KEDAHSYATAN SEDEKAH MENURUT RASULULLAH
Metode pendidikan ruhani yang diajarkan oleh Rasulullah SAW sungguh sangat relevan hingga kapan pun dan dimanapun. Zakat dan sedekah bukan hanya sebagai distribusi kekayaan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, namun juga pembersihan jiwa, latihan mental dan kesadaran ruhani. Hal ini terekam jelas dalam hadis-hadis yang memuat tentang zakat dan sedekah.
Rasulullah SAW bersabda, “Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersedekah dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana. “ (HR. Ath-Thabrani)
Membentengi harta dari hal-hal yang kotor berlaku bukan hanya bagi orang kaya, tapi bagi siapapun. Sebab, setiap jiwa mendapat rezekinya masing-masing, tak terkecuali. Zakat dan sedekah bukan hanya dapat membantu mereka yang daif dan miskin, namun juga dapat membersihkan jiwa, mengobati penyakit, memperlancar rezeki, memperpanjang umur, hingga dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Semuanya untuk kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.
Rasulullah SAW bersabda, “Tiap Muslim wajib bersedekah.”
Lalu para sahabat bertanya, “Bagaimana kalau dia tidak memiliki sesuatu?”
Nabi SAW menjawab, “Bekerja dengan ketrampilan tangannya agar bermanfaat bagi dirinya lalu dia bersedekah.”
Mereka bertanya lagi. Bagaimana kalau dia tidak mampu?”
Nabi menjawab: “Menolong orang yang memerlukan yang sedang teraniaya.”
Mereka bertanya: “Bagaimana kalau dia tidak melakukannya?”
Nabi menjawab: “Menyuruh berbuat ma’ruf.”
Mereka bertanya lagi: “Bagaimana kalau dia tidak melakukannya?”
Nabi SAW pun menjawab, “Mencegah diri dari berbuat kejahatan itulah sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah SAW juga bersabda, “Satu dirham memacu dan mendahului seratus ribu dirham.”
Para sahabat bertanya, “Bagaimana itu terjadi?”
Nabi SAW menjawab, “Seorang memiliki (hanya) dua dirham. Dia mengambil satu dirham dan bersedekah dengannya, dan seorang lagi memiliki harta-benda yang banyak, dia mengambil seratus ribu dirham untuk disedekahkannya. (HR. An-Nasaa’i)
Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa diberi Allah harta dan tidak menunaikan zakatnya kelak pada hari kiamat dia akan dibayang-bayangi dengan seekor ular bermata satu di tengah dan punya dua lidah yang melilitnya. Ular itu mencengkeram kedua rahangnya seraya berkata, “Aku hartamu, aku pusaka simpananmu.”
Kemudian Nabi SAW membaca firman Allah surat Ali Imran ayat 180: “Dan janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (HR. Bukhari)
Minggu, 02 Oktober 2016
MENGINTIP KEDEKATAN RASUL & WALI DENGAN TUHANNYA
MENGINTIP KEDEKATAN RASUL & WALI DENGAN TUHANNYA
Bagi Rasulullah, sahabat, ulama dan wali, gairah untuk berjumpa dengan Allah adalah segalanya.
Getar jiwanya selalu tersambung setiap saat kepada-Nya.
Setiap saat adalah perjuangan untuk tetap bersama-Nya. Tak ada sesuatu pun selain Allah dalam kalbunya.
"Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan janganlah ia mempersekutukan dengan siapa pun dalam beribadah kepada Tuhannya."(QS Al-Kahfi 18: 110)
Rasulullah dan para wali mampu berhubungan langsung dengan Allah. Layaknya kekasih atau pengantin. Ia laksana mahram Allah, sangat dekat, kenal dekat, dan selalu dekat.
Rasulullah bersabda:
"Aku punya waktu khusus dengan Allah; dimana malaikat terdekat, atau nabi yang diutus pun tidak akan memiliki kesempatan itu." (H.R. Ibu Rahawaih)
Rasulullah juga bersabda,
"Allah memiliki surga yang di dalamnya tidak ada bidadari dan istana, tanpa madu dan susu. Kenikmatan di surga itu hanya satu, yaitu melihat wajah Allah. Sebagaimana yang difirmankan Allah, "Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhan merekalah mereka melihat." (QS Al-Qiyamah 75: 22-23)
Moga bermanfaat!
Bagi Rasulullah, sahabat, ulama dan wali, gairah untuk berjumpa dengan Allah adalah segalanya.
Getar jiwanya selalu tersambung setiap saat kepada-Nya.
Setiap saat adalah perjuangan untuk tetap bersama-Nya. Tak ada sesuatu pun selain Allah dalam kalbunya.
"Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan janganlah ia mempersekutukan dengan siapa pun dalam beribadah kepada Tuhannya."(QS Al-Kahfi 18: 110)
Rasulullah dan para wali mampu berhubungan langsung dengan Allah. Layaknya kekasih atau pengantin. Ia laksana mahram Allah, sangat dekat, kenal dekat, dan selalu dekat.
Rasulullah bersabda:
"Aku punya waktu khusus dengan Allah; dimana malaikat terdekat, atau nabi yang diutus pun tidak akan memiliki kesempatan itu." (H.R. Ibu Rahawaih)
Rasulullah juga bersabda,
"Allah memiliki surga yang di dalamnya tidak ada bidadari dan istana, tanpa madu dan susu. Kenikmatan di surga itu hanya satu, yaitu melihat wajah Allah. Sebagaimana yang difirmankan Allah, "Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhan merekalah mereka melihat." (QS Al-Qiyamah 75: 22-23)
Moga bermanfaat!
JANGAN TERLALU PANJANG ANGAN-ANGANMU!
JANGAN TERLALU PANJANG ANGAN-ANGANMU!
Imam Al-Ghazali mengatakan, “Panjang angan adalah penghalang atas segala bentuk kebaikan dan ketaatan. Ia juga bisa mendatangkan keburukan dan godaan. Ini merupakan penyakit ganas yang membawa manusia kepada berbagai macam kerusakan. Ketahuilah jika engkau menjadi korban dari penyakit panjang angan ini, maka dosamu akan bertambah dengan empat macam dosa lagi.
Pertama, engkau akan malas melakukan ibadah dan ketaatan, dan akhirnya akan meninggalkan sama sekali. Nafsumu akan berkata, “Aku akan melakukannya nanti, karena waktu di hadapanku masih panjang. Aku tak akan ketinggalan.”
Yahya bin Muadz Ar-Razi mengatakan, “Panjang angan itu penghalang bagi setiap kebaikan, sedangkan tamak mencegah setiap kebenaran. Kesabaran membawa kepada kemenangan dan nafsu mengajak kepada setiap keburukan.”
Kedua, menunda-nunda tobat karena merasa umurnya panjang, Nafsunya akan berkata, :Aku akan bertobat nanti, waktunya masih masih lama. Aku masih muda, dan pintu tobat itu masih terbuka. Aku sanggup melakukannya kapan saja aku mau.” Dia lupa bahwa ajalnya akan tiba pada saat yang tidak diduga-duga.
Ketiga, lebih bersemangat mencari kekayaan dan harta dunia daripada berbuat untuk amal akhiratnya. Ia akan mengatakan, “Aku takut miskin di masa tuaku, di saat au sudah tak sanggup lagi berusaha. Maka aku harus mencari harta sebanyak-banyaknya yang dapat aku simpan untuk berjaga-jaga kalau aku sakit, tua atau jatuh miskin.” Sikap ini akan menggerakkan hati untuk tamak pada dunia dan terlalu berambisi mengejarnya. Dalam soal rezeki dia akan berkata, “Apa yang akan aku makan dan minum besok nanti? Apa yang aku pakai nanti? Bagaimana menghadapi musim dingin nanti?”
Keempat, menyebabkan hati menjadi keras dan lupa kepada akhirat. Sebab, jika engkau mengharapkan hidup yang lama, maka engkau tidak ingat kepada kematian dan kehidupan di alam kubur.”
--Imam Al-Ghazali dalam Minhajul ‘Abidin
Imam Al-Ghazali mengatakan, “Panjang angan adalah penghalang atas segala bentuk kebaikan dan ketaatan. Ia juga bisa mendatangkan keburukan dan godaan. Ini merupakan penyakit ganas yang membawa manusia kepada berbagai macam kerusakan. Ketahuilah jika engkau menjadi korban dari penyakit panjang angan ini, maka dosamu akan bertambah dengan empat macam dosa lagi.
Pertama, engkau akan malas melakukan ibadah dan ketaatan, dan akhirnya akan meninggalkan sama sekali. Nafsumu akan berkata, “Aku akan melakukannya nanti, karena waktu di hadapanku masih panjang. Aku tak akan ketinggalan.”
Yahya bin Muadz Ar-Razi mengatakan, “Panjang angan itu penghalang bagi setiap kebaikan, sedangkan tamak mencegah setiap kebenaran. Kesabaran membawa kepada kemenangan dan nafsu mengajak kepada setiap keburukan.”
Kedua, menunda-nunda tobat karena merasa umurnya panjang, Nafsunya akan berkata, :Aku akan bertobat nanti, waktunya masih masih lama. Aku masih muda, dan pintu tobat itu masih terbuka. Aku sanggup melakukannya kapan saja aku mau.” Dia lupa bahwa ajalnya akan tiba pada saat yang tidak diduga-duga.
Ketiga, lebih bersemangat mencari kekayaan dan harta dunia daripada berbuat untuk amal akhiratnya. Ia akan mengatakan, “Aku takut miskin di masa tuaku, di saat au sudah tak sanggup lagi berusaha. Maka aku harus mencari harta sebanyak-banyaknya yang dapat aku simpan untuk berjaga-jaga kalau aku sakit, tua atau jatuh miskin.” Sikap ini akan menggerakkan hati untuk tamak pada dunia dan terlalu berambisi mengejarnya. Dalam soal rezeki dia akan berkata, “Apa yang akan aku makan dan minum besok nanti? Apa yang aku pakai nanti? Bagaimana menghadapi musim dingin nanti?”
Keempat, menyebabkan hati menjadi keras dan lupa kepada akhirat. Sebab, jika engkau mengharapkan hidup yang lama, maka engkau tidak ingat kepada kematian dan kehidupan di alam kubur.”
--Imam Al-Ghazali dalam Minhajul ‘Abidin
RAHASIA NAMA MUHAMMAD
RAHASIA NAMA MUHAMMAD
Nabi Muhammad SAW adalah makhluk paling sempurna. Nama yang paling populer di langit dan bumi. Nama yang diberikan oleh Abdul Muthalib untuk kelahirannya.
Dalam kitab As-Safinah Al-Qadiriyah, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menjelaskan bahwa pada saat Abdul Muthalib memberi nama “Muhammad”, beliau ditanya oleh seseorang, “Mengapa cucumu diberi nama Muhammad? Bukankah ini adalah nama yang belum pernah digunakan oleh kaummu?”
Lalu, Abdul Muthalib menjawab, “Aku ingin dia dipuji, baik di bumi ataupun di langit.” Ini membuktikan bahwa Allah ternyata mengabulkan doanya, sebagaimana sesungguhnya telah dikehendak oleh Allah sendiri.
Pada suatu malam, Abdul Muthalib bermimpi melihat sebuah rantai yang terbuat dari perak keluar dari punggungnya. Rantai itu memiliki empat ujung; satu berada di langit, satu berada di bumi, satu berada di barat dan satu lagi berada di timur. Kemudian, rantai itu menyatu menjadi sebuah pohon. Setiap helai daunnya memancarkan cahaya. Semua orang, mulai dari barat sampai ke timur seolah-olah bergelantungan kepadanya.
Setelah mimpi itu diceritakan pada orang lain, mimpi tersebut ditafsirkan bahwa kelak dari keturunannya akan lahir seseorang yang menjadi tempat bergantung semua umat manusia. Semua makhluk yang ada di langit maupun di bumi memuji bayi tersebut.
Ibunda Siti Aminah pun pernah mendengar suara yang mengatakan, “Sungguh engkau telah mengandung seorang bayi yang akan memimpin umat ini. Jika engkau telah melahirkannya, maka berikan nama “Muhammad” untuknya. Sebab Allah telah menetapkan nama “Muhammad” ini untuknya, jauh sebelum Dia menciptakan seluruh makhluk-Nya.”
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Asakir dari Ka’ab Al-Akhbar bahwa Adam a.s. melihat nama “Muhammad” tertulis pada tiang ‘Arasy, di langit, pada setiap ruangan istana di surga, di sungai-sungai tempat pemandian bidadari, pada setiap helai daun pohon Thuba dan Sidratul Muntaha, pada ujung-ujung tirai, di kening para Malaikat, dan tidak ada seorang pun yang menggunakan nama “Muhammad” sebelum beliau. Tapi, pada saat kelahiran Muhammad sudah dekat dan ciri-cirinya tersebar luas di kalangan Ahlul-Kitab, maka mereka menggunakan nama tersebut untuk anak-anak mereka, dengan harapan salah satu dari keturunan mereka yang akan menjadi nabi.
Namun demikian, Allah SWT lebih tahu kepada siapa akan memberikan risalahnya. Saat itu jumlah orang yang bernama Muhammad sekitar lima belas orang.
Terdapat banyak perbedaan pendapat tentang nama Rasulullah SAW. Ada yang mengatakan bahwa namanya berjumlah 1000 dan ada pula yang mengatakan bahwa namanya berjumlah 2020 buah nama. Al-Hafizh Ibnu Dahiyah menyusun satu buah kitab yang menerangkan bahwa nama beliau berjumlah 300 buah.
Abu Abdillah Al-Qurthubi juga menyinggung tentang jumlah nama beliau, menurutnya jumlah nama Rasulullah sebanyak 300 buah. Syekh Burhanuddin Al-Halabi mengatakan, “Di Kairo aku menemukan dua jilid kitab yang berjudul Al-Mustaufa fi Asma Al-Musthafa. Al-Hafizh Al-Sakhawi mengumpulkan semua nama nabi sampai berjumlah 430 buah nama, tetapi nama yang paling akrab dan populer di telinga dan membuat gejolak rindu para pecintanya menjadi tenang adalah nama “Muhammad.”
--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab As-Safinah Al-Qadiriyah.
Nabi Muhammad SAW adalah makhluk paling sempurna. Nama yang paling populer di langit dan bumi. Nama yang diberikan oleh Abdul Muthalib untuk kelahirannya.
Dalam kitab As-Safinah Al-Qadiriyah, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menjelaskan bahwa pada saat Abdul Muthalib memberi nama “Muhammad”, beliau ditanya oleh seseorang, “Mengapa cucumu diberi nama Muhammad? Bukankah ini adalah nama yang belum pernah digunakan oleh kaummu?”
Lalu, Abdul Muthalib menjawab, “Aku ingin dia dipuji, baik di bumi ataupun di langit.” Ini membuktikan bahwa Allah ternyata mengabulkan doanya, sebagaimana sesungguhnya telah dikehendak oleh Allah sendiri.
Pada suatu malam, Abdul Muthalib bermimpi melihat sebuah rantai yang terbuat dari perak keluar dari punggungnya. Rantai itu memiliki empat ujung; satu berada di langit, satu berada di bumi, satu berada di barat dan satu lagi berada di timur. Kemudian, rantai itu menyatu menjadi sebuah pohon. Setiap helai daunnya memancarkan cahaya. Semua orang, mulai dari barat sampai ke timur seolah-olah bergelantungan kepadanya.
Setelah mimpi itu diceritakan pada orang lain, mimpi tersebut ditafsirkan bahwa kelak dari keturunannya akan lahir seseorang yang menjadi tempat bergantung semua umat manusia. Semua makhluk yang ada di langit maupun di bumi memuji bayi tersebut.
Ibunda Siti Aminah pun pernah mendengar suara yang mengatakan, “Sungguh engkau telah mengandung seorang bayi yang akan memimpin umat ini. Jika engkau telah melahirkannya, maka berikan nama “Muhammad” untuknya. Sebab Allah telah menetapkan nama “Muhammad” ini untuknya, jauh sebelum Dia menciptakan seluruh makhluk-Nya.”
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Asakir dari Ka’ab Al-Akhbar bahwa Adam a.s. melihat nama “Muhammad” tertulis pada tiang ‘Arasy, di langit, pada setiap ruangan istana di surga, di sungai-sungai tempat pemandian bidadari, pada setiap helai daun pohon Thuba dan Sidratul Muntaha, pada ujung-ujung tirai, di kening para Malaikat, dan tidak ada seorang pun yang menggunakan nama “Muhammad” sebelum beliau. Tapi, pada saat kelahiran Muhammad sudah dekat dan ciri-cirinya tersebar luas di kalangan Ahlul-Kitab, maka mereka menggunakan nama tersebut untuk anak-anak mereka, dengan harapan salah satu dari keturunan mereka yang akan menjadi nabi.
Namun demikian, Allah SWT lebih tahu kepada siapa akan memberikan risalahnya. Saat itu jumlah orang yang bernama Muhammad sekitar lima belas orang.
Terdapat banyak perbedaan pendapat tentang nama Rasulullah SAW. Ada yang mengatakan bahwa namanya berjumlah 1000 dan ada pula yang mengatakan bahwa namanya berjumlah 2020 buah nama. Al-Hafizh Ibnu Dahiyah menyusun satu buah kitab yang menerangkan bahwa nama beliau berjumlah 300 buah.
Abu Abdillah Al-Qurthubi juga menyinggung tentang jumlah nama beliau, menurutnya jumlah nama Rasulullah sebanyak 300 buah. Syekh Burhanuddin Al-Halabi mengatakan, “Di Kairo aku menemukan dua jilid kitab yang berjudul Al-Mustaufa fi Asma Al-Musthafa. Al-Hafizh Al-Sakhawi mengumpulkan semua nama nabi sampai berjumlah 430 buah nama, tetapi nama yang paling akrab dan populer di telinga dan membuat gejolak rindu para pecintanya menjadi tenang adalah nama “Muhammad.”
--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab As-Safinah Al-Qadiriyah.
Kalbu para Awlya'
Lihatlah bulan
masih nampak mengambang di atas birunya lautan
yang mulai menghitam.
Begitulah gambaran kalbu para Awlya' Allah SWT.
Kalbu para Awlya'
senantiasa bersih dan suci
sehingga kemurniannya dapat menangkap cahaya Ilahiah.
Allah SWT berfirman dalam suatu hadits qudsi bahwa,"
Dunia ini tidak akan mampu menampung -Ku,
namun kalbu hamba -Ku yang mampu menampung -Ku ".
Maksudnya adalah bahwa
ketika seseorang mencapai suatu pemurnian
maka kalbu yang murni itu mengalami pencerahan,
karena menghirup sesuatu dari Allah SWT
ketika mereka beribadah kepada-Nya.
Kalbu tersebut akan mampu menampung tajali dari Nur Ilahiah.
Para Awlya' Allah SWT
selalu berada pada ketulusan hati
sehingga ibadah-ibadah yang mereka persembahkan untuk Allah SWT
adalah murni tanpa pamrih,
dan pelayanan-pelayanan yang mereka tunjukkan kepada setiap orang
yang mendatanginya pun tulus.
Allah SWT berfirman bahwa orang-orang beriman
"Yan zuru binurrillah..
"mereka melihat dengan cahaya Allah SWT.
Sebagaimana yang kita lihat pada permukaan air laut
yang menangkap cahaya rembulan dan membiaskannya,
sehingga seolah rembulan tersebut nampak berada pada permukaan air laut.
Begitulah kalbu para Awlya' Allah SWT.
Kalbu mereka selalu terhubung kepada Allah SWT,
sehingga apapun yang mereka sampaikan adalah
apa-apa yang ingin Allah SWT sampaikan kepada kita.
Allah SWT pun dalam Al-Qur'an suci mengatakan bahwa
ketika di hari akhir, Allah SWT tidak menginginkan apapun dari kita
melainkan kalbu salim, yaitu kalbu yang mengalami pemurnian sempurna.
Allah SWT akan bertanya..
"Wahai hamba-Ku.. apa yang kau bawa hari ini untuk menemui-Ku? "...
Ketika seseorang menjawab,
"Wahai Allah SWT.. aku datang dengan membawa amalan ku... "
maka iapun akan di hisab.
Begitu pula ketika seseorang datang menemui Allah SWT
pada hari akhir dengan membawa beban dosa,
maka ia tak akan luput dari hisab.
Namun,
ketika seseorang datang menemui Allah SWT dengan kalbu salim,
maka Allah SWT akan puas terhadapnya.
Karena Allah SWT melihat cahya Diri-Nya
berada pada kalbu hamba tersebut.
Penting sekali bagi kita untuk belajar dan selalu berusaha
untuk membersihkan kalbu kita,
karena mata serta telinga dan indra-indra ragawi kita
selalu berhubungan dengan dunia.
Dunia dapat memproduksi kotoran bagi kalbu kita.
Untuk itulah kita di ajarkan dengan banyak amalan-amalan dan mujahadah
oleh Syaikh qs kita, adalah berfungsi untuk membersihkan kalbu kita.
Mereka para Awlya'
selalu mengerjakan amalan-amalan yang banyak secara istiqomah setiap hari
dan mereka tulus terhadap apa yang mereka kerjakan,
sehingga kalbu mereka dapat menghirup sesuatu dari Allah SWT.
Tidak seperti kita orang-orang awam
yang masih tidak tulus kepada Allah SWT
sehingga kalbu kita selalu gelap penuh kotoran.
Para Awlya' bagaikan purnama
yang membiaskannya cahaya dari matahari.
Maksudnya adalah bahw para Awlya'
tidak memiliki cahaya sendiri,
namun
mereka menerima serta mentransmisikan, membiaskan cahaya
dari kalbu Rosulullah SAW yang merupakan cahaya Allah SWT.
(Sh Matyu Ahmad)
masih nampak mengambang di atas birunya lautan
yang mulai menghitam.
Begitulah gambaran kalbu para Awlya' Allah SWT.
Kalbu para Awlya'
senantiasa bersih dan suci
sehingga kemurniannya dapat menangkap cahaya Ilahiah.
Allah SWT berfirman dalam suatu hadits qudsi bahwa,"
Dunia ini tidak akan mampu menampung -Ku,
namun kalbu hamba -Ku yang mampu menampung -Ku ".
Maksudnya adalah bahwa
ketika seseorang mencapai suatu pemurnian
maka kalbu yang murni itu mengalami pencerahan,
karena menghirup sesuatu dari Allah SWT
ketika mereka beribadah kepada-Nya.
Kalbu tersebut akan mampu menampung tajali dari Nur Ilahiah.
Para Awlya' Allah SWT
selalu berada pada ketulusan hati
sehingga ibadah-ibadah yang mereka persembahkan untuk Allah SWT
adalah murni tanpa pamrih,
dan pelayanan-pelayanan yang mereka tunjukkan kepada setiap orang
yang mendatanginya pun tulus.
Allah SWT berfirman bahwa orang-orang beriman
"Yan zuru binurrillah..
"mereka melihat dengan cahaya Allah SWT.
Sebagaimana yang kita lihat pada permukaan air laut
yang menangkap cahaya rembulan dan membiaskannya,
sehingga seolah rembulan tersebut nampak berada pada permukaan air laut.
Begitulah kalbu para Awlya' Allah SWT.
Kalbu mereka selalu terhubung kepada Allah SWT,
sehingga apapun yang mereka sampaikan adalah
apa-apa yang ingin Allah SWT sampaikan kepada kita.
Allah SWT pun dalam Al-Qur'an suci mengatakan bahwa
ketika di hari akhir, Allah SWT tidak menginginkan apapun dari kita
melainkan kalbu salim, yaitu kalbu yang mengalami pemurnian sempurna.
Allah SWT akan bertanya..
"Wahai hamba-Ku.. apa yang kau bawa hari ini untuk menemui-Ku? "...
Ketika seseorang menjawab,
"Wahai Allah SWT.. aku datang dengan membawa amalan ku... "
maka iapun akan di hisab.
Begitu pula ketika seseorang datang menemui Allah SWT
pada hari akhir dengan membawa beban dosa,
maka ia tak akan luput dari hisab.
Namun,
ketika seseorang datang menemui Allah SWT dengan kalbu salim,
maka Allah SWT akan puas terhadapnya.
Karena Allah SWT melihat cahya Diri-Nya
berada pada kalbu hamba tersebut.
Penting sekali bagi kita untuk belajar dan selalu berusaha
untuk membersihkan kalbu kita,
karena mata serta telinga dan indra-indra ragawi kita
selalu berhubungan dengan dunia.
Dunia dapat memproduksi kotoran bagi kalbu kita.
Untuk itulah kita di ajarkan dengan banyak amalan-amalan dan mujahadah
oleh Syaikh qs kita, adalah berfungsi untuk membersihkan kalbu kita.
Mereka para Awlya'
selalu mengerjakan amalan-amalan yang banyak secara istiqomah setiap hari
dan mereka tulus terhadap apa yang mereka kerjakan,
sehingga kalbu mereka dapat menghirup sesuatu dari Allah SWT.
Tidak seperti kita orang-orang awam
yang masih tidak tulus kepada Allah SWT
sehingga kalbu kita selalu gelap penuh kotoran.
Para Awlya' bagaikan purnama
yang membiaskannya cahaya dari matahari.
Maksudnya adalah bahw para Awlya'
tidak memiliki cahaya sendiri,
namun
mereka menerima serta mentransmisikan, membiaskan cahaya
dari kalbu Rosulullah SAW yang merupakan cahaya Allah SWT.
(Sh Matyu Ahmad)
AKU INGIN BELAJAR MENCINTAIMU
AKU INGIN BELAJAR MENCINTAIMU
Rasulullah SAW bersabda,
“Jika Allah mencintai seorang hamba,
maka Dia akan memberinya cobaan.
Jika ia bersabar, maka Dia akan memilihnya.
Dan, jika ia rela (menerima cobaan itu), maka Dia akan menyucikannya.”
(HR Ad-Dailami melalui jalur Ali bin Abi Thalib)
Menurut Imam Al-Ghazali,
indikasi paling penting tentang kecintaan Allah kepada seorang hamba adalah
kecintaan hamba itu sendiri kepada Allah.
Hal tersebut sekaligus merupakan bukti kecintaan Allah kepada hamba itu.
Sedangkan perbuatan yang menunjukkan bahwa seorang hamba dicintai Allah adalah
bahwa Dia membimbing langsung semua urusannya,
baik lahir maupun batin,
baik secara terang-terangan ataupun rahasia.
Dialah yang memberi petunjuk kepadanya, menghiasi akhlaknya,
yang menggerakkan seluruh organ tubuhnya,
serta meluruskan lahir dan batinnya.
Dialah yang akan memfokuskan cita-citanya pada satu tujuan
(yakni Allah SWT),
menutup hatinya dari dunia,
dan merasa tidak berkepentingan terhadap selain Dia.
Dialah yang menjadikan hamba tersebut merasa puas
menikmati munajat dalam khalwat (kesendiriannya),
juga menyingkap tabir antara Dia dan makrifat.
--Imam Al-Ghazali dalam Kitab Al-Mahabbah wa al-Syawq wa al-Uns wa al-Ridha.
Rasulullah SAW bersabda,
“Jika Allah mencintai seorang hamba,
maka Dia akan memberinya cobaan.
Jika ia bersabar, maka Dia akan memilihnya.
Dan, jika ia rela (menerima cobaan itu), maka Dia akan menyucikannya.”
(HR Ad-Dailami melalui jalur Ali bin Abi Thalib)
Menurut Imam Al-Ghazali,
indikasi paling penting tentang kecintaan Allah kepada seorang hamba adalah
kecintaan hamba itu sendiri kepada Allah.
Hal tersebut sekaligus merupakan bukti kecintaan Allah kepada hamba itu.
Sedangkan perbuatan yang menunjukkan bahwa seorang hamba dicintai Allah adalah
bahwa Dia membimbing langsung semua urusannya,
baik lahir maupun batin,
baik secara terang-terangan ataupun rahasia.
Dialah yang memberi petunjuk kepadanya, menghiasi akhlaknya,
yang menggerakkan seluruh organ tubuhnya,
serta meluruskan lahir dan batinnya.
Dialah yang akan memfokuskan cita-citanya pada satu tujuan
(yakni Allah SWT),
menutup hatinya dari dunia,
dan merasa tidak berkepentingan terhadap selain Dia.
Dialah yang menjadikan hamba tersebut merasa puas
menikmati munajat dalam khalwat (kesendiriannya),
juga menyingkap tabir antara Dia dan makrifat.
--Imam Al-Ghazali dalam Kitab Al-Mahabbah wa al-Syawq wa al-Uns wa al-Ridha.
AL-HIKMAH
Sahabat Hikmah...
Apa sebenarnya HIKMAH itu ?
Mengapa kami membuat "KATA-KATA HIKMAH" ?
Dalam Al Quran Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya) :
”Allah menganugrahkan AL- HIKMAH kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi AL-HIKMAH itu, ia benar-benar telah dianugrahi KARUNIA yang BANYAK. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran.” (QS Al Baqarah : 269)
Definisi AL-HIKMAH secara bahasa menurut kamus bahasa Arab, AL-HIKMAH berarti :kebijaksanaan, pendapat atau pikiran yang bagus, pengetahuan, filsafat, kenabian, keadilan, peribahasa (kata-kata bijak), dan al-Qur’anul karim.
Sedangkan Imam al-Jurjani rahimahullah dalam kitabnya memberikan makna AL-HIKMAH secara bahasa artinya : ilmu yang disertai amal (perbuatan), atau perkataan yang logis dan bersih dari kesia-siaan.
AL-HIKMAH juga bermakna : kumpulan keutamaan dan kemuliaan yang mampu membuat pemiliknya menempatkan sesuatu pada tempatnya (proporsional/ADIL)
AL-HIKMAH juga merupakan ungkapan dari perbuatan seseorang yang dilakukan pada waktu yang tepat dan dengan cara yang tepat pula.
Orang yang ahli ilmu HIKMAH disebut al-Hakim, bentuk jamaknya (plural) adalah al-Hukama. Yaitu orang-orang yang perkataan dan perbuatannya sesuai dengan sunnah Rasulullah.”.
Para ulama tafsir rahimahumullah juga mempunyai definisi masing-masing tentang ilmu AL-HIKMAH. Yang mana antar pendapat tersebut saling berkaitan dan melengkapi satu sama lain.
Imam Mujahid mengartikan AL-HIKMAH, “Benar dalam perkataan dan perbuatan”.
Ibnu Zaid memaknai, “Cendekia dalam memahami agama.”
Malik bin Anas mengartikan, “Pengetahuan dan pemahaman yang dalam terhadap agama Allah, lalu mengikuti ajarannya.”
Ibnul Qasim mengatakan, “Memahami ajaran agama Allah lalu mengikutinya dan mengamalkannya.”
Imam Ibrahim an-Nakho’i mengartikan, “Memahami apa yang dikandung al-Qur’an.”
Imam as-Suddiy mengartikan AL-HIKMAH dengan an-Nubuwwah (kenabian).
Ar-rabi’ bin Anas berkata, “Rasa takut kepada Allah.”
Hasan al-Bashri memaknai, “Sifat wara’ (hati-hati dalam masalah halal dan haram).”
Imam al-Qurthubi berkata, “Semua makna di atas saling berkaitan satu sama lain, kecuali pendapat as-Suddi, ar-Rabi’ dan al-Hasan. Ketiga pendapat mereka saling berdekatan satu sama lain. Karena AL-HIKMAH sumbernya dari AL-AHKAM. Yang artinya mumpuni dalam perkataan dan perbuatan. Dan semua makna yang disebutkan di atas adalah bagian dari AL-HIKMAH. Al-Qur’an itu HIKMAH, sunnah Rasulullah juga HIKMAH.”
Imam at-Thabari rahimahullah menambahkan, “Menurut kami, makna HIKMAH yang tepat adalah ilmu tentang hukum-hukum Allah yang tidak bisa dipahaminya kecuali melalui penjelasan Rasulullah. Dengan begitu al-HIKMAH disini berasal dari kata al-Hukmu yang bermakna penjelasan antara yang haq dan yang bathil. Seperti kalimat al-Jilsah berasal dari kata al-Julus. Kalau dikatakan bahwa si Fulan itu orang yang Hakiim, berarti dia itu orang yang benar dalam perkataan dan perbuatan.”
HIKMAH itu adalah Setiap perkataan yang benar yang menyebabkan perbuatan yang benar.
HIKMAH ialah: ilmu yang bermanfaat dan amal shaleh, kebenaran dalam perbuatan dan perkataan, mengetahui kebenaran dan mengamalkanya.
Dengan demikian tepat sekali pemahaman tersebut dengan hadits berikut:
” Barang siapa yang Allah menghendaki KEBAIKAN kepadanya, maka Allah menjadikan dia ‘FAQIH’ (FAHAM yang MENDALAM) dalam ilmu AGAMA” (Muttafaqun 'alaih)
Abu ja’far Muhammad menyebutkan apabila di dalam Al-Qur’an di sebutkan kata kata HIKMAH setelah al kitab yaitu maksudnya Al Quran dan ASSUNNAH.
Perhatikanlah ayat-ayat berikut, misalnya: Artinya: “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayatEngkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-HIKMAH (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana”. (Al baqarah 129)
Artinya : “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka danmengajarkan kepada mereka Kitab dan AL-HIKMAH (as-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata, (QS. at. Jumu’ah: 2).
Jadi tidak cukup hanya dengan Al-Quran saja tanpa dengan Al-Hikmah yang berarti Assunnah atau pemahaman yang benar tentang Al-Quran tersebut. Itulah mengapa Assunnah ini disebut Al-Hikmah.
Sehingga orang yang dianugerahi HIKMAH adalah:
- Orang yang mempunyai ilmu mendalam dan mampu mengamalkannya.
- Orang yang benar dalam perkataan dan perbuatan.
- Orang yang menempatkan sesuatu sesuai pada tempatnya (adil).
- Orang yang melakukan atau tidak melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang seharusnya dilakukan atau tidak dilakukan.
- Orang yang mampu memahami dan menerapkan hukum Allah.
HIKMAH bisa didapat dari siapa saja dan dalam peristiwa apa saja.
“Ambillah hikmah yang kamu dengan dari siapa saja, sebab hikmah itu kadang-kadang diucapkan oleh seseorang yang bukan ahli hikmah. Bukankah ada lemparan yang mengenai sasaran tanpa disengaja?” (HR. Al-Askari dari Anas ra dalam kitab Kashful Khafa’ Jilid II, h.62)
“Hikmah laksana hak milik seorang mukmin yang hilang. Di manapun ia menjumpainya, di sana ia berhak mengambilnya” (HR. Al-Askari dari Anas ra)
Begitu banyak ilmu dan hikmah yang disebarkan Allah subhana wata’ala di dunia ini. Sering kita menemukannya dari pelajaran di lembaga pendidikan, majlis ta’lim, nasihat-nasihat orang tua, diskusi dengan teman, bahkan saat kita menyaksikan apa yang terjadi di penjuru langit dan bumi. Kekayaan ilmu yang Allah miliki tak pernah terbatas dan akan diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Dan setelah kita mendapatkan HIKMAH tersebut kita WAJIB menyampaikan, mendakwahkan, sesuai firman Allah (yang artinya):
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan AL-HIKMAH dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS An-Naml: 125)
Untuk itu silahkan HIKMAH yang sudah didapat dishare kepada sahabat lain, atau ajak sahabat lain untuk mengikuti grup atau fan page ini.
Wallahu a'lam bishowab
Semoga bermanfaat.
O.F.A
Link terkait tulisan ini:

Langganan:
Postingan (Atom)