Senin, 31 Oktober 2016

Carilah Ilmu Sejati!

Carilah Ilmu Sejati!

(Lefke, Siprus: 15 Muharram 1425/6 Maret 2004)
A'uudzu billaahi minas-syaythaanir-rajiim
Bismillahir-rahmanir-rahiim
la hawla wa la quwatta illa bi-llaahi-l 'Aliyu-l 'Azhim.
Dastur yaa Sayyidi, Madad!
Ini adalah sebuah asosiasi...
Profesor da Costa—
siapakah sebenarnya seorang profesor itu? 
Seorang profesor adalah seseorang yang, 
bila ia ditanya, 
bisa memberikan sebuah jawaban untuk segalanya. 
Jika tidak—ia bukan seorang profesor!

Yaa Allah, yaa Allah... `
Allimnaa, yaa Rabbii! 
Subhaanaka la `ilma lanaa illa ma `allamtanaa [2:32]

`ilm, ilmu—
jika Allah SWT memberi ilmu kepada hamba-hamba-Nya, 
ia dapat mengetahui (tentang suatu hal). 
Itu disebut `ilmun naafii`, ilmu yang bermanfaat. 

Ilmu harus dapat memberi manfaat, 
ia bukanlah suatu ziina, dekorasi. 
Tidak! 
Ilmu adalah suatu pemberian dari Allah SWT 
untuk mengaspali jalan menuju Hadirat Ilahi. 
Itulah tujuan utama dari suatu ilmu.

Mengapa kita belajar?

Dewasa ini 
orang hanya belajar untuk dunia, 
tetapi itu bukanlah ilmu sejati. 

Dengan segala macam hal yang kalian pelajari, 
kalian harus bertanya pada diri sendiri,
 “Apa yang menjadi targetku?”
Apakah itu untuk meraih dunia? 
Dan kalian telah berada di dunia, 
tetapi masih mencari lebih banyak dari dunia ini—
selalu meminta lebih banyak lagi. 
“Jika sekarang aku mempunyai 10 dolar, 
besok aku harus mendapatkan 100 dolar. 
Bagaimana aku bisa mendapatkan 100 dolar? 
Aku harus lihat! 
Dan Aku akan berusaha untuk menemukan jalan 
untuk mencapai 1000 dolar.”
Lalu Setan datang dan berkata,
 “Itu tidak cukup, 
engkau harus berusaha untuk mencapai 10.000 dolar, 
jadi temukanlah jalannya!”

Setiap jenis pengetahuan yang tidak baik berasal dari Setan. 

Setan mengajarkan orang untuk mencapai lebih banyak dunia 
dan ia mendesak mereka dan mencambuki mereka. 
Seperti halnya seorang joki memecut kudanya, 
Setan selalu memecut orang untuk meraih dunia lebih banyak.
Oleh sebab itu, 
Nabi SAW selalu berdoa, 

“Allaahumma innii as-aluka `ilman naafi`an!” 

Beliau berdoa kepada Allah SWT, 
“Ya Allah SWT, 
sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, 
yang akan membawaku lebih dekat ke Hadirat Ilahiah-Mu!”

Dan dalam doa yang lain, 
Rasulullah SAW berdoa,
 “Allaahumma innii a`udzubika min `ilmin la yafa`!” 
“Ya Allah SWT, 
aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang dapat mengantarkan aku 
jauh dari-Mu dan membuatku lari mengejar dunia!”

Ke mana orang-orang kita sekarang? 

Di seluruh dunia, 
apakah ada yang mendengarkan Allah SWT? 
Apakah mereka memohon untuk Allah SWT atau untuk dunia?
 “Innahum la yuflihuun.” 
(Sesungguhnya mereka tidak akan berhasil). 
Jika mereka terus melanjutkan jalan ini, 
mereka tidak akan meraih sesuatu yang baik, 
di sini maupun di akhirat. 
Mereka akan kehilangan segala yang telah Allah SWT janjikan
—Allah SWT menjanjikan hamba-hamba-Nya 
kekekalan, kehidupan yang kekal.
Tetapi 
Setan memanggil manusia, 
mengundang mereka kepada sesuatu yang tidak lain 
merupakan ilusi, imajinasi. 

Sekarang 
begitu banyak orang dengan usia yang berbeda-beda berkumpul di sini, 
mereka mungkin berusia 10, 12, 20, 30, 40, 50, 60, 80, 
atau (sambil menunjuk seseorang, dan tersenyum) 90. 
Ya, begitu banyak tahun-tahun yang telah kalian lewati, 
tetapi apa yang tersisa pada kalian dari tahun-tahun itu? 

Kalian hanya hidup sekarang,
 di saat ini, 
dan setelah beberapa saat, 
momen ini pun akan diambil ke dunia yang tidak nyata. 
Dan dunia yang tidak nyata itu tidak lain adalah imajinasi.

Kalian bisa, sebagai contoh, 
menyalakan api dan melempar banyak benda ke dalam api itu, 
seperti kayu atau bahkan mebel. 
Setelah satu jam, 
datang dan lihatlah apa yang tersisa. 
Abu! 
Ya? ......Habis! 

Di mana semua benda yang telah kalian masukkan ke dalam api itu?

Sama halnya 
dengan waktu yang mengambil segala sesuatu dari kalian,
 ia membakarnya dan mengubahnya menjadi abu. 
Dan akhirnya badai datang dan meniupkan semua abu...
Dan jika Tuhan Surgawi berkehendak bahwa 
di pusat planet ini akan terjadi ledakan, 
dalam beberapa detik 
kalian tidak akan menemukan satu atom pun di dalamnya. 
Semuanya akan musnah,
karena apa yang membuat seluruh atom ini tetap ada 
adalah Perintah-Nya. 

Perintah Allah SWT menjaga atom-atom ini bersama
—nukleus di pusatnya bersama dengan elektron-elektron di sekelilingnya—
untuk mempertahankan seluruh sistem ini. 
Jika 
Allah SWT tidak menjaga mereka dengan Perintah Ilahiah-Nya, 
atom-atom itu akan musnah.
Elektron-elektron akan tersebar, 
demikian pula inti atom akan sirna. 
Seluruh dunia tetap utuh bersama hanya dengan Perintah-Nya.

Ketika Perintah-Nya datang,
 “Tinggalkan 
dan pergilah ke tempat darimana kalian berasal! 
Pergilah dan kembali!” 
dalam hitungan detik, bahkan kurang dari itu, 
dalam sepertiga, atau seperempat, atau seperlima detik 
segala sesuatu akan musnah.

Jika Dia memberikan Perintah-Nya kepada alam semesta, 
“Kembalikan ke posisi awal kalian!” 
Segala sesuatu akan kembali ke Samudra Kekuasaan-Nya—
kembali ke tempat darimana mereka berasal 
dan seluruh alam semesta akan menemui ajal mereka.
Tak ada yang akan tersisa di alam semesta ini, 
semuanya akan berakhir! 
Alam semesta akan kembali seperti kondisi asalnya
—gelap tanpa sesuatu. 
Dan jika Dia memerintahkannya,
alam semesta ini 
akan penuh dengan bintang-gemintang, galaksi-galaksi dan matahari-matahari. 
Dan jika Dia memerintahkan, 
“Kembali! 
Sebagaimana kalian datang, sekarang kembali!” 
semuanya akan lenyap kembali.
Dan alam semesta hanyalah suatu kegelapan yang gelap gulita!

Tak ada yang tahu apakah semesta itu
—di mana awalnya dan di mana akhirnya 
dan darimana semua yang ada ini berasal—
karena 
ajaran setani mencegah umat manusia bertanya, 
atau mempelajari atau mengajarkan hal-hal ini.

Segala sesuatu 
yang membuat kalian jauh dari Allah SWT adalah ajaran setani 
dan orang-orang dewasa ini tenggelam di dalamnya. 
Tak ada yang bahagia di masa kita 
dan tak ada orang yang berada dalam kedamaian. 
Pengecualian tidak pernah mengubah aturan ini. 
Memang ada pengecualian, tetapi hanya sedikit. 

Umumnya 
orang-orang lalai, 
mereka tidak ingin belajar 
dan hanya mengikuti Setan. 
Tetapi ajaran setani,
 `ilmun la yanfa`, adalah suatu jenis pengetahuan 
yang tidak akan bermanfaat bagi pemegangnya, 
baik di dunia maupun di akhirat.
Oleh sebab itu, 
kita memohon kepada Allah SWT, 
“Yaa Rabbi, 
berikanlah kami sesuatu dari pemberian-pemberian-Mu, 
yang telah Engkau anugerahkan 
kepada hamba-hamba-Mu yang mulia dan terhormat, kepada nabi-nabi-Mu, 
khususnya kepada Nabi Penutup, Sayyidina Muhammad SAW. 
Engkau menganugerahinya ilmu sejati, 
yang membawa manusia menuju kesempurnaan, 
membuat mereka menjadi hamba-hamba-Mu, 
mempersiapkan mereka untuk kesempurnaan itu 
dan untuk meraih rida dan kepuasan Tuhannya. 
Kami memohon pada-Mu, 
anugerahilah kami dengan itu!”

Tetapi umumnya, 
pintu-pintu ini kelihatannya tertutup sekarang, 
dan tidak ada yang lain 
kecuali ajaran setani di seluruh dunia, 
membuat orang lebih kejam, 
membawa mereka 
jauh dari jati diri mereka yang sesungguhnya, 
membuat mereka pergi 
dari maksud penciptaan mereka, 
karena 
kita semua diciptakan untuk menjadi hamba-hamba Allah SWT 
dalam Hadirat Ilahiah-Nya. 

Kita telah dimuliakan dengan peringkat penghambaan, 
dengan menjadi hamba di Hadirat Ilahiah-Nya. 
Tetapi 
orang-orang tidak belajar 
untuk menjadi hamba-hamba Pencipta mereka, 
hamba-hamba dari Tuhan mereka. 

Mereka berlari mengejar ilmu-ilmu setani 
dan mereka menghormati dan memuja Setan. 
Itulah yang terjadi di setiap tempat saat ini...

Ketika Allah SWT mengutus Sayyidina Nuh AS kepada umatnya 
untuk menyeru mereka kepada Allah SWT, 
Tuhan dan Pencipta mereka, 
mereka melarikan diri dan menolak untuk mengikutinya. 
Mereka berkata,
 “Kami tahu jalan kami! 
Ajaran-ajaran kami 
sepenuhnya berlawanan dengan apa yang engkau ajarkan. 
Kami bahagia dengan ajaran-ajaran kami 
dan kami tidak tertarik untuk mengikutimu.”

Dan Allah SWT mengirimkan banjir kepada mereka, 
menutupi segalanya. 
Air memancar dari setiap mata air di bumi, 
hujan pun turun dengan deras 
dan banjir datang menghanyutkan segalanya.

Kini hal itu terjadi lagi, 
tetapi dengan cara yang berbeda. 
Kini, 
ke mana pun kalian pergi, 
kalian akan menemukan mata air masalah dan persoalan
—mereka ada di mana-mana! 
Lihat, 
seluruh dunia dipenuhi mereka! 

Dengan setiap langkah 
kalian menyebrangi masalah atau semacam persoalan. 
Orang-orang mendapat diploma mereka dari Setan, 
untuk menjadi pembuat masalah
—laki-laki, perempuan, tua, muda, terpelajar maupun tidak
—mereka semua adalah para pembuat masalah yang sudah lulus.

Lihat saja pada kotak Setan—televisi—
lihat bagaimana orang turun ke jalan-jalan! 
Di mana-mana ada masalah! 
Tidak ada yang beristirahat, 
tidak ada yang berada dalam kedamaian, 
tidak ada yang penuh harap, 
mereka putus harapan, 
mereka semua. 

Mereka semua tenggelam dalam samudra masalah, 
karena setiap orang menciptakan masalah! 
Tidak ada orang yang mengendalikan dirinya 
dari membuat masalah, 
setiap orang telah menjadi pembuat masalah, 
mencurahkan masalahnya ke orang lain. 

Umat manusia, 
dari Timur ke Barat, dari Utara ke Selatan, 
tenggelam dalam samudra masalah 
yang penuh penderitaan, persoalan, kesedihan, 
dan tak ada orang yang berada dalam kedamaian!

Oleh sebab itu, 
orang-orang berusaha melupakan masalah mereka 
dengan jalan mabuk. 
Mereka menggunakan 
segala macam minuman dan bermacam-macam obat-obatan. 
Untuk apa?
 Untuk melupakan, 
agar tidak merasakan persoalan mereka! 
Seperti halnya dokter yang memberikan obat 
untuk pasiennya yang menderita sakit parah. 
Itu bukanlah pengobatan yang sesungguhnya 
terhadap penyakit mereka, 
dokter hanya memberi mereka beberapa pereda nyeri. 
Sekarang 
orang-orang di mana-mana menggunakan obat-obatan, 
paling tidak mereka merokok dan minum minuman beralkohol. 
Untuk apa? 
Agar mereka tidak merasakan nyeri mereka! 
Semua ini adalah ‘pereda nyeri’.

Wahai manusia, 
datanglah pada jalan yang benar! 

Datanglah 
dan mintalah pertolongan dari orang-orang yang benar! 

Jangan berpikir bahwa 
tidak ada lagi orang-orang yang benar. 
Tidak! 
Orang-orang yang benar tidak akan habis, 
tetapi 
mereka tersembunyi atau menyembunyikan diri mereka. 
Mereka bisa saja tersembunyi, 
tetapi jika kalian meminta mereka, 
kalian akan menemukannya. 
Jika kalian tidak mencarinya, 
kalian tidak akan menemukan mereka, 
karena apa yang akan kalian temukan adalah 
perwakilan dari Setan, 
tetapi
 jika kalian dengan hati-hati 
mencari orang-orang yang benar, 
kalian dapat menemukan mereka 
di sepanjang Timur dan Barat.

Oleh sebab itu, Nabi SAW bersabda, 
“Utlubul `ilmi wa law bis-Sin!” 
“Carilah ilmu walau sampai ke Cina.”

Wahai manusia, 
kalian harus meminta
—kalian harus meminta—
meminta ilmu sejati, 
yang akan menyelamatkan kalian dari masalah, 
dari kejahatan di dunia dan dari api neraka di Hari Akhir. 

Untuk mempelajari ilmu itu, 
bahkan jika kalian hanya dapat menemukannya di tempat yang jauh
—pada saat itu Cina adalah negri terjauh—
kalian harus pergi ke sana dan belajar. 
Dan ilmu tidak berada dalam buku-buku! 
Jika ilmu ada dalam buku-buku, 
Nabi SAW akan mengatakan,
 “Bawalah buku-buku dari Cina ke sini dan pelajarilah di sini!”

Tetapi beliau mengindikasikan bahwa,
 “Kalian harus pergi kepada orang yang mempunyai pengetahuan semacam ini! 
Dia adalah orang yang akan mengajarkan kalian, 
bukannya buku-buku! 
Kalian hanya dapat memperoleh pengetahuan sejati 
lewat mereka yang hatinya penuh dengan pengetahuan itu.“ 

“Jangan berpikir bahwa 
kalian hanya perlu membaca buku-buku untuk dipelajari! 
Tidak! 
Oleh sebab itu, 
beliau mengindikasikan, 
“wa law bis-Sin—
walaupun jika 
orang yang memiliki ilmu ituberada di Cina, 
kalian harus datang padanya, belajar darinya.”

Kini kaum Wahhabi mengatakan, 
“Itu tidak perlu. 
Kalian bisa membaca buku-buku, 
dan kalian bisa belajar dengan cara itu!”

Wahai manusia! 
Datanglah pada jalan yang benar 
dan mintalah orang-orang yang benar, 
jika kalian ingin bahagia di dunia dan akhirat 
dan ingin membuat Allah SWT rida dengan kalian! 
Jika tidak, 
setiap orang akan terkubur sendiri, 
oleh dirinya sendiri dalam kuburnya 
dan tidak ada orang yang dapat menolong orang lain 
dalam kuburan mereka!

Semoga Allah SWT mengampuni saya dan memberkati kalian! 

Saya mengatakan hal ini kepada seluruh umat manusia 
dan ini adalah beberapa ilmu dari keempat Kitab Suci, 
khususnya dari al-Quran suci yang diturunkan Allah SWT 
kepada hamba-Nya yang tercinta. 

Beliau adalah orang yang paling mulia, 
orang yang kepadanya risalah terakhir—al-Quran suci—
diturunkan, 
dan kita memohon untuk melayani beliau 
dan mengambil ilmu sejati darinya 
dan dari para penerusnya, 
penerus dari Nabi SAW—bi hurmatil Faatiha.

KE-ESA-AN ILAHI.

KE-ESA-AN ILAHI..

Kapan pun Junaid berbicara tentang ke-Esa-an Ilahi, 
tiap kali ia memulai dengan ungkapan yang berbeda 
yang tak dapat dimengerti oleh seorang pun.

Suatu hari, Syibli berada di majelis Junaid dan mengucapkan kata 'Allah'.
Junaid berkata,
 "Jika Tuhan tidak hadir, menyebut 'Yang tidak hadir' adalah 
tanda ketidak hadiran (maksudnya, ketidak hadiran Tuhan di hati), 
dan ketidak hadiran adalah suatu hal yang terlarang. 
Jika Tuhan hadir, 
maka 
menyebut nama-Nya saat membayangkan-Nya hadir 
(maksudnya, saat Tuhan hadir di hati) adalah 
tanda ketidak sopanan."

PEMUDA YANG BANYAK BICARA
Seorang pemuda yang sedang jatuh cinta 
berusaha selama berbulan-bulan untuk mengambil hati pujaannya, 
namun gagal. 
Ia merasa sakit hati karena ditolak. 
Namun 
akhirnya si jantung-hati menyerah. 
'Datanglah di tempat anu pada jam anu,' katanya.

Pada waktu dan di tempat anu tersebut, 
akhirnya si pemuda sungguh jadi duduk bersanding 
dengan jantung-hatinya. 

Lalu 
ia merogoh saku dan mengeluarkan seberkas surat-surat cinta, 
yang telah ia tulis selama berbulan-bulan, 
sejak ia mengenal si jantung-hati. 
Surat-surat itu penuh kata-kata asmara, 
mengungkapkan kerinduan hatinya dan hasratnya yang membara 
untuk mengalami kebahagiaan 
karena dipersatukan dalam cinta. 
Ia mulai membacakan semua suratnya itu 
untuk jantung hatinya. 
Berjam-jam telah lewat, 
namun ia masih juga terus membaca.

Akhirnya si jantung hati berkata:
'Betapa bodoh kau! 
Semua suratmu hanya tentang aku dan rindumu padaku. 
Sekarang aku disini, bahkan duduk disampingmu. 
Dan kamu masih juga membacakan surat-suratmu 
yang membosankan itu!'

'Inilah aku, duduk di sampingmu,' sabda Tuhan kepada penyembahnya, 
'dan engkau masih juga berpikir-pikir tentang Aku di dalam benakmu, 
berbicara tentang Aku dengan mulutmu, 
dan membaca tentang Aku dalam buku-bukumu. 
Kapankah engkau akan diam 
dan mulai menghayati kehadiranKu?'
=============≠++================
bagi yg belum paham tanya yg sudah paham, 
bagi yg sudah paham kasih tahu yg belum paham, 
lebih jauh lagi untuk lebih dalam carilah guru 
yg sudah paham 
supaya mengalami sendiri 
sebab 
bila hanya melalui tulisan 
yang seringkali terjadi adalah kesalahpahaman, 
memang 
akan sangat sulit memahami kata-kata para sufi 
bila tidak mengalami nya sendiri

(HR Al-Bukhari dan Muslim)

Apakah kita merasa yakin saat berdoa? 
Apakah kita sungguh-sungguh untuk meminta kepada Allah? 
Atau sebenarnya kita masih merasa ragu 
dan tidak benar-benar meminta kepada Allah?

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:
لَا يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي إِنْ شِئْتَ لِيَعْزِمْ الْمَسْأَلَةَ فَإِنَّهُ لَا مُكْرِهَ لَهُ
“Jangan sekali-kali salah seorang dari kalian berdoa:
 “Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau menghendaki. 
Ya Allah rahmatilah aku jika Engkau menghendaki.
” Hendaklah dia mempertegas permintaannya 
karena sesungguhnya Allah itu tidak ada yang dapat memaksa-Nya.” 
(HR Al-Bukhari dan Muslim)

GENGGAMLAH DUNIA DI TANGAN, JANGAN LETAKKAN DI HATIMU!

GENGGAMLAH DUNIA DI TANGAN, 
JANGAN LETAKKAN DI HATIMU!

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan, 
“Letakkanlah dunia di tanganmu, 
jangan di hatimu! 

Hatimu harus terus merasakan kehadiran Allah, 
sebutlah nama Dzat-Nya. 
Penuhilah hatimu dengan nama-nama-Nya nan indah.

Sungguh, 
engkau dianggap sebagai orang yang celaka 
jika tidak merasa malu kepada Allah Subhanahu wata’ala, 
jika engkau menjadikan dinar sebagai tuhanmu 
dan menjadikan dirham sebagai tujuanmu, 
sedangkan engkau melupakan-Nya sama sekali! 
Sungguh, takdirmu telah dekat!

Maka, 

jadikanlah kedai-kedai yang kau miliki 
dan semua harta benda untuk keluargamu adalah 
semata-mata karena perintah syariat, 
namun hatimu harus tetap kokoh 
bertawakal kepada Allah.

Carilah rezekimu dan rezeki keluargamu 

hanya dari Allah SWT, 
bukan dari harta benda dan perniagaanmu. 

Dengan demikian 
rezekimu akan mengalir, 
begitu pula rezeki keluargamu. 

Kemudian, 
Allah juga akan memberimu karunia, 
kedekatan dan kelembutan-Nya dalam kalbumu. 
Dia akan mencukupi 
keperluan keluargamu dan keperluanmu 
melalui dirimu sendiri!
Allah juga akan mencukupi keluargamu 

dengan apa yang Dia kehendaki 
dan sebagaimana yang Dia kehendaki. 

Akan dikatakan kepada kalbumu, 
“Ini adalah untukmu dan keluargamu!”

-- Syekh Abdul Qadir Al-Jailani 

dalam kitab Fath Ar-Rabbani wal-Faidh Ar-Rahman

Minggu, 30 Oktober 2016

PESAN SUCI PENGGUGAH JIWA

PESAN SUCI PENGGUGAH JIWA.

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan:

 “Wahai anak muda! 
Engkau harus mempraktikkan 
pengabdian yang tulus (ikhlâsh al-ʽamal) kepada Allah 
dalam shalatmu, puasamu, pelaksanaan hajimu, pembayaran zakatmu, 
dan dalam segala sesuatu yang engkau lakukan.

Engkau harus menjalankan komitmen kepada-Nya 
sebelum engkau sampai di hadirat-Nya. 
Komitmen ini 
memerlukan sikap pengabdian yang tulus, 
pengukuhan dalam tauhid, 
mengikuti dengan setia Sunnah Nabi Saw. 
dan komunitas Islam (jamâʽah), 
kesabaran dan sikap syukur, 
dan kesiapan untuk mempercayakan urusan-urusanmu 
kepada Tuhanmu.

Dalam hubungan dengan makhluk-makhluk, 
ia memerlukan sikap penolakan, 
dan dalam hubungan dengan-Nya, 
ia memerlukan sikap mencari.

Terhadap semua yang selain-Nya, 
ia memerlukan sikap tak acuh, 
dan terhadap-Nya, 
ia memerlukan sikap pendekatan pengabdian 
dengan hatimu dan wujud terdalammu (sirr). 

Ia memerlukan perasaan keterlepasan 
dari segala sesuatu yang lain, 
dan menuntut 
perasaan cinta dan kerinduan kepada-Nya. 

Setelah itu 
Dia pasti akan menganugerahimu kedekatan-Nya 
dan anugerah-Nya 
yang belum pernah dilihat mata, 
belum pernah didengar telinga, 
dan
 belum pernah terlintas dalam pikiran 
dan 
hati manusia.

Menempuh jalan ini 
akhirnya akan membawamu kepada Tuhanmu. 

Jika iblis mendatangimu 
dan mencoba membuatmu mengubah jalanmu, 
engkau harus memohon pertolongan kepada-Nya, 
agar Dia mengusirnya jauh-jauh darimu. 

Engkau harus meminta tolong kepada-Nya, 
seperti halnya orang-orang sebelummu 
meminta tolong kepada-Nya di masa mereka.

Engkau harus mengerjakan pekerjaanmu dengan baik, 
kemudian berbaik sangka kepada Tuhanmu. 

Berbaik sangkalah kepada-Nya 
dan berbuatlah sebaik-baiknya untuk menaati-Nya 
dengan selayaknya, 
sebab 
nantinya Dia akan banyak berurusan denganmu. 
Banyak kebaikan 
ditemukan dalam sikap berbaik sangka (husnuzh zhann) kepada Allah, 
kepada nabi-nabi-Nya, rasul-rasul-Nya 
dan kepada orang-orang saleh di antara hamba-hamba-Nya."

--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Jala Al-Khathir