar emas d zamannya.
”Aku takut mrk akan mnyeretku secara halus dr cinta agungku kpd Tuhan ", bisiknya.
Tuhan telah brkata dlm hatinya :
“Jk engkau mnginginkn dunia ini, mk akan Aku berikan semua & Aku berkahi, tetapi Aku akan menyingkir dr dlm hatimu, sbb Aku tak mungkin brada d dlm hati yg mmiliki dunia ini.
Wahai Rabi’ah ... Aku mpunyai Khendak & begitu jg dgnmu. Aku tdk mungkin mnggabungkn 2 khendak itu d dlm satu hati.”
Dlm suatu kisah, sahabatnya Malik bin Dinar brkata pd Rabi’ah, “Aku memiliki teman2 yg kaya & jk engkau mbutuhkn bantuan aku akan mminta kpd mrk.”
Rabi’ah brkata, “Wahai Malik, engkau ini salah besar. Bukankah yg mberi makan mrk & aku sama ?”
Malik mnjwb, “Ya, mmg sama. Dialah Allah.”
Rabi’ah mngatakn, “Apakah Allah akan lupa kpd hamba-Nya yg miskin dkarenakn kmiskinannya ?
& Dia ingat kpd hamba-Nya yg kaya dkarenakn kkayaannya ?”
Malik mnyahut, “Tidak mungkin Tuhan demikian.”
Rabi’ah kembali mngatakn, “Krn Dia mngetahui keadaanku, mgp pula aku harus mngingatkan-Nya? Apa yang d-inginkan-Nya, kita harus mnerimanya dgn baik ...
Sungguh, aku sgt malu mminta kbutuhn duniawi kpd Pmilik dunia ini (Tuhan), bgmnlah aku harus mminta kpd yg bukan mmiliki dunia ini ?”
Munajatnya d malam hari :
Tuhanku ...
malam telah berlalu & siang segera mnampakkn diri.
Aku gelisah apakah amalanku Engkau terima,
hingga aku mrasa bahagia.
Ataukah Engkau tolak hingga aku mrasa bersedih.
Demi keagungn-Mu ...
sekiranya aku trusir dr depan pintu-Mu, aku tidak akan pergi.
Krn cintaku pd-Mu, telah Engkau penuhkn dlm hatiku.
Rabi’ah pernah dtanya org, apakah hakikat cinta itu ? Ia mjawab," Andaikn cintamu benar, artinya engkau mntaati-Nya. Krn org yg cinta akan selalu patuh kpd yg dcintai."
Seorg lelaki sufi pernah mperlihatkn karomahnya (kemuliaan dr Tuhan), dpt jalan & duduk di atas air.
Rabi’ah pun berkata, “Ketahuilah bhw apa yg kamu bisa buat, ikan pun bisa buat & aku yg diizinkn Allah bisa terbang di atas tanah, lalat pun bisa terbang ... Buatlah suatu yg lbh agung dr perkara yg luar biasa itu, yakni ktaatan & adab santun thd Allah.”
Rabi’ah jg pernah dtanya org, apakah ia mbenci syetan ? Ia mjawab, “Hati yg sdh Tuhan penuhkn dgn cinta hanya kpd-Nya, mnyebabkn syetan benci tanpa ia harus mbencinya."
D hujung umurnya yg semakin tua, sakit yg dderita telah mnjadikan tubuhnya lemah tdk brdaya. Seorg yg brkunjung brkata, "Brsabarlah, atas sakit yg engkau derita."
Jwb Rabi'ah, " Masih ada yg lbh indah drpd itu."
Yg lain brkata, "Redhalah, atas sakit yg engkau derita."
Jwb Rabi'ah, "Masih ada yg lbh indah drpd itu."
Yg lain pun ikut brkata, "Brsyukurlah, atas sakit yg engkau derita."
Jwb Rabi'ah, "Masih ada yg lbh indah drpd itu."
Semua yg hadir slg brpandangan & khabisn makna hikmah. Lalu brtanya, "Sebenarnya apakh yg engkau rasa dlm derita sakitmu itu ?"
Jwb Rabi'ah, "Cinta telah mbuat seseorg lupa atas deritanya sakit. Jk seorg hamba sdh lupa dgn derita, bgmn pula caranya utk brsabar, redha, & brsyukur ?"
Semua yg hadir tertunduk haru, mndengar jwbn hikmah itu.
Akhirnya ... Pertemuan indah yg selama ini dnantikannya pun tiba. Ruhnya telah kembali khadapn Allah, Tuhan cinta agungnya. Kota Basrah pun brkabung duka atas kpergiannya.
Ssdh kmatian Rabi’ah, seseorg pernah mmimpiknnya. Dia mlihat Rabi’ah dlm keadaan selamat sejahtera d alam kubur.
“Ya Rabi'ah, ceritakanlah bgmn keadaanmu d sana & bgmn engkau dpt lolos dr prtanyaan malaikat Munkar & Nakir ?”
Rabi’ah mnjawab, “Mrk datang mnghampiriku & brtanya, “Man Robbuka ? Siapakah Tuhanmu ?"
Aku katakn, “Kembalilah kalian brdua kpd Tuhan ... Mgp kalian tega brtanya spt itu kpdku ? D dunia saja, Tuhan tdk pernah mlupaknku wlwpun sesaat. Mgp pula d akhirat, Tuhan mlupakn hamba-Nya, perempuan tua ini ? Tuhan tdk mungkin lupa ..."
Firman Allah: “Dia mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya” (QS. Al Maidah : 59)
Salam sejahtera utkmu ... Rabi'ah Al Adawiyah.
MENUNGGU HARI KEBANGKITAN JIWA
MENUNGGU HARI KEBANGKITAN JIWA.
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan:
Wahai anakku,
alangkah banyaknya perkataanmu dan alangkah sedikitnya amalmu.
Barangsiapa yang mengenal Allah SWT dalam setiap lisannya,
maka lisannya akan berbicara,
relung jiwanya akan jernih,
derajatnya akan naik di sisi-Nya,
merasa dekat dan tentram bersama-Nya,
serta merasa cukup dengan apa pemberian-Nya.
Wahai api kalbu, dinginlah, berilah keselamatan!
Wahai kalbu, bersiap-siaplah untuk menghadapi hari
dimana bumi dan semua gunung akan berjalan,
serta semua isi bumi akan keluar.
Di antara para lelaki, ada yang berdiri kokoh pada hari itu.
Seorang rabbani bisa berdiri kokoh pada hari itu dengan kedua kakinya,
keyakinanya, ketawakalannya, cintanya kepada Al-Khaliq,
serta kerinduannya kepada Allah
di atas kerinduan makrifat kepada-Nya sewaktu di dunia.
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan:
Wahai anakku,
alangkah banyaknya perkataanmu dan alangkah sedikitnya amalmu.
Barangsiapa yang mengenal Allah SWT dalam setiap lisannya,
maka lisannya akan berbicara,
relung jiwanya akan jernih,
derajatnya akan naik di sisi-Nya,
merasa dekat dan tentram bersama-Nya,
serta merasa cukup dengan apa pemberian-Nya.
Wahai api kalbu, dinginlah, berilah keselamatan!
Wahai kalbu, bersiap-siaplah untuk menghadapi hari
dimana bumi dan semua gunung akan berjalan,
serta semua isi bumi akan keluar.
Di antara para lelaki, ada yang berdiri kokoh pada hari itu.
Seorang rabbani bisa berdiri kokoh pada hari itu dengan kedua kakinya,
keyakinanya, ketawakalannya, cintanya kepada Al-Khaliq,
serta kerinduannya kepada Allah
di atas kerinduan makrifat kepada-Nya sewaktu di dunia.
Semua perantara
dan sekalian makhluk akan berjalan,
sedangkan Al-Khaliq ‘Azza wa Jalla tetap di tempat-Nya.
Semua gunung kerajaan zahir dan nyata akan berjalan dan akan semakin mengecil, sedangkan gunung kerajaan batin akan tampak dan kokoh di hari kiamat,
yaitu Hari Pergantian dan Perubahan.
Gunung-gunung yang kalian lihat,
yang membuat kalian takjub dengan kekuatannya,
kekerasannya dan keagungan ciptaannya,
akan menjadi seperti bulu-bulu yang beterbangan,
tercerabut dari tempatnya hingga ke akar-akarnya,
kekerasan dan kekokohannya akan hilang,
dan berjalan lebih cepat daripada awan.
Langit akan menjadi cairan timah, sifat langit dan bumi akan berubah.
Bagian dunia, hikmah, amalan dan beramal akan berakhir,
maka tibalah bagian akhirat,
qudrat Allah untuk memberi pahala segala amalan,
memberi panen hasil amal,
memberi ketentraman setelah beban penderitaan,
serta memberi setiap yang berhak mendapatkan karunia-Nya.
Ya Allah,
kokohkan hati kami dan semua anggota tubuh kami pada hari itu,
Berikanlah kami kebaikan di dunia dan akhirat,
serta lindungilah kami dari siksa api neraka.”
--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Kitab Jala’ Al-Khathir
sedangkan Al-Khaliq ‘Azza wa Jalla tetap di tempat-Nya.
Semua gunung kerajaan zahir dan nyata akan berjalan dan akan semakin mengecil, sedangkan gunung kerajaan batin akan tampak dan kokoh di hari kiamat,
yaitu Hari Pergantian dan Perubahan.
Gunung-gunung yang kalian lihat,
yang membuat kalian takjub dengan kekuatannya,
kekerasannya dan keagungan ciptaannya,
akan menjadi seperti bulu-bulu yang beterbangan,
tercerabut dari tempatnya hingga ke akar-akarnya,
kekerasan dan kekokohannya akan hilang,
dan berjalan lebih cepat daripada awan.
Langit akan menjadi cairan timah, sifat langit dan bumi akan berubah.
Bagian dunia, hikmah, amalan dan beramal akan berakhir,
maka tibalah bagian akhirat,
qudrat Allah untuk memberi pahala segala amalan,
memberi panen hasil amal,
memberi ketentraman setelah beban penderitaan,
serta memberi setiap yang berhak mendapatkan karunia-Nya.
Ya Allah,
kokohkan hati kami dan semua anggota tubuh kami pada hari itu,
Berikanlah kami kebaikan di dunia dan akhirat,
serta lindungilah kami dari siksa api neraka.”
--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Kitab Jala’ Al-Khathir
Langganan:
Postingan (Atom)
