Selasa, 06 Oktober 2015

( TENGGELAM DILAUTAN AHAD )

( TENGGELAM DILAUTAN AHAD )

Orang yang sedang tenggelam di lautan, tidak akan pernah mampu berbicara, bercerita, berkata-kata, tentang tenggelam itu sendiri.

Ketika ia sudah timbul dari tenggelam, dan sadar, baru ia berbicara tentang kisah rahasia tenggelam tadi.

Ketika ia berbicara tentang tenggelam itu, kedudukannya bukan lagi sebagai amaliyah tenggelam, tetapi sekedar ilmu tentang tenggelam

Jadi bedakanlah antara amal dan ilmu, Sebab banyak kesalahfahaman orang yang menghayati tenggelam, tidak dari amalnya, tetapi dari ilmunya, maka muncullah kesalahfahaman dalam memahami tenggelam itu sendiri

Al-Hallaj berkata :

"Allah menghijab mereka dengan Nama, lantas mereka pun menjadi hidup, Seandainya Dia menampakkan Ilmu Qudrat pada mereka, mereka akan hangus, Seandainya hijab hakikat itu disingkapkan niscaya mereka mati semua"

"Tuhanku, Engkau tahu kelemahanku jauh dari rasa bersyukur kepadaMu, kerana itu bersyukurlah pada DiriMu bukan dariku, kerana itulah sesungguhnya Syukur, bukan yang lain"

“Siapa yang mengandalkan amalnya, ia akan tertutupi dari yang menerima amal. Siapa yang mengandalkan Allah yang menerima amal, maka ia akan tertutupi dari amal”

“Asma-asma Allah Taala dari segi pemahaman adalah Nama saja, tapi dari segi kebenaran adalah Hakikat”

“Bisikan Allah adalah bisikan yang sama sekali tidak berlawanan”

Suatu ketika Al-Hallaj ditanya tentang al-Murid dan dia menjawab :

“Ia adalah orang yang dilemparkan menuju kepada Allah, dan tidak akan berhenti naik sampai ketika ia sampai”

“Sama sekali tidak diperbolehkan orang yang mengenal Allah Yang Maha Tunggal atau mengingat Yang Maha Tunggal, lalu ia mengatakan, “Aku mengenal Al-Ahad” padahal ia masih melihat individu-individu lain"

“Siapa yang dimabukkan oleh cahaya-cahaya Tauhid, ia akan tertutupi dari ungkapan-ungkapan Tajrid (menyendiri bersama Allah). Bahkan, siapa yang dimabukkan oleh cahaya-cayaha Tajrid, ia akan bicara dengan hakikat Tauhid, kerana kemabukan itulah yang bicara dengan segala hal yang tersembunyi”

“Siapa yang menempuh kebenaran dengan cahaya Iman, maka ia seperti pencari matahari dengan cahaya bintang gemintang”

“Ketika Allah mewujudkan jasad tanpa sebab, demikian pula Allah mewujudkan sifat jasad itu tanpa sebab, sebagaimana hamba tidak memiliki asal usul pekerjaannya, maka, hamba itu pun tidak memiliki pekerjaannya”

“Sesungguhnya Allah Taala, Maha Pemberi Berkah dan Maha Luhur, serta Maha Terpuji, adalah Zat Yang Esa, Berdiri dengan DiriNya Sendiri, Sendiri dari yang lain dengan Sifat QidamNya, tersendiri dari yang lainNya dengan KetuhananNya, tidak dicampuri oleh apa pun dan tidak didampingi apa pun, tidak diliputi tempat, tidak pula ditemukan waktu, tidak mampu difikirkan dan tidak mampu tercetus dalam imajinasi, tidak pula mampu dilihat pandangan, tidak mampu darusi kesenjangan”

“Akulah Al-Haq, dan Al-Haq (Allah) Benar, Mengenakan ZatNya, di sana tak ada lagi perbedaan”

Ketika ditanya tentang Tauhid, ia menjawab :

“Memisahkan yang baru dengan Yang Maha Dahulu, lalu berpaling dari yang baru dan menghadap kepada Yang Maha Dahulu, dan itulah hamparan Tauhid”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar