MENGENAL AKHIRAT
Semua orang-orang yang percaya dengan Al-Qur’an dan Hadis mengetahui
tentang kebahagiaan di Surga dan keazaban di Neraka yang akan dirasakan
di Akhirat kelak.
Tetapi ramai orang yang tidak mengetahui adanya Surga dan Neraka Ruhaniah.
Berkenaan Surga Ruhaniah ini, Allah pernah berfirman kepada Nabinya :
“mata tidak pernah melihat, telinga tidak pernah mendengar, dan hati
tidak pernah berfikir tentang hal-hal yang disediakan bagi orang-orang
yang soleh.”
Dalam hati orang-orang yang diberi Nur (cahaya)
oleh Allah s.w.t, ada satu pintu yang terbuka menghadap kepada
hakikat-hakikat Alam Keruhaniaan, dan dengan itu ia tahu rasa pengalaman
sebenarnya, bukan cakap-cakap kosong saja atau kepercayaan yang
turun-menurun, berkenaan apa yang mendatangkan kerusakan dan apa yang
mendatangkan kebahagiaan dalam Jiwa (ruh) sebagaimana terangnya dan
pastinya doktor-doktor mengetahui apa yang menyebabkan sakit dan apa
yang menyebabkan kesihatan pada tubuh.
Dia tahu bahwa mengenal Allah dan ibadat itu adalah obat penawar, dan jahat serta dosa itu adalah racun berbisa kepada ruh.
Banyak orang, bahkan orang-orang “Alim”, karena membabi buta mencela
pendapat orang lain, tidak yakin sebenarnya dalam kepercayaan mereka
tentang kebahagiaan dan azab ruh di Akhirat nanti. Tetapi orang yang
penuh keyakinan tanpa diganggui oleh perasangka akan mencapai keyakinan
penuh dalam hal ini.
Manusia ada dua jiwa (Ruh) yaitu Ruh
Kehaiwanan dan Ruh Insan (Ruh Keruhanian). Ruh Keruhanian ini adalah
tabiatnya bersifat malaikat. Tempat duduk Ruh kehaiwanan ialah hati.
Dari hati itu ruh ini keluar seperti wap halus dan meliputi semua
anggota tubuh, yang memberi dan penglihatan kepada mata, dia mendengar
kepada telinga, dan dia pada tiap-tiap anggota yang lain untuk
menjalankan tugasnya masing-masing. Ruh ini bolehlah diibaratkan sebagai
lampu rumah dalam sebuah rumah. Cahayanya menyinari dinding rumah itu.
Hati itu ibarat sumbu lampu tersebut. Apabila minyak terputus karena
sebab-sebab tertentu, maka padamlah lampu itu. Demikianlah juga matinya
ruh binatang (ruh kehaiwanan) itu.
Berlainan dengan Ruh
Keruhanian. Ruh Keruhanian itu tidak boleh dipecah-pecah atau
dibagikan-bagikan. Dengan ruh inilah manusia mengenal Tuhannya. Bolehlah
dikatakan bahwa Ruh Keruhanian ini adalah penunggang ruh kehaiwanan
itu. Meskipun Ruh kehaiwanan mati dan hancur binasa, namun Ruh
Keruhanian itu tetap hidup dan tidak binasa. Ruh keruhanian ini ibarat
penunggang yang telah turun dari kudanya atau ibarat pemburu yang telah
hilang senjatanya, apabila seseorang itu meninggal dunia. Kuda dan
senjata itu diberi kepada ruh manusia itu supaya dengan itu ia dapat
memburu dan menangkap Cinta dan Makrifat kepada Allah. Jika buruan tadi
telah ditangkap, maka tidaklah ada sesal dan duka lagi. Sebaliknya suka
dan puas hatilah ia dan dapatlah ia meletakkan senjata dan kuda
keletihan itu ke tepi Berhubung dengan hal ini,
Nabi pernah dan bersabda :
“Mati itu adalah hadiah dari Allah kepada orang-orang mukmin.”
Tetapi sayang sekali, seribu kali sayang bagi ruh yang kehilangan kuda
dan senjata sebelum ia dapat menangkap barang buruan itu. Tidaklah
terkira lagi sesal dan dukanya.
Kita akan terangkan lebih
lanjut bagaimana berbedanya Ruh Insan atau Ruh Keruhanian itu dari tubuh
dan anggotanya. Anggota tubuh mungkin lumpuh dan tidak berkerja lagi.
Tetapi ruh tidak rusak apa-apa. Begitu juga tubuh sekarang ini, tidak
lagi tubuh kita semasa bayi dahulu, bahkan berbeda langsung. Tetapi
keperibadian kita sekarang adalah serupa dengan keperibadian kita di
masa bayi dahulu.
Nampaklah kepada kita betapa kekalnya ruh itu meskipun tubuh telah hancur binasa.
Ruh ini kekal bersama dengan sifat-sifatnya yang tidak bersangkutan dengan tubuh seperti Cinta kepada Allah dan Makrifat Allah.
Inilah yang dimaksud oleh Al-Quran :
Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan
hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang
Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau
anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka. Mereka itulah
orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan
menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan
dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah redho terhadap mereka dan
mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat) -Nya. Mereka itulah
golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah
golongan yang beruntung. (Mujaadilah:22)
Tetapi jika kita
meninggal dunia tidak membawa ilmu atau pengenalan tentang Allah
(makrifat) dan sebaliknya mati dalam Jahil tentang Allah, di mana Jahil
itu adalah satu dari sifat penting juga, maka teruslah kita dalam
kegelapan ruh dan azab sengsara. Sebab itu Al-Quran ada menyatakan:
Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat
(nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang
benar). ( Al -Israil:72)
Sebab Ruh lnsan kembali ke Alam Tinggi
itu ialah karena asalnya di sana dan tabiatnya bersifat kemalaikatan.
Ruh Insan itu dihantar ke alam rendah atau dunia ini, berlawanan dengan
kehendaknya, dengan tujuan mencari pengetahuan dan pengalaman, seperti
firman Allah dalam Al-Qur’an :
Kami berfirman: “Turunlah kamu
semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka
barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran
atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (Al Baqoroh:38)
dan firman Alloh lagi :
Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan
ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan
bersujud. Al-Hijr:29)
Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa tempat asal Ruh Insan itu ialah dari Alam Tinggi sana .
Kesehatan Ruh Kehaiwanan atas keseimbangan bagian-bagian. Apabila
keseimbangan ini telah cacat, maka dapat diperbaiki dengan obat-obat
yang sesuai. Maka begitu jugalah kesehatan Ruh Insan , ia terdiri ada
keseimbangan akhlak.
Ke seimbangan akhlak ini dipelihara dan diperbaiki. Dengan arahan-arahan kesusilaan (akhlak) dan ajaran akhlak.
Berkenaan wujudnya Ruh Insan ini di akhirat kelak, maka kita telah tahu
bahwa Ruh Insan itu adalah tidak terikat kepada tubuh. Segala bantahan
terhadap wujudnya ruh ini selepas mati adalah berdasarkan pada
prasangka, ia terpaksa mendapatkan semula tubuhnya yang di dunia dulu
yang telah hancur menjadi tanah. Setengah orang menyangka Ruh Insan itu
binasa setelah mati, kemudian diwujudkan dan dihidupkan semula. Tetapi
ini adalah berlawanan dengan Akal dan juga Al-Qur’an.
Akal membuktikan bahwa mati itu tidak membinasakan hakikat seseorang itu dan Al-Qur’an mengatakan :
“Janganlah kamu berkira-kira bahwa orang-orang yang mati (gugur) di
jalan Allah mati, bahkan mereka itu hidup di sisi TuhanNya dengan
mendapat rezeki” (Al-Imran:169)
Tidak ada satu perkataan pun
yang tersebut dalam hukum berkenaan orang-orang yang mati itu telah
binasa, dan orang itu baik atau jahat, bahkan Nabi SAW. pernah bertanya
kepada Ruh orang-orang kafir yang terbunuh, apakah mereka telah
menjumpai hukum yang baginda katakan kepada mereka itu, benar atau
bohong. Apabila sahabat-sahabat Nabi bertanya kepada baginda apakah
faedahnya bertanya kepada mereka yang telah mati, baginda menjawab :
“Mereka mendengar kata-kataku lebih jelas dari kamu mendengarnya”.
Ada juga orang-orang Sufi yang dibukakan hijab bagi mereka. Maka
nampaklah oleh mereka syurga dan neraka, dalam keadaan mereka itu tidak
sadar diri. Setelah mereka sedar semula, muka mereka menunjukkan apa
yang mereka lihat itu, apakah syurga atau neraka. Jika muka mereka
menunjukkan tanda-tanda gembira dan senang, maka itulah tanda mereka
telah melihat syurga. Jika mereka seperti orang ketakutan dan cemas,
itulah tanda mereka melihat neraka. Tetapi pandangan seperti ini
tidaklah perlu untuk membuktikan apa yang akan terjadi itu kepada
tiap-tiap orang yang berfikir, yaitu apabila mati telah melepaskan
inderanya pergi dan segalanya hilang kecuali peribadinya saja yang
tinggal dan jika semasa di dunia ini ia sangat terikat kepada benda yang
dipandang oleh indera saja seperti isteri, anak, harta-benda, tanah,
wang ringgit, dan sebagainya, maka tentu sekali ia akan terazab apabila
semua itu telah hilang darinya.
Sebaliknya jika ia semampunya
memalingkan mukanya dari segala benda di dunia dan menumpukan Cinta
kepada Allah Taala, maka jadilah mati itu sebagai cara melepaskan diri
dari tanggapan dan kaitan dunia, dan teruslah ia berpadu dengan Allah
yang diCintainya. Sebab itulah Nabi SAW. pernah bersabda,
“Mati itu ialah jaminan yang menyambungkan sahabat dengan sahabat”.
dan sabda beliau lagi :
“Dunia ini syurga bagi orang kafir, tetapi penjara bagi orang mukmin”.
Sebaliknya pula, Azab sengsara yang dirasakan oleh Ruh itu setelah mati adalah berpuncak dari terlalu kasih kepada dunia.
Nabi pernah mengatakan bahwa tiap-tiap orang kafir setelah mati akan
diazab oleh 99 ekor ular. Tiap-tiap seekor ada sembilan kepala.
Ada juga orang yang bodoh. Mereka menggali kubur orang kafir dan
melihat tidakpun ada ular di situ. Mereka tidak sedar bahwa ular itu
berada dalam Ruh si Kafir dan ular itu telah ada di situ bahkan sebelum
ia mati lagi, kerena ular itu adalah sebenarnya sifat-sifat jahat mereka
sendiri. Diperlambangkan yaitu sifat-sifat dengki, benci, munafiq,
sombong, penipu dan lain-lain. Semua itu secara langsung atau tidak
langsung adalah karena terlampau Kasih Kepada Dunia. Itulah akibat
mereka yang digambarkan oleh Al-Qur’an dengan:
Tuhan kamu
adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak beriman kepada
akhirat, hati mereka mengingkari (keesaan Allah), sedangkan mereka
sendiri adalah orang-orang yang sombong. (An Nahl:22)
Jika ular
itu hal di luar diri mereka, bolehlah mereka lepas dari siksaan itu
barang sebentar, tetapi sebenarnya ular itu ialah sifat-sifat mereka
sendiri. Bagaimana mereka hendak melepaskan diri ???
Kita
ibaratkan demikian, Katalah seorang yang menjual hamba perempuan tanpa
mengetahui bagaimana kasihnya ia kepada si hamba itu hinggalah hamba itu
telah jauh darinya. Lama kelamaan, cintanya itu bertambah hebat dan
kuat benar hingga mahulah ia menyiksa dirinya. Cinta itu menyiksanya
seperti seekor ular yang telah menggigitnya hingga pingsan, dan kemudian
coba menghujamkan dirinya ke dalam api atau terjun ke air untuk lari
dari siksaan itu.
Demikianlah misalnya akibat kasih kepada
dunia dan bagi mereka yang ada berperasaan itu selalu, tidak sadar
hinggalah ia meninggal dunia. Maka kemudian itu siksaan rindu dan berahi
yang sia-sia bertambah hebat hingga ia lebih suka menukarkannya dengan
berapa banyak pun ular dan kala.
Oleh karena itu, tiap-tiap orang berbuat dosa membawa bersamanya ke akhirat alat-alat penyiksaannya sendiri.
Al-qur’an ada menerangkan :
” dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan `ainulyaqin, “. (Al-Takatsur:07)
dan firman Allah Taala lagi;
” Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir ” (Al-Taubah:49)
Dia (Allah) tidak berkata;
“Akan meliputi mereka”. karena liputan itu telah pun ada sekarang juga.
Mungkin ada orang yang membantah; “Jika demikian keadaannya, siapakah
yang akan dapat melepaskan diri dari neraka, karena sedikit sebanyak
manusia itu pasti ada neraka di dunia?
Kami menjawab:
Ada
juga orang, khususnya Faqir. Mereka ini melaksanakan kaitan cintanya
kepada dunia. Walaupun begitu, ada juga orang yang beristeri, beranak,
berumah-tangga dan lain-lain lagi, walaupun mereka ada kaitan dengan
semua itu, namun Cinta mereka terhadap Allah tidak ada tandingan dan
mereka lebih Cinta kepada Allah melebihi dari yang lain.
Mereka
ini adalah seperti orang yang ada berumah-tangga di sebuah bandar yang
dicintainya. Tetapi apabila Raja atau Pemerintah memberinya jawatan
untuk bertugas di bandar yang lain, dia rela berpindah ke bandar itu
karena jawatan itu lebih dicintai dari rumah-tangganya di bandar itu.
banyak Ambiya’ dan Aulia yang sedemikian ini.
Sebagian besar
pula manusia yang ada sedikit Cinta kepada Allah, tetapi sangat cinta
kepada dunia. Maka dengan itu mereka terpaksalah menerima azab di
akhirat sebelum mereka dibersihkan dari karat-karat cinta kepada dunia
itu. Ramai orang yang mengaku Cinta kepada Allah, tetapi seseorang itu
harus menilainya dan menguji dirinya dengan memerhatikan kemanakah
cenderung lebih berat kalau perintah Allah bertentangan dengan kehendak
nafsunya?
Orang yang mengatakan Cinta kepada Allah tetapi tidak
dapat menahan dirinya darinya dan tidak patuh kepada Allah, maka orang
itu sebenarnya bercakap bohong.
Kita telah perhatikan di atas
bahwa satu jenis Neraka Keruhanian ialah berpisah secara paksa dari
keduniaan dengan keadaan itu sangat terkait dan terikat dengan keduniaan
itu. Banyak pula orang yang membawa dalam diri mereka, kuman-kuman
neraka seperti ini tanpa mereka sadari.
Di akhirat kelak,
mereka akan merasa diri mereka seperti Raja yang diturunkan dari takhta
kerajaan dan dijadikan alat gelak ketawa orang ramai, pada hal sebelum
ini mereka hidup dengan mewah dan senang lenang.
Jenis Neraka
Keruhanian yang kedua ialah Malu, yaitu apabila manusia itu tersadar dan
melihat keadaan perbuatan yang dilakukan dalam keadaan hakiki yang
sebenarnya tanpa selindung lagi. Orang yang membuat fitnah akan melihat
dirinya dalam bentuk orang yang memakan daging saudaranya sendiri, dan
orang yang hasat dengki seperti yang melempar batu kepada tembok dan
batu itu memantul ke belakang lalu mengenai mata anaknya sendiri.
Jenis neraka seperti ini, yaitu Malu, bolehlah dilambangkan dengan
ibarat berikut. Katakanlah seorang Raja merayakan perkawinan anak
lelakinya. Di waktu petang, orang muda itu pergi bersama sahabatnya
berjalan-jalan dan tidak lama kemudian kembali ke Istana (dalam keadaan
mabuk) . Dia masuk ke sebuah Dewan di mana api (lilin) sedang menyala.
Ia berbaring. Disangkanya ia berbaring dekat isterinya. Besoknya,
apabila ia sadar semula, terperanjatlah ia apabila dilihatnya dirinya
berada dalam Rumah Mayat orang-orang Majusi. Tempat berbaringannya itu
ialah keranda mayat itu dan bentuk orang yang disangkakan isterinya itu
ialah sebenarnya mayat seorang perempuan tua yang mulai busuk dan
kerepot. Ia pun keluar dari Rumah Mayat itu dengan pakaian yang kotor
dan rupa yang lusuh. Alangkah malunya ia berjumpa dengan ayahnya, Raja
itu bersama dengan pengiring-pengiringnya.
Demikianlah
gambaran Malu yang dirasakan di akhirat kelak oleh mereka yang di dunia
ini tamak dan sombong dan menumpukan seluruh jiwa raga kepada apa yang
mereka sangka sebagai keindahan dan kenikmatan.
Neraka Keruhanian Yang Ketiga ialah sesal dan putus asa dan gagal mencapai tujuan hidup yang sebenarnya.
Manusia dijadikan untuk Mencerminkan Cahaya Makrifat Allah. Tetapi jika
ia kembali ke akhirat dengan jiwanya penuh mabuk dan karat hawa nafsu,
maka gagal lah ia mencapai tujuan hidupnya di dunia ini. Sesal atau
putus asanya boleh digambarkan demikian.
Katalah seseorang
melalui hutan yang gelap bersama kawan-kawannya. Di sana sini terlihat
kilauan cahaya batu yang berwarna-warni. Kawannya memungut batu itu dan
menasihatnya supaya berbuat demikian juga. Kawannya berkata, “Batu ini
sangat mahal harganya di tempat yang kita akan pergi sana “. Tetapi
beliau mentertawakan mereka dan mengatakan mereka bodoh karena
mengharapkan keuntungan yang sia-sia yang belum tentu lagi. Dia pun
terus berjalan. Akhirnya mereka pun keluarlah dari hutan yang gelap itu
setelah berjalan beberapa lama. Mereka dapati batu itu sebenarnya batu
Delima, Intan Berlian dan sangat bernilai dan berharga. Alangkah sesal
dan putus asanya ia karena tidak mahu mengutip batu-batu itu dahulu.
Begitulah ibaratnya orang yang sesal di akhirat kelak karena semasa
mereka hidup di dunia ini mereka lalai dan tidak berusaha untuk
mendapatkan intan permata kebajikan dan perbendaharaan agama.
Perjalanan Insan melalui dunia ini bolehlah di-bahagi-bahagikan kepada empat peringkat :
Peringkat Nafsu,
Peringkat Percobaan,
Peringkat Naluri dan
Peringkat Berakal.
Dalam Peringkat Pertama, manusia itu adalah ibarat rama-rama. Meskipun
ia ada penglihatan, tetapi tidak ada ingatan. Ia terus membakar dirinya
berkali-kali ke dalam api lampu yang sama itu juga.
Dalam Peringkat Kedua, ia adalah ibarat anjing , apabila dipukul sekali akan lari apabila melihat kayu selepas itu.
Dalam Peringkat Ketiga, manusia itu ibarat kuda atau biri-biri.
Kedua-duanya akan lari secara naluri, apabila melihat singa atau
serigala, karena haiwan itu adalah musuhnya semula jadi. Tetapi mereka
tidak lari apabila melihat unta atau lembu, meskipun binatang-binatang
itu lebih besar dari tubuhnya.
Dalam Peringkat Keempat, manusia
itu melampaui perbatasan binatang dan boleh sedikit sebanyak melihat ke
hari depan dan mempersiapkan untuk hari yang akan datang.
Pergerakannya mula-mula bolehlah diumpamakan seperti berjalan di atas
tanah, kemudian mengembara atas lautan dalam kapal, kemudian ia mengenal
hakikat-hakikat hingga dapat berjalan di atas air laut. Di atas
peringkat itu ada satu taraf lagi yang diketahui oleh Ambiya dan Aulia
Allah, kemajuan mereka diibaratkan sebagai burung terbang.
Oleh
yang demikian, manusia dapat wujud dalam beberapa peringkat dari
binatang hingga ke Malaikat. Di sini juga terletak bahayanya, yaitu
mungkin terjatuh ke taraf yang paling bawah dan rendah. Dalam Al-Qur’an
ada tercantum,
” Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat
kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk
memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan
dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim
dan amat bodoh “. (Al-ahzab:72)
Binatang dan Malaikat tidak
dapat merubah peringkat atau pangkat yang ditetapkan kepada mereka,
tetapi manusia boleh turun ke tempat atau peringkat yang paling bawah,
atau pun naik ke peringkat Malaikat. Inilah maksud “beban” yang
dimaksudkan itu. Kebanyakan manusia memilih tempat dalam dua peringkat
yang bawah seperti tersebut dahulu. Tempat yang tetap selalunya tidak
disukai oleh orang yang mengembara.
Kebanyakan mereka dalam
peringkat atau kelas yang bawah itu karena tidak ada kepercayaan yang
penuh dan tetap tentang hari Akhirat itu. Kata mereka, Neraka itu adalah
rekaan orang-orang Agama saja untuk menakut-nakutkan orang ramai, dan
mereka pandang hina terhadap orang-orang Agama. Untuk bertengkar dengan
mereka ini tidaklah berguna. Cukuplah bertanya kepada mereka demikian
untuk membuat mereka merenung sebentarnya,
“Adakah kamu anggap
124, 000 orang Nabi dan juga Aulia Allah itu semuanya percaya dengan
Hari Akhirat itu semuanya salah dan kamu itu saja yang betul?”.
Jika ia menjawab, “Ya, saya percaya sebagaimana percaya saya dua itu
lebih dari satu. Saya penuh yakin tidak ada Ruh dan tidak ada bahagia
dan hidup sengsara di Hari Akhirat”.
Maka orang seperti itu tidak ada harapan lagi. Biarkanlah mereka di situ. Kenanglah nasihat Al-Qur’an;
” Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan
dengan ayat-ayat dari Tuhannya lalu dia berpaling daripadanya dan
melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya
Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka
tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka,
dan kendati pun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka
tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya ” (Al-Kahfi:57)
Tetapi sekiranya orang itu berkata bahwa hidup di Akhirat itu adalah
satu kemungkinan tetapi doktrin(kepercayaan) itu penuh dengan keraguan
dan kesulitan. Maka tidaklah mungkin untuk membuat keputusan sama ada
hal itu betul atau tidak. Maka bolehlah dikatakan kepadanya,
“Lebih baik kamu fikirkan. Kalau kamu lapar hendak makan dan tiba-tiba
ada orang berkata kepadamu dalam makanan itu ada racun yang diludahkan
oleh seekor ular yang bisa. Kamu mungkin enggan memakan makanan itu dan
kamu rasa lebih baik tahankan saja lapar itu, meskipun orang yang
berkata itu mungkin berbohong atau melawak saja”.
Atau pun katalah kamu sedang sakit dan seorang pembuat Azimat berkata :
“Beri saya wang dan saya boleh tuliskan satu Azimat untuk kamu gantung pada leher dan Azimat itu akan menyembuhkan sakitmu”.
Mungkin kamu memberi orang itu wang untuk membuat Azimat itu dengan
harapan mendapat faedah dari Azimat itu. Atau jika seorang ahli Nujum
berkata :
“Apabila bulan masuk ke falak bintang yang tertentu, minumlah sekian-sekian obat, maka sembuhlah kamu”.
Meskipun tidak percaya dengan Ilmu Nujum, namun kamu mungkin mencobanya dengan harapan supaya disembuhkan.
Tidakkah kamu berfikir bahwa adalah lebih baik bergantung kepada
perkataan para Ambiya’, Auliya’ dan orang-orang Soleh itu tentang Hari
Akhirat itu lebih baik daripada percaya kepada penulis Azimat atau Ahli
Nujum?
Ada orang yang belayar dalam kapal menembus lautan yang
penuh ombak gelombang yang menelan manusia semata-mata dengan tujuan
untuk mendapat keuntungan yang sedikit, kenapa pula kamu tidak kamu
berkorban sedikit pun di dunia ini karena untuk kebahgiaan yang abadi di
Akhirat kelak?
Pernah Sayyidina Ali berkata kepada seorang
Kafir; ” Jika pendapat kamu betul, kedua kita akan merugilah di Akhirat
kelak, tetapi jika kami betul, maka terlepaslah kami dan kamulah yang
akan menderita”.
Beliau berkata demikian bukan karena beliau ragu-ragu, tetapi semata-mata untuk menyadarkan orang Kafir itu.
Dari apa yang kita baca di atas itu, maka tahulah kita bahwa tugas
utama hidup manusia di dunia ini ialah untuk membuat persediaan bagi
Akhirat. Walaupun seorang itu ragu kehidupan di Akhirat itu, Akal
mencadangkan supaya orang itu bertindak seolah-olah ianya ada,
memandangkan hal-hal besar yang akan ditempuh kelak. Selamat
sejahteralah mereka yang menurut ajaran Allah dan RasulNya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar