DAPATKAH MANUSIA KONTEMPORER
MEMETIK MANFAAT
DARI WARISAN TASAWUF ?
Kita hidup dalam sebuah dunia , khususnya di Barat,
yang menekankan perubahan dan memuja dewa kebaruan,
sebuah dunia di mana hampir semua di sekitar kita dianggap kuno
lebih cepat daripada semua masa lainnya , dalam sejarah manusia.
Pemikiran , seni, budaya , dan bahkan agama dari generasi terdahulu
dibuat tampil kuno dan tidak pantas bagi kita kecuali dalam nostalgia,
yang dengan sendirinya berubah dengan cepat.
Dalam dunia semacam ini,
bagaimana orang bisa mengambil manfaat dari warisan Tasawuf ,
yang sepanjang sejarahnya selama lebih dari satu milenium
telah berbicara bagi laki-laki dan perempuan
yang sangat berbeda dengan kita ?
Jawaban terhadap pertanyaan ini adalah bahwa
dalam pengertian yang lebih mendalam ,
kita membawa dalam diri kita realitas yang sama
seperti leluhur kita di masa lalu.
Kebutuhan kita yang terdalam ,
misalnya memiliki harapan , mencari arti kehidupan,
menemukan kebahagian, belajar menghadapi cobaan,
kesakitan, kesedihan, dan penderitaan,
serta sebagaimana bagi pria atau wanita yang hidup di masa lalu
dan yang kepada merekalah ajaran-ajaran Tasawuf
ditujukan pada masa silam.
Manusia masih terus lahir, hidup dan mati .
Kesadaran dan akal kita
masih mencari arti dalam kehidupan kita
dan di dunia sekitar kita.
Kita masih menghadapi kendala lahir dan batin
dalam kehidupan duniawi.
Kita masih mengalami putus asa dan menimbulkan harapan.
Kita masih mencari tempat berlindung di tengah badai kehidupan.
Dan dalam pengertian terdalam ,
kita masih makhluk yang diciptakan untuk kekekalan
dan membutuhkan Realitas Tak Terbatas ,
yang melampaui batasan dan kendala mental, psikologis, dan fisik kita.
Sebagian dari kita,
masih merindukan cinta yang "menggerakkkan langit dan bintang-bintang",
haus akan anggur makrifat, akan cahaya pengetahuan pembebas
yang merupakan satu-satunya hal yang dapat menerangi keberadaan kita
secara keseluruhan.
Di tengah keributan
tentang bagaimana sains dan teknologi modern
mengubah kehidupan modern , sosok batin,
yang berdiri di luar hiruk pikuk dunia dan
yang tidak menyerah kepada kekuatan eksternal ,
masih hidup di dalam diri kita.
Sosok batin inilah ,
yang oleh sebagian Sufi disebut sebagai "pemilik cahaya"
di dalam diri kita,yang tertarik pada wawasan Tasawuf ,
bukan sebagai warisan yang sekadar bernilai historis dan arkeologis,
melainkan sebagai kenyataan hidup yang memiliki arti penting
bagi kita di sini dan sekarang.
Bagi orang-orang spiritual yang tidak tersilaukan oleh kemilau dunia
yang telah kehilangan tambatan spiritualnya dan berputar-putar
di luar kendali, pesan Tasawuf - literatur dan musiknya, etikanya,
metode spiritualnya, dan barakahnya - menjadi menarik
bukan hanya karena pesan-pesan itu ditujukan kepada pria dan wanita
dari budaya ini atau itu di masa lalu.
Pasan-pesan itu menarik karena berbicara kepada kita
di sini dan sekarang,
karena berkenaan dengan hal-hal yang sangat nyata
dan memiliki konsekuensi eksistensial terdalam bagi kita.
Sebagai contoh,
Tasawuf mengajari kita ,
bagaimana menyendiri bersama Allah
dan berbahagia di dalam kesendirian itu.
Berapa banyak orang masa kini
yang menderita akibat kesendirian
dan dengan demikian menjadi tertekan ?
Pesan Sufi dapat mengubah keadaan ini
dari penderitaan menjadi sukacita.
Apa yang lebih dibutuhkan oleh masa kini
selain kemampuan untuk melihat orang lain
sebagai diri kita sendiri dan bukan sebagai musuh ?
Tasawuf mengajari kita,
cara untuk merendahkan dinding ego
dan menyadari secara langsung bahwa
dalam pengertian yang terdalam
orang lain adalah diri kita sendiri.
Berapa banyak diantara kita yang mendambakan cinta ?
Tasawuf memungkinkan ,
mata air cinta untuk Allah dan makhluk-Nya,
memancar keluar dari dalam jiwa kita.
Dan berapa banyak yang mendamba kejernihan intelektual
dan kesatuan modus pengetahuan di dunia
di mana pengetahuan telah menjadi begitu terkotak-kotak kan ?
Sekali-kali Tasawuf , dalam aspek doktrinalnya ,
dapat memberikan solusi.
Perjalanan menuju Taman Kebenaran
bukanlah sesuatu yang hanya menarik pria dan wanita tua.
Itu tetap merupakan perjalanan puncak bagi kita umat manusia hari ini
walaupun begitu banyak kondisi eksternal hidup kita yang berbeda
dengan pola dunia tradisional yang di dalamnya
ajaran-ajaran seperti itu pertama kali ditumbuhkan.
Tidak ada yang lebih tepat waktu daripada yang abadi :
tentunya diktum ini berlaku untuk pesan Tasawuf
yang sifat keabadiannya senantiasa relevan
dengan seluruh waktu dan tempat ,
dimana manusia hidup hari ini dan nanti di masa depan,
sebuah pesan yang terkait dengan masa depan terakhir kita
Nanti sebagai yang Sekarang ,
dan tujuan terakhir kita Di sana sebagai yang Di sini.
#HSN.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar