Selasa, 05 Januari 2016

MEREGUK SARI TASAWUF

LITERATUR.

Tasawuf juga telah menyediakan bagi kita  khazanah literatur 
yang luas dalam berbagai bahasa , terutama dalam bentuk puisi , 
sebagian diantaranya telah diterjemahkan pada bab-bab  terdahulu 
buku ini.

Dalam buku ini saya tidak dapat memerinci literatur Sufi 
dalam arti seni menulis, melainkan hanya sebagai karya tertulis semata , 
meskipun saya telah menyebutkan dengan lebih lengkap 
beberapa tulisan Sufi terkemuka yang juga penting dari sudut 
padang sastra.

Cukuplah untuk mengatakan disini bahwa terdapat sejumlah besar 
adikarya prosa dalam bahasa Arab menegenai Tasawuf , 
sedangkan penyair-penyair nya yang paling universal yang masih bisa 
bicara kepada kita menembus rintangan waktu dan budaya adalah
para penyair Sufi , seperti Hallaj, Ibn 'Arabi , Ibn al-Farid, 
dan baru-baru ini Syaikh al-'Alawi , Syaikh Habib , Asad 'Ali.

Bahasa besar Islam kedua, Persia, 
bahkan lebih kaya daripada bahasa Arab dalam hal puisi Sufi.
Penyair-penyair seperti Baba Thahir, Sana'i, 'Attar, Rumi, Hafizh,
Syabistari, jami'. dan lain-lain telah menjadikan bahasa Persia 
mungkin bahasa terkaya di dunia dalam  puisi mistik .

Bagi mereka yang berbicara bahasa Persia, khazanah puisi ini 
seperti sebuah taman realitas spiritual luas  yang di dalamnya 
mereka dapat terhanyut, bermenung dan berlindung dari 
pasang surut dunia.

Para penyair seperti itu tidak hanya memberikan pengetahuan 
tentang jalan , dalam aspek teotitis dan praktisnya , 
tetapi juga sebuah 'alkemi" yang mempunyai kuasa 
untuk menyembuhkan penyakit-penyakit jiwa.

Karena kebanyakan orang tidak tidak dapat membawa teks metafisik,
puisi Sufi juga merupakan sarana penyebaran ajaran Tasawuf 
ke khalayak yang lebih luas.
Kaum Sufi telah menggunakan keindahan untuk menghiasi 
pengungkapan Kebenaran,dan mereka menarik jiwa-jiwa 
ke dalam kebenaran itu melalui keindahan bentuk sastrawi 
yang menjadi pakaiannya.

Puisi Sufi juga memiliki kekuatan untuk memungkinkan 
keadaan spiritual (hal) bahkan dalam jiwa-jiwa mereka 
yang tidak secara resmi mengikuti jalan menuju Taman 
tetapi memiliki cita rasa spiritual (dzawq).

Sangat sedikit orang di negara asal saya, Persia , 
yang dapat membaca risalah metafisik dan gnostik oleh tokoh-tokoh
seperti Jami' , meskipun karya tersebut berbahasa Persia.
Tetapi saya tahu beberapa puisi Rumi dan Hafizh , 
yang kerap mereka mereka ucapkan pada berbagai kesempatan 
dalam hidup mereka.

Setelah Al-Qur'an ,
mungkin tak ada kitab lain yang lebih sering ditemui di rumah rumah
orang - orang Persia selain Diwan dari Hafizh .
Saya tidak bisa memberi penekanan lebih besar lagi tentang pentingnya
puisi Sufi bagi pengikut jalan itu maupun masyarakat yang lebih luas.
Puisi seperti itu merupakan karunia Tasawuf  bagi budaya Islam 
secara umum serta sarana yang menarik orang-orang dengan kemampuan
yang diperlukan menuju jalan itu sendiri.

Apa yang dikatakan tentang syair-syair Sufi Arab dan Persia juga berlaku 
untuk bahasa -bahasa Islam lainnya.

Di Turki, puisi Ahmad Yasawi, Fudhuli, dan Yunus Emre  masih dibaca
banyak orang bahkan dalam Turki modern, yang berusaha mencekal 
literatur Sufi era Usmani.
Kita masih mendengar bait-bait dari penyair Sufi Turki paling populer,
Yunus Emre , yang hidup pada abad keempat belas , 
di radio  dan di konser-konser maupun dalam percakapan sehari-hari 
banyak orang Turki.

Demikian juga , penyair-penyair paling terkemuka dalam bahasa Urdu,
seperti Bidil dan Ghalib ,berakar dalam tradisi Sufi .
Bahkan , di Bengal, syair Sufi Persia menjadi model bagi puisi Bengal 
yang muncul setelah Islamisasi wilayah itu, seperti yang kita lihat 
dalam puisi Muhammad Shagir.

Dalam banyak bahasa India lainnya, seperti Shindi dan Punjabi, 
tokoh sastrawi terbesarnya adalah seorang penyair Sufi, misalnya
orang suci dan penyair Sufi terkenal dari Sindh, Syah 'Abd al-Lathif,
yang puisi-puisinya dinyanyikan kalangan luas sampai hari ini.

Situasi serupa ditemukan ditengah suku Berber di Afrika
 maupun di Afrika sub-Sahara. 
Sastra di wilayah ini , banyak di antaranya masih bersifat lisan ,
biasanya berpuncak pada karya-karya tentang Tasawuf 
berupa puisi-puisi yang memuji Allah dan Nabi dengan warna Sufi.

Sebagian dari puisi yang paling terkenal adalah terjemahan dari bahasa 
Arab, seperti  Burdah yang masyhur dari Syaraf al-Din Bushiri 
(w.antara 1294 dan 1297), yang terjemahannya 
ke dalam bahasa Berber , Fulfunde , dan bahasa-bahasa Afrika lainnya
tetap populer hingga hari ini.

Singkatnya, di Afrika sub-Sahara dari Senegal hingga Somalia kita dapat
menemukan satu puisi Sufi berkekuatan besar yang terus  menggerakkan
jiwa laki-laki dan perempuan dan masih merupakan bagian integral 
dari budaya masyarakat.

Di dunia Melayu, dengan penduduk Islam paling homogen, 
dari sudut pandang linguistik dan etnis , 
bahasa Melayu merupakan bahasa Islam yang paling penting 
selama lima abad dan masih demikian hingga hari ini  
walaupun dengan keberadaan bahasa lainnya seperti bahasa Jawa.

Dalam suasana ini,seperti yang disebutkan diatas, 
sastra Sufi memainkan peran defenitif 
dalam membentuk bahasa Melayu menjadi bahasa Islam.

Saya sudah menyinggung peran Hamzah Fanshuri 
sehubungan dengan masalah ini, tetapi harus menambahkan di sini
bahwa ia juga menulis puisi Sufi dan bahwa puisi seperti itu 
terus dibaca secara luas di Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei,  
dan Thailand selatan.

Sebagian dari khazanah literatur Sufi 
dalam berbagai bahasa Islam ini telah diterjemahkan 
ke bahasa Inggris , Jerman, Prancis, dan bahasa Eropa lainnya,
terutama dari bahasa Persia.

Sesungguhnya, terutama melalui terjemahan modern seperti itulah
Barat pertama kali berkenalan dengan Tasawuf.

Selama beberapa dekade terakhir beberapa bahasa Eropa 
seperti Inggris telah menjadi kenderaan utama sastra Sufi
dan khususnya puisi, dan menjadi sulit untuk  menarik garis
antara terjemahan puisi , dan menjadi sulit untuk menarik  garis 
antara terjemahan puisi dan komposisi puisi asli,
seperti yang kita lihat dalam  puisi-puisi yang diterjemahkan oleh
Martin Lings,  yang beberapa diantaranya saya kutip dalam buku ini.

Tatkala penyair Sufi tertinggi dalam bahasa Persia, Rumi, 
menjadi penyair yang paling laku di Amerika , 
tibalah saatnya menyadari bahwa puisi Sufi dalam bahasa Inggris 
telah menjadi bagian dari lanskap kontemporer sastra Amerika,
bukan literatur  yang hanya menjadi ketertarikan para sarjana budaya
dan sejarah islam.

Singkatnya, literatur Sufi, khususnya puisi , 
merupakan salah satu warisan yang paling penting dari tradisi Sufi.
Ia menyajikan bagi dunia kontemporer pemaparan doktrin maupun 
praktek Tasawuf dan semesta spiritual yang ditiupkannya, 
dalam bahasa yang lebih mudah dari pada yang ditentukan 
dalam risalah-risalah abstrak tentang doktrin atau eksposisi panjang
tentang amalan dan kebajikan ruhani, dan sebagainya,
seperti yang disebutkan dalam lampiran.

Warisan ini sangat penting  bagi dunia Islam dan juga kian dirasakan
pentingnya di Barat ketika jumlah terjemahan, banyak diantaranya 
dalam bentuk yang sangat puitis, semakin meningkat dalam berbagai 
bahasa Eropa.

#HSN.



















Tidak ada komentar:

Posting Komentar